TUGAS BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAINNYA RABU 21 NOV 2012

Tugas kelp.Satu  kelp maks 3 orang.

Kirimkan tugas BLK di komentar blog ini  tugas paper  BLK dg tema : Strategi Pengembangan dan Tantangan Bank Syariah di Indonesia.MS Word spasi 1,5.Font arial narrow 12.Pastikan sumber web lengkap,jam akses.Sumber yg banyak harus diringkas.Hasil ringkasan diutamakan menggunakan bahasa sendiri.Tulisan sama tidak dinilai.Date line, 21 Nov pkl 00.00.Tulisan di blog akan muncul setelah saya setujui.Untuk itu, agar tugas yg lebih dulu masuk lebih berhak dinilai, maka print/tulis kelp anda,tema/judul dan  jam kirim ke blog.Kumpulkan di ruangan atau titip TU pada jam kerja.

15 responses to this post.

  1. Posted by Dwi Utari dan Helta Isnahaini on November 20, 2012 at 4:54 pm

    i
    PENGEMBANGAN DAN TANTANGAN BANK SYARIAH DI STRATEGI INDONESIA

    STRATEGI PENGEMBANGAN BANK SYARIAH
    1. Strategi Penerapan TRAF.
    Pengelolaan usaha bank syariah yang baik dan terpercaya melalui strategi dan penerapan prinsip-prinsip model “TRAF”, yaitu singkatan dari:
    • Transfarancy (kinerja dan kerterbukaan dalam manajemen dan operasional perbankan syariah),
    • Responsibility (pertanggungan jawaban dalam etika, peraturan hukum yang berlaku, serta pengelolaan dana, operasional teknis dan professional dalam layanan jasa perbankan),
    • Accountability (akuntabilitas, yaitu terciptanya sistem pengawasan dan prinsip-prinsip kehati-hatian yang efektif) dan,
    • Fairness (kejujuran, kepercayaan dan keadilan dalam pembagian hasil keuntungan, menjalankan usaha serta memberikan perlindungan terhadap hak-hak para nasabah).
    2. Bank konvensional atau bank umum nasional diperbolehkan membuka kantor cabang Bank Syariah.
    Terdapat kemungkinan perkembangan bank syariah di masa mendatang cukup positif, dan terbukti telah mendapat sambutan baik dari masyarakat pada umumnya, serta nasabah khususnya. Hal ini terlihat adanya beberapa bank-bank umum, baik milik pemerintah Strategi pengembangan Bank Syariah secara resmi diperkenalkan sejak tahun 1992, yaitu seiring dengan diberlakukan UU No.7 tahun 1992 dan kemudian disempurnakan melalui UU No. 10 tahun 1998 tentang reformasi peraturan perbankan, yang diinterpretasikan untuk memberikan peluang seluas-luasnya membuka usaha perbankan yang beroperasi dengan prinsip-prinsip bagi hasil (bank syariah). Perkembangan perbankan syariah yang hingga kini menunjukkan pertumbuhan cukup signifikan walaupun populasinya tidak sebesar bank-bank umum konvensional lainnya.
    Seperti contoh, strategi perkembangan model perbankan syariah pasca-reformasi atau mendatang, yaitu diperbolehkannya konversi cabang bank konvensional atau bank umum nasional yang kini telah banyak membuka kantor cabang Bank Syariah (catatan data per November 2000, menurut Antonio. 2001:27). Contoh strategi pengembangan bisnis perbankan syariah, adalah sebagai berikut:
    • Bank IFI, membuka cabang Syariah, pada 28 Juni 1999
    • Bank Susila Bakti
    • Bank Niaga
    • Bank BNI’46, telah membuka sedikitnya lima cabang Bank BNI Syariah
    • Bank BTN
    • Bank Mega, menkonversikan satu kantor cabangnya menjadi Bank Syariah
    • Bank BRI
    • Bank Bukopin
    • BPD Jabar, membuka cabang Syariah di Bandung
    • BPD Aceh Nanggroe Darussalam, telah menyiapkan peranti, perakatan, SDM dan pelaksanaan Bank Syariah secara menyeluruh sesuai dengan pelaksanaan Syariat Islam di daerah khusus otonomi yang diperluas.
    Pertumbuhan perbankan syariah sejak tahun 1998 dan hingga 2002, yaitu rata-rata sebesar 57,6 persen terjadi pertumbuhan yang signifikan atau cukup tinggi diatas perkembangan bank umum nasional mencapai sekitar 12,3 persen. Sedikitnya, kini telah terdapat dua bank umum syariah, yaitu Bank Mualat Indonesia (BMI) dan Bank Syariah Mandiri (BSM). Berdasarkan data laporan otoritas moneter atau BI (Bank Indonesia) menyebutkan bahwa jumlah perbankan syariah di Indonesia, yaitu dari 83 perusahaan perbankan yang terdiri dari bank umum, unit usaha dan BPR Syariah dan kini meningkat menjadi 91 perusahaan. Sedangkan jumlah kantor sekitar 203 buah yang tersebar di 29 kota, serta BPR Syariah terdapat 44 bank syariah di seluruh kota nusantara, dan nilai asetnya mencapai Rp 3,7 trilyun dan ditambah dengan dana pihak ketiga sebesar Rp 2,5 trilyun yang telah terhimpun.
    maupun swasta nasional yang kini berlomba-lomba untuk membuka (konversi) kantor cabang-cabangnya menjadi bank syariah dan termasuk membuka unit jasa keuangan komersial lainnya seperti layanan jasa reksa dana, anjak piutang (factoring), dana syariah, pasar modal dan obligasi syariah yang pada akhirnya memberikan peluang perkembangan positif tentang pendanaan, baik bersifat sosial ekonomi dalam memperdayakan perekonomian berbasis kerakyatan di berbagai daerah dan masyarakat Islami, maupun berdasarkan pengelolaan dan operasional perbankan syariah yang mengacu pada etika moral, teknis pelaksanaan dan mekanisme dengan konsep syariat Islam (Al-Quran, Hadis Rasullah dan Ijma para ulama/cendekiawan muslim).
    3. Pengembangan konsep dan pengelolaan operasional bank syariah secara sehat dan terpercaya, khususnya umat muslim yang mulai menerima secara sepenuhnya sebagai lembaga intermediasi perbankan syariah yang optimal melalui pemahaman dan dukungan, yaitu sebagai berikut:
    a. Struktur perbankan syariah, yaitu dapat mengakomodasi penghimpunan dana dan pembiayaan secara harmonis.
    b. Pengembangan jaringan bank syariah, menyediakan kemudahan akses layanan jasa bank syariah kepada masyarakat luas.
    c. komparatif’ atau selling point dari konsep bank syariah melalui bagi hasil.
    d. Prinsip bank-bank Islam.
    TANTANGAN BANK SYARIAH
    • Ketentuaan untuk mengatasi untuk mengatasi masalah pendanaan perbankan syariah belum terwujud.
    • Instrument moneter belum sesuai dengan prinsip-prinsip bagi hasil untuk keperluan operasional perbankan syariah.
    • Standarisasi akuntansi, audit, dan pelapor belum dibakukan
    • Peraturan mengenai prinsip kehati-hatian dan kepercayaan pada sistem perbankan dengan model syariah belum tersedia.
    • Ketentuan tersebut diatas diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan bank syariah di masa mendatang pada era pasar bebas, terbuka dan bekompetisi secara sehat serta terpercaya, dengan komponen utama dalam sistem moneter yang dapat memberikan kemudahan untuk menjalankan, baik secara fungsi dan operasional, maupun perangkat peraturan perundang-undangan perbankan nasional yang baru untuk mendukung perkembangan perbankan syariah, serta mampu berkompetisi dengan bank-bank konvensional lainnya.
    1. syariah yang kaitannya dengan kehidupan masyarakat, dan tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan.
    2. Mengembalikan masyarakat pada fitrah alam dan fitrah usaha berdasarkan syariah Islam, bahwa selama ini adanya liberalisasi perbankan yang berorientasi komersialiasi dan pemberian bunga bank adalah bertentangan dengan ajaran (syariat) Islam
    3. Meluruskan fitrah bisnis melalui ungkapan berlandaskan falsafah Machiaveli, bahwa ‘cari duit secara harampun susah, apalagi secara halal akan lebih sulit lagi.’ Tidak demikian dalam menjalankan sistem bank syariah yang berpatokan pada ajaran keagamaan berdasarkan Al-Quran, Hadis dan Ijma.
    4. Membantu memperbaiki perekonomian yang dilanda krisis multidimensional melalui kehadiran bank syariah. Berbeda dengan bank ribawi (konvensional), bahwa pelaksnaan bank syariah tidak mengenal spread, yakni memperoleh keuntungan tersebut melalui model bagi hasil (syariah) yang terpercaya dan halal antara bank dan nasabahnya. Artinya menginformasikan kepada masyarakat, terdapat keungulan tertentu pada produk muamalah maaliyah yang dikelola oleh bank syariah.
    KESIMPULAN
    Bank Syariah dalam mengembangkan usahanya harus selalu melalui prinsip-prinsip TRAF yang senantiasa di terapkan. Bank konvensional juga dapat mengembangkan usahanya dengan strategi membuka cabang Bank Syariah. Dengan pengelolaan yang dapat dipercaya Bank syariah dipastikan dapat terus berkembang dan bersaing dengan Bank-bank lain di Indonesia. Tantangan-tantangan yang ada di Bank Syariah dapat diatasi dengan pengembangan yang mutahir yang dilakukan Bank Syariah.
    http://rosadyruslan-humas.blogspot.com/
    http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2009/08/03/strategi-pengembangan-perbankan-syariah-mendatang
    ( 20 November 2012 Jam 07.10)
    http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2009/08/03/strategi-pengembangan-perbankan-syariah-mendatang/
    ( 20 November 2012 Jam 22.36 )
    Kelompok :
    Dwi Utari 1002040002
    Helta Isnahaini 1002040004
    Akuntansi D3/V

  2. TUGAS BLK
    RABU , 21 NOVEMBER 2012-11-21
    KELAS MANAJEMEN (B) / III
    ANGGOTA KELOMPOK :
    1. ERNINDYA PRANANINGRUM R 1102010028
    2. NITA SHINTYA 1102010034
    3. RIYANTI 1102010116

    TEMA : Strategi Pengembangan dan Tantangan Bank Syariah di Indonesia

    Empat Strategi Khusus Bank Syariah Meningkatkan Daya Saing di Era Globalisasi
    Bank syariah di Indonesia ke depannya harus bisa memilki kekuatan tersendiri dalam menarik nasabah Indonesia dan masyarakat dunia, baik dari segi produk yang inovatif, profit margin kepada nasabah maupun bagi hasil yang bersaing. Untuk itulah, salah satu upaya bersaing dengan bank asing perlu adanya strategi-strategi khusus bank syariah Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan nantinya pangsa pasar akan lebih luas tidak hanya berkutat pada penduduk Indonesia yang mayoritas muslim.
    Penulis merangkum dan membuat empat strategi khusus bank syariah untuk meningkatkan daya saing di era globalisasi. Adapun empat strategi khusus tersebut adalah sebagai berikut.
    1. Membentuk SDI Berkualitas
    Hal ini merupakan peluang yang sangat prospektif, sekaligus merupakan tantangan bagi kalangan akademisi dan dunia pendidikan untuk menyiapkan Sumber Daya Insani (SDI) yang berkualitas yang ahli di bidang ekonomi syari’ah, bukan karbitan seperti yang banyak terjadi selama ini. Tingginya kebutuhan SDI bank syari’ah ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi syariah semakin dibutuhkan oleh masyarakat karena Sumber Daya Insani menjadi aset terpenting dalam dunia industri manapun termasuk perbankan syariah.
    Peningkatan kuantitas jumlah bank syari’ah yang cepat tersebut, tanpa diiringi dengan peningkatan kualitas SDI syari’ah, hanya akan bersifat fatamorgana dan artifisial. Hal ini ini perlu diperhatikan dalam pengembangan bank syariah. Selama ini praktisi perbankan syari’ah didominasi mantan praktisi perbankan konvensional yang hijrah kepada bank syari’ah atau berasal dari alumni perguruan tinggi umum yang berlatar belakang ekonomi konvensional. Umumnya mereka biasanya hanya diberi training singkat (2 minggu) mengenai ekonomi syari’ah atau asuransi syari’ah lalu diterjunkan langsung sebagai praktisi ekonomi syari’ah. Selanjutnya, sebagian mereka mengikuti training MODP selama satu bulan. Seringkali training seperti ini kurang memadai, karena yang perlu di-upgrade bukan hanya knowledge semata, tetapi juga paradigma syari’ah, visi dan missi, serta kepribadian syari’ah, bahkan sampai kepada membangun militansi syariah.
    Selain itu, materi ekonomi syari’ah tidak mungkin bisa dipelajari hanya dalam waktu 2 minggu atau 2 bulan. SDM bank syariah haruslah SDM yang multi dimensi, yang memiliki kompetensi lintas keilmuan. Ia harus memiliki kompetensi sebagai seorang ahli investasi, sekaligus ahli keuangan dan perbankan, beretika, serta memahami sharia compliancy. Pemenuhan SDM dengan kompetensi lengkap seperti ini harus dilakukan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, melalui proses rekruitmen dan pelatihan.
    2. Ekspansi Segmen Pasar Bank Syariah
    Disadari atau tidak, segmentasi pasar perbankan syariah di Indonesia masih terfokus kepada masyarakat muslim saja. Padahal universalitas ekonomi Islam tidak hanya sebatas masyarakat muslim saja. Hal yang paling penting adalah bahwa perbankan syariah bukan hanya diperuntukkan bagi masyarakat muslim saja, tetapi non-muslim pun bisa menikmatinya. Apabila masyarakat non-muslim ingin menikmati layanan perbankan syariah, maka perlu diatur secara jelas teknis transaksinya (ijab-qabul) yang disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut oleh pribadi konsumen. Belajar dari negara barat, bahwa sistem ekonomi Syariah, atau adakalanya disebut “ekonomi Islam”, semakin populer bukan hanya di negara-negara Islam tapi bahkan juga di negara-negara barat. Ini ditandai dengan makin banyaknya beroperasi bank-bank yang menerapkan konsep syari’ah. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam perekonomian bisa diterima di berbagai kalangan, karena sifatnya yang universal dan tidak eksklusif. Jika pangsa pasar non-muslim di garap, maka besar kemungkinan bank syariah memilki bargaining power yang bagus sehingga bukan hanya 78% saja target pangsa pasar bank syariah akan tetapi menjadi 100% dari total keseluruhan masyarakat Indonesia.
    3. Akselerasi Produk Perbankan Syariah
    Keberagaman produk dan jasa sebagai ciri khas bank syariah. Bank syariah perlu terus melakukan inovasi produk dan dapat mengeksplorasi kekayaan skema keuangan yang variatif dan sekaligus bisa menunjukkan perbedaan dengan perbankan konvensional. Beberapa inisiatif yang dapat dilakukan oleh bank syariah, misalnya melalui mirroring produk dan jasa bank syariah internasional serta mendorong bank syariah milik asing untuk membawa produk-produk yang sukses di luar negeri ke Indonesia. Program ini menjadi keharusan agar keunikan perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional lebih terlihat jelas.
    4. Penggunaan sistem IT modern
    Dukungan sistem IT yang modern sangat mendukung peningkatan daya saing bank syariah secara nasional. Kebanyakan nasabah memilih bank karena adanya kemudahan bertransaksi, misalkan adanya ATM yang tersebar di seluruh Indonesia. Akan tetapi, sistem IT memilki investasi yang tinggi sehingga bank syariah yang asetnya masih tidak terlalu besar perlu menyiasatinya dengan cepat. Bebarapa cara yang efektif untuk menyiasati hal itu adalah sebagai berikut.
    a) Local content. Dunia TI di Indonesia dipenuhi dengan berbagai local genius yang seharusnya mampu menciptakan solusi sistem yang murah dan handal. Tidak ada sistem TI yang sempurna, namun dukungan teknis lokal tentu akan lebih mudah dan murah dalam proses penyempurnaannya.
    b) Fokus. Sangat ideal jika vendor yang dipilih fokus pada pada pengembangan teknologi perbankan syariah.
    c) Sinergi. Jika vendor yang menyiapkan sistem TI syariah memiliki komitmen bukan hanya pada sistem TI-nya namun juga pada perkembangan bisnis perbankan syariah, maka tentunya vendor dan pelaku bisnis perbankan dapat saling berjalan bersama memacu pertumbuhan bisnis syariah di Indonesia.
    d) Added Value. Vendor yang memiliki komitmen pada perkembangan bisnis perbankan syariah umumnya memiliki beberapa produk nilai tambah yang dapat menjadi faktor pendukung bagi layanan perbankan syariah yang lebih baik saat ini dan di masa depan.
    Jika hal di atas dapat ditemukan, maka pengembangan sistem TI perbankan syariah tidak selalu harus mahal. Hal yang terpenting adalah ukhuwah dan kerja sama mencapai tingkat layanan yang lebih baik untuk perbankan syariah. Tentu saja, pada akhirnya, semua ini sangat tergantung niatan baik dari pelaku bisnis perbankan syariah untuk dapat bahu-membahu mengembangkan sistem TI perbankan syariah yang ideal bersama-sama dengan vendor sistem TI perbankan syariah.
    Sumber web : http://mahendradicky.blogspot.com/2012/01/empat-strategi-khusus-bank-syariah.html
    Pukul : 0:40
    Tantangan Bank Syariah di Indonesia Kini
    Tiga puluh tahun silam, bank syariah sama sekali belum dikenal. Kini sistem perbankan dan keuangan Islam telah beroperasi di lebih dari 55 negara yang pasarnya sedang bangkit dan berkembang. Bahkan beberapa lembaga keuangan Islam beroperasi di 13 lokasi lain, yaitu Australia, Bahama, Kanada, Kepulauan Cayman, Denmark, Guernsey, Jersey, Irlandia, Luxemburg, Swiss, Inggris, Amerika Serikat, dan Kepulauan Virginia (Algoud dan Lewis, 2001). Di Pakistan, Iran, dan Sudan semua bank harus beroperasi sesuai dengan prinsip keuangan Islam.
    Bagaimana di Indonesia? Di Indonesia, bank syariah beroperasi berdampingan dengan bank konvensional meski dengan skala yang sangat terbatas. Di Indonesia telah berdiri berbagai lembaga keuangan syariah yang terdiri dari 6 Bank Umum Syariah (BUS), 25 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 139 BPR Syariah (Islamic Banking Statistic Bank Indonesia November 2009)
    Lalu pertanyaannya, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia?
    Yang pertama adalah kurangnya SDM di bidang syariah. Bahkan, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Siti Chalimah Fadrijah sempat menyebutkan, salah satu kunci tumbuh berkembangnya perbankan syariah adalah SDM. BI hingga kini terus berupaya mendorong peningkatan SDM agar industri perbankan syariah dapat berkembang lebih pesat. Lebih lanjut, Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad mengatakan, saat ini bankir di perbankan syariah mencapai sekitar 15.000 bankir. Namun, kebutuhan saat ini mencapai lebih dari 20.000 bankir.
    Yang kedua adalah kurangnya komitmen SDM di perbankan syariah sendiri untuk turut serta memajukan ekonomi Islam khususnya perbankan syariah. Contoh riil nya adalah berapa banyak dalam satu kelas mata kuliah perbankan syariah mahasiswa yang menjadi nasabah/memiliki rekening di bank syariah. Bahkan konon menurut kesaksian salah satu pejabat Bank Indonesia, ketika para petinggi Bank Indonesia direktorat syariah mendapat fasilitas soft loan untuk tunjangan keluarga (pendidikan, kesehatan dsb), mereka justru memilih soft loan dari bank konvensional, padahal mereka mempunyai pilihan untuk memilih pembiayaan dari bank syariah.
    Yang ketiga, menurut anggota DPR RI dari Fraksi PKS Periode 2004-2009, Dr. Nursanita Nasution, ME, yaitu kurangnya pemahaman anggota DPR seputar ekonomi syariah, sehingga membuat proses pembahasan Rancangan Undang-Undang Perbankan Syariah berjalan lamban. Pembahasan sering kali terjebak pada istilah-istilah perbankan syariah dan melupakan substansi persoalan yang sifatnya lebih mendasar. ”RUU Perbankan Syariah sudah mulai dibahas sejak tahun 2005 dan sampai sekarang belum selesai. Sebenarnya tidak ada pertentangan ideologi dalam menyelesaikan peraturan tersebut. Kelambanan lebih disebabkan ketidakpahaman anggota DPR tentang konsep ekonomi Islam. Akibatnya, pembahasan selalu diwarnai perdebatan yang tidak esensial”(http://nursanitanasution.blogspot.com/). Terlebih dana dari Timur Tengah sedang membanjiri pasar modal negara-negara Asia maupun Amerika. Jika kita memiliki undang-undang yang mampu mengakomodasi kepentingan investor Timur-Tengah, tentunya negara kita sendiri yang akan diuntungkan. Apalagi mayoritas penduduk kita juga Muslim sehingga produk SBSN akan lebih mudah diterima.
    Yang keempat, kurangnya sosialisasi mengenai produk-produk perbankan syariah. Seharusnya Bank Indonesia sebagai otoritas tertinggi perbankan di Indonesia melakukan sosialisasi atau edukasi mengenai apa itu bank syariah dan produk-produknya, agar masyarakat tidak terjebak pada pemikiran bahwa perbankan syariah dan konvensional itu sama saja, hanya berbeda sistemnya, atau bahwa bank syariah hanya untuk orang Islam saja. Satu hal yang cukup menarik yaitu bahwa dana sosialisasi produk-produk bank syariah ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan dana sosialisasi untuk iklan pengenalan uang baru/iklan sosialisasi perbedaan uang asli dan palsu.
    Lalu hambatan yang selanjutnya adalah masih adanya sistem perundangan yang kurang berpihak pada nasabah syariah. Contohnya adalah pengenaan pajak berganda dalam transaksi akad murabahah (jual-beli). Ketentuan PPN atas murabahah menjadi polemik karena dalam PBI No. 6/17/2004, produk ini merupakan pembiayaan perbankan berprinsip jual beli yang berada di negative list (tak kena pajak). Namun, dalam praktiknya petugas Ditjen Pajak tetap menagih PPN dengan mengacu SK Ditjen Pajak No. 243 dan No.271 tanggal 4 September 2003, yang menetapkan murabahah menjadi produk kena pajak. Pasalnya, ketentuan penghapusan itu belum disahkan karena masuk dalam paket RUU.

    Sumber web : http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2010/01/04/tantangan-bank-syariah-di-indonesia-kini/
    Pukul 0:37

  3. Posted by Suci Trias Woro on November 21, 2012 at 5:28 am

    Nama Kelompok :
    1. Suci Trias Woro 1002040001
    2. Donny Adiputra 1002040006
    3. Sedyo Ayu Pamungkas 1002040005

    PERKEMBANGAN DAN PROSPEK PERBANKAN SYARIAH INDONESIA

    Pengembangan keuangan syariah di Indonesia yang lebih bersifat market driven dan dorongan bottom up dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga lebih bertumpu pada sektor riil juga menjadi keunggulan tersendiri.
    Berbeda dengan perkembangan keuangan syariah di Iran, Malaysia, dan Arab Saudi, dimana perkembangan keuangan syariahnya lebih bertumpu pada sektor keuangan, bukan sektor riil, dan peranan pemerintah sangat dominan. Selain dalam bentuk dukungan regulasi, penempatan dana pemerintah dan perusahaan milik negara pada lembaga keuangan syariah membuat total asetnya meningkat signifikan, terlebih ketika negaranegara tersebut menikmati windfall profit dari kenaikan harga minyak dan komoditas.
    Selaku regulator, Bank Indonesia memberikan perhatian yang serius dan bersungguh-sungguh dalam mendorong perkembangan perbankan syariah. Semangat ini dilandasi oleh keyakinan bahwa perbankan syariah akan membawa ‘maslahat’ bagi peningkatan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Pertama, bank syariah lebih dekat dengan sektor riil karena produk yang ditawarkan, khususnya dalam pembiayaan, senantiasa menggunakan underlying transaksi di sektor riil sehingga dampaknya lebih nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kedua, tidak terdapat produk-produk yang bersifat spekulatif (gharar) sehingga mempunyai daya tahan yang kuat dan teruji ketangguhannya dari direct hit krisis keuangan global. Secara makro, perbankan syariah dapat memberikan daya dukung terhadap terciptanya stabilitas sistem keuangan dan perekonomian nasional. Ketiga, sistem bagi hasil (profit-loss sharing) yang menjadi ruh perbankan syariah akan membawa manfaat yang lebih adil bagi semua pihak, baik bagi pemilik dana selaku deposan, pengusaha selaku debitur maupun pihak bank selaku pengelola dana.
    Tantangan Pengembangan Perbankan Syariah
    Di tengah perkembangan industri perbankan syariah yang pesat tersebut, perlu disadari masih adanya beberapa tantangan yang harus diselesaikan agar perbankan syariah dapat meningkatkan kualitas pertumbuhannya dan mempertahankan akselerasinya secara berkesinambungan. Tantangan yang harus diselesaikan dalam jangka pendek (immediate) antara lain:

    1. Pemenuhan gap sumber daya insani (SDI), baik secara kuantitas maupun kualitas. Ekspansi perbankan syariah yang tinggi ternyata tidak diikuti oleh penyediaan SDI secara memadai sehingga secara akumulasi diperkirakan menimbulkan gap mencapai 20.000 orang. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya lembaga pendidikan (khususnya perguruan tinggi) yang membuka program studi keuangan syariah. Selain itu, kurikulum pendidikan maupun materi pelatihan di bidang keuangan syariah juga belum terstandarisasi dengan baik untuk mempertahankan kualitas lulusannya. Untuk itu perlu dukungan kalangan akademis termasuk Kementrian Pendidikan untuk mendorong pembukaan program studi keuangan syariah. Industri perbankan syariah secara bersama-sama juga dapat melakukan penelitian untuk mengidentifikasi jenis keahlian yang dibutuhkan sehingga dapat dilakukan ‘link and match’ dengan dunia pendidikan.
    2. Inovasi pengembangan produk dan layanan perbankan syariah yang kompetitif dan berbasis kekhususan kebutuhan masyarakat. Kompetisi di industri perbankan sudah sangat ketat sehingga bank syariah tidak dapat lagi sekedar mengandalkan produk-produk standar untuk menarik nasabah. Pengembangan produk dan layanan perbankan syariah tidak boleh hanya sekedar ‘mengimitasi’ produk perbankan konvensional. Bank syariah harus berinovasi untuk menciptakan produk dan layanan yang mengedepankan uniqueness dari prinsip syariah dan kebutuhan nyata dari masyarakat. Namun disadari bahwa lifecycle dari suatu inovasi produk dan layanan perbankan syariah sangat pendek karena dengan mudah dan segera dapat ditiru oleh bank-bank lainnya sehingga mengurangi minat bank untuk berinovasi. Untuk itu, perlu dibentuk semacam working group yang beranggotakan praktisi perbankan syariah untuk memikirkan secara bersama-sama inovasi produk yang dapat dikembangkan. Mekanisme lain yang dapat diambil untuk mendorong inovasi produk dan layanan adalah memberikan patent selama beberapa tahun agar tidak ditiru oleh bank yang lain.
    3. Kelangsungan program sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Kegiatan untuk menggugah ketertarikan dan minat masyarakat untuk memanfaatkan produk dan layanan perbankan syariah harus terus dilakukan. Namun disadari bahwa kegiatan ini merupakan cost center bagi bank syariah. Selama ini kegiatan sosialisasi dan edukasi perbankan syariah didukung oleh Bank Indonesia melalui program ‘iB Campaign’ baik melalui media masa (iklan layanan masyarakat), syariah expo, penyelenggaraan workshop/seminar, dsb. Peran Bank Indonesia dalam hal ini akan berkurang seiring dengan pengalihan kewenangan pengaturan dan pengawasan sektor perbankan (termasuk perbankan syariah) kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk itu, industri perbankan syariah perlu meningkatkan ‘kemandirian’, baik dalam hal formulasi program maupun pembiayaannya sehingga program ‘iB Campaign’ dapat terus berlangsung secara berkelanjutan.
    Sementara tantangan yang harus diselesaikan dalam jangka panjang antara lain:
    1. Perlunya kerangka hukum yang mampu menyelesaikan permasalahan keuangan syariah secara komprehensif. Sistem keuangan syariah secara karakteristik berbeda dengan sistem keuangan konvensional, terdapat beberapa kekhususan yang tidak dapat dipersamakan sehingga penggunaan kerangka hukum konvensional menjadi kurang memadai. Penyelesaian perselisihan transaksi syariah juga dapat menggunakan jalur pengadilan agama, namun tatanan peradilan agama untuk dapat menyelesaikan transaksi keuangan juga dinilai belum memadai. Penyelesaian perselisihan transaksi keuangan syariah dengan menggunakan ‘hukum fiqh’ masih dapat menimbulkan perbedaan interpretasi karena perbedaan mazhab (lack of convergence of sharia interpretation). Untuk itu, perlu semacam kompilasi hukum ekonomi/keuangan islam yang disepakati bersama untuk dijadikan rujukan dan disahkan oleh negara. Upaya penyempurnaan kerangka hukum ini juga perlu dilakukan dalam skala global untuk menyelesaikan perselisihan yang mungkin terjadi dalam transaksi keuangan syariah antar negara. Penyempurnaan kerangka hukum akan memberikan suasana yang kondusif bagi pengembangan keuangan syariah, baik secara nasional maupun global.
    2. Perlunya kodifikasi produk dan standar regulasi yang bersifat nasional dan global untuk menjembatani perbedaan dalam ‘fiqh muammalah’. Jika kita perhatikan secara jeli dalam pengembangan keuangan syariah di beberapa negara, kita dapat melihat adanya perbedaan yang nyata dalam pemahaman ‘fiqh muammalah’. Di satu sisi terdapat negara yang terlalu berhati-hati (konservatif), namun di sisi lain terdapat negara yang terlalu longgar (liberal) dalam aplikasi ‘fiqh muammalah’ tersebut sehingga peluang akan terjadinya perbedaan dan perselisihan sangat terbuka. Walaupun perbedaan pendapat diperbolehkan dan dianggap sebagai rahmat dalam pandangan Islam, namun perbedaan tersebut jika terkait dengan transaksi keuangan akan menimbulkan risiko.
    3. Perlunya referensi nilai imbal hasil (rate of return) bagi keuangan syariah. Nilai imbal hasil yang dibagikan (sharing) dalam sistem keuangan syariah, termasuk perbankan syariah, hendaknya merupakan hasil yang nyata dari aktivitas bisnis. Sayangnya, referensi nilai imbal hasil tersebut belum tersedia sehingga institusi keuangan syariah seringkali melakukan penyetaraan dengan suku bunga dalam sistem konvensional. Selain bersifat kurang adil, perilaku ini dapat menimbulkan risiko reputasi bagi sistem keuangan syariah karena tidak ada perbedaan yang hakiki dengan sistem konvensional. Bank Indonesia telah mulai melakukan kajian mengenai referensi nilai imbal hasil untuk sektor pertanian dan pertambangan, dan masih terus disempurnakan validitasnya. Untuk itu, perlu dukungan dan peran serta dari kalangan akademisi dan asosiasi para pakar seperti IAEI untuk melakukan kajian lebih lanjut dan komprehensif mengenai hal ini.

    Sumber :.
    http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/91B56449-C5EA-4B6C-B03E-600863889853/25987/PerkembanganProspekPerbankanSyariahIndonesiaMEA201.pdf
    jam acses: Selasa, 20 November 2012 pukul 15.38 wib.

  4. Nama kelompok :
    Manajemen B
    1. Dewi Yuniati 1102010088
    2. Apriasih 1102010046
    3. Yeti Apriliyani 1102010072
    Tema : Strategi dan Masalah dalam Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia

    PERKEMBANGAN, PELUANG, DAN TANTANGAN PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA
    Pembicara: Yuslam Fauzi, MBA – Presiden Direktur BSM

    Perbankan syariah Indonesia telah tumbuh pesat dengan kinerja yang baik. Menghadapi perkembangan kedepan, bank syariah memiliki berbagai kekuatan sebagai modal dasar, antara lain: 1) Industri perbankan dan keuangan syariah yang tumbuh pesat; 2) fungsi intermediasi yang lebih baik; dan 3) halal, lebih adil, dan tayyib (menguntungkan dan lebih stabil).
    Peluang pasar yang ada, antara lain: 1) potensi pasar yang lebih besar dari bank konvensional; dan 2) memberi produk dan jasa layanan yang lebih luas. Selain itu juga ada peluang perkembangan sosial yang mengarahkan minat mereka terhadap bank syariah lebih kepada pertimbangan nilai (value atau esensi) dari pada pertimbangan legal-formal (halal-haram).
    Sementara itu, bank syariah memiliki tantangan dalam pengembangan, antara lain: 1) Tantangan struktur pendanaan, yang terkonsentrasi pada deposito dan tabungan (bank syariah 87%, bank konvensional 73%), sehingga biaya dana ‘lebih mahal’ dibanding bank konvensional; 2) Tantangan struktur pembiayaan, yang masih didominasi oleh pembiayaan berpola jual beli (murabahah) dari pada berpola bagi hasil (mudharabah/musyarakah), yang membuat bank syariah meninggalkan ciri aslinya; 3) Tantangan internal, dari kecenderungan nasabah dari ‘emosional’ ke ‘rasional’ yang menyebabkan dana simpanan semakin mahal, dari cakupan wilayah dan TI yang yang masih terbatas, dari kesulitan memperoleh debitur baik karena banyaknya alternatif financing, dari keterbatasan CAR untuk memenuhi standar API, dan dari keterbatasan kompetensi SDM; dan 4) Tantangan eksternal, dari peningkatan kompetisi, dari kebijakan yang belum mendukung, dan dari instrumen keuangan yang masih terbatas.
    Dengan memperhatikan hal-hal di atas, maka agenda bank syariah ke depan adalah:
    1. Peningkatan modal dengan berbagai strategi;
    2. Standardisasi operasional setiap transaksi;
    3. Peningkatan efisiensi jasa;
    4. Peningkatan kepuasan nasabah;
    5. Ekspansi dan diversifikasi produk; dan
    6. Rekayasa keuangan yang kuat namun tetap memenuhi kaidah Syariah.
    Selain itu, agenda lainnya adalah menyambut disintermediasi pasar keuangan (pergeseran orientasi dari bank konvensional ke pasar modal) dengan berperan sebagai investment banking.
    Menghadapi kondisi yang ada, perbankan syariah membutuhkan dukungan otoritas moneter dalam:
    1. Kestabilan kondisi moneter;
    2. Ketersediaan instrumen moneter syariah;
    3. Percepatan pembahasan RUU Perbankan Syariah; dan
    4. Kebijakan yang mendukung.

    Sumber : jaharuddin.blogspot.com
    pukul : 12.05 WIB

    Tantangan dalam Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia

    Pertumbuhan dan perkembangan lembaga Perbankan Syariah di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Dimulai dengan beroperasinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992 sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia. Menurut data BI sampai dengan bulan Juni 2009, Bank Umum Syariah telah mencapai 5 unit, sedangkan Unit Usaha Syariah 25 unit dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah 133.
    Penyebaran jaringan kantor Perbankan Syariah memgalami pertumbuhan yang signifikan. Jika pada tahun 2007 jumlah jaringan kantor hanya 782 kantor, sampai Juni 2009 jumlah tersebut menjadi 1107. Dengan demikian jaringan kantor tumbuh 42 % dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Dalam kurun waktu itu pula jumlah rekening Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah meningkat sebanyak 56%.
    Delapan belas tahun sudah Perbankan Syariah hidup dan berkembang di Indonesia. Tidak sedikit hambatan yang telah dihadapi dalam mengembangkan Perbankan Syariah ini. Dari sisi hukum, dengan diberlakukannya UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan telah memberikan peluang didirikannya Bank Syariah. Namun perkembangan Bank Syariah, dipandang dan sisi jumlah jaringan kantor dan volume kegiatan usaha saat itu, masih belum memuaskan.
    Oleh karena itu, pemerintah mempunyai keinginan untuk lebih mendorong perkembangan Bank Syariah di Indonesia dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 10 Tahun 1998. Melalui undang-undang ini Perbankan Syariah telah mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk menyelenggarakan kegiatan usaha termasuk pemberian kesempatan kepada bank konvensional untuk membuka kantor cabang yang khusus melaksanakan kegiatan berdasarkan prinsip syariah. Kemudian dengan diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, maka pengembangan industri Perbankan Syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Secara hukum dan peraturan nampak bahwa pemerintah telah cukup memberikan ruang untuk berkembangnya Perbankan Syariah di Indonesia.
    Akan tetapi seiring dengan berkembangnya Perbankan Syariah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari Perbankan Syariah itu pula. Meskipun Bank Syariah memiliki beberapa keunggulan. Sampai saat ini masih ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki dalam Perbankan Syariah sebagai wujud bank yang menerapkan prinsip-prinsip Islam dan memberikan manfaat pada masyarakat. Aspek-aspek tersebut antaralain:
    1.) Sistem Teknologi Informasi (TI)
    Implementasi prinsip-prinsip Islam dalam Bank Syariah tidak hanya cukup pada labelnya saja “Bank Syariah”, namun justru sampai ke inti bisnis prosesnya. Tiap transaksi dalam Perbankan Syariah berdasarkan atas adanya akad yang mempengaruhi model transaksinya. Proses bisnis ini harus didukung oleh sistem Teknologi Informasi (TI) yang memadai dalam perbankan. Oleh karena itu, implikasi sistem TI syariah haruslah benar-benar menyeluruh sampai ke inti prosesnya, mulai dari tata cara transaksi dengan akad sampai pembukuan. Dengan demikian diperlukan sitem TI yang dapat menjamin bisnis proses dalam Bank Syariah sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
    Merupakan salah satu keunggulan Bank Syariah ialah jenis produk yang lebih beragam dan skema keuangan yang lebih bervariasi. Hal ini otomatis akan berpengaruh pada bisnis prosesnya. Jika di dalam sistem TI bank konvensional biasanya mengenal hanya dua sampai tiga bisnis proses di pinjaman (yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk derivatifnya), maka di dalam sistem TI Bank Syariah bisa jadi mengenal lebih dari 10 jenis bisnis proses di pembiayaan. Artinya sistem TI syariah yang baik seharusnya merupakan proses re-engineering TI perbankan mulai dari dasar. Selain itu juga diperlukan sistem TI yang dapat mendukung munculnya inovasi akad dan skema-skema transaksi yang baru.
    2.) Pelayanan
    Kepuasan pelanggan adalah kunci sukses dalam bisnis jasa seperti Perbankan Syariah. Tentu tujuan ini dapat dicapai salah satunya dengan dengan pelayanan prima (service excellent) yang dilakukan pada bank-Bank Syariah. Konsep utama dalam pelayanan prima ini adalah bagaimana nasabah merasa nyaman dan mudah dalam tiap proses menikmati produk-produk Bank Syariah tersebut. Sebenarnya konsep ini termasuk etika muslim yang sudah disampaikan Rasullullah SAW dalam sabdanya: “Siapa saja yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya baik di dunia maupun di akhirat”(HR.Muslim).
    Sudah terbilang 10 tahun saya setia sebagai nasabah Bank Syariah. Akan tetapi sampai saat ini saya tetap merasakan kurangnya pelayanan dari Bank Syariah. Masalah yang saya sering temui ialah pelayanan kepada nasabah di kantor bank. Saya rasa tidak ada standarisasi pelayanan antar kantor di Bank Syariah yang sama. Misalnya di satu cabang ketika saya masuk lalu diberikan nomor antrian, tetapi ketika masuk cabang lain tidak ada nomor antrian, malah lebih lagi tidak ada tempat duduk untuk menunggu giliran, padahal itu dalam bank yang sama. Contoh lainnya, saya biasa ke bank pada jam istirahat 11.30-13.00 dan bank tersebut tetap dapat melayani nasabah. Tetapi pada suatu kesempatan saya tiba di bank cabang lainnya pada jam setengah dua belas lebih sedikit. Dan ketika saya masuk, “Maaf mas! Kami sedang isrirahat” itulah kurang lebih kata yang terucap dari salah satu staf bank tersebut sambil menutup setengah pintu dengan rolling door dan saya harus menunggu di luar. Kesal sekali rasanya.
    Seperti yang saya sudah utarakan diatas, harus ada standar kerja yang jelas antar cabangnya. Bagaimana tata letak ruang baik untuk kantor cabang, cabang pembantu, maupun kantor kas. Diatur juga alur kerja ketika nasabah masuk sampai nasabah keluar, bagaimana nasabah disapa oleh security sampai teller menyampaikan terimakasih. Dengan demikian nasabah merasakan atmosfir yang sama ketika masuk salah satu cabang bank dengan cabang lainnya. Jadinya nasabah merasa nyaman untuk ke pergi ke bank cabang manapun tanpa ada preferensi untuk hanya pergi ke salah satu cabang tersebut dengan alasan kurangnya pelayanan.
    Masalah lainnya ialah akses dalam memperoleh layanan Bank Syariah yang masih minim. Memang saat ini Bank Syariah sudah memiliki akses ke jaringan-jaringan ATM yang sudah banyak menyebar. Di samping itu kantor Bank Syariah juga terus meningkat. Apalagi inovasi yang dilakukan salah satu Bank Syariah dengan menggandeng kantor pos sebagai mitranya telah mengurangi kendala akses Bank Syariah. Akan tetapi keinginan konsumen semakin meningkat. Tidak hanya lebih mudah, tetapi ingin lebih cepat dan lebih efisien, apalagi bagi kalangan tertentu yang selalu melakukan transaksi melalui bank seperti para pebisnis. Oleh karena itu layaknya Bank Syariah dapat melayani nasabah dengan layanan mobile banking dan internet banking. Walaupun saat ini sudah ada beberapa Bank Syariah yang memiliki layanan itu, tetapi masih perlu ditingkatkan keamanan dan kestabilan layanan tersebut. Dengan demikian nasabah semakin mudah untuk melakukan transaksi dengan nasabah lainnya.
    3.) Sumber Daya Insani (SDI)
    Pertumbuhan Perbankan Syariah yang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir menimbulkan ledakan permintaan akan SDI di sektor bisnis ini. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad, pada pertemuan tahunan Asian Development Bank (ADB), bulan Juni lalu, saat ini bankir di Perbankan Syariah mencapai sekitar 15.000 bankir. Namun, kebutuhan saat ini mencapai lebih dari 20.000 bankir. Sehingga diperkirakan, hingga tahun depan kebutuhan akan bankir syariah bisa mencapai di atas 30.000 bankir.
    Kebutuhan SDI ini merupakan hal yang mendesak seiring berkembangnya industri Perbankan Syariah. Pada tahun 2009 ini diproyeksikan akan muncul delapan Bank Umum Syariah baru. Kemudian Bank Syariah tersebut melakukan ekspansi kantor cabang untuk mendorong pertumbuhan aset yang membuat kebutuhan SDI menjadi sesuatu yang tak dapat dihindari. Bahkan menurut prediksi Bank Indonesia kebutuhan SDI Perbankan Syariah hingga tahun 2011 mencapai 50.000-60.000 orang.
    Permintaan SDI Bank Syariah yang lebih besar dari tenaga kerja yang tersedia mengakibatkan kurangnya bankir yang memiliki kompetensi dalam Perbankan Syariah. Banyak yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik dalam menjalankan operasional Bank Syariah. Bahkan mereka tidak dapat menjelaskan kelebihan Bank Syariah daripada bank konvensional. Sehingga dapat menimbulkan kerancuan tersendiri pada nasabah untuk memahami konsep Bank Syariah. Imbasnya ialah pertumbuhan Bank Syariah akan terhambat dan akan ada aksi bajak-membajak karyawan antar Bank Syariah seperti yang sudak marak diperbincangkan saat ini.
    Oleh karena itu diperlukan strategi yang matang untuk memenuhi kebutuhan akan SDI Bank Syariah yang memadai dan memiliki kompetensi. Lembaga pendidikan berperan penting dalam mengatasi masalah SDI ini. Perlu dorongan bagi lembaga pendidikan untuk membuka jurusan ekonomi Islam untuk mencetak SDI yang berkualitas. Yaitu SDI yang dapat memiliki kemampuan untuk penguasaan keahlian secara konseptual dan teknikal, seperti dalam hal perbankan, keuangan, akuntansi, dan SDI. Selain itu, SDI Syariah sesungguhnya juga harus menguasai fiqih dengan baik dan menguasai produk development syariah.
    Pelatihan yang terbilang singkat belum cukup untuk mencipatakan SDI yang handal. Diperlukan pembinaan yang berkesinambungan diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam kepada tenaga kerja mengenai konsep dan produk Bank Syariah. Disamping itu sebagai bank yang mengusung nilai-nilai islam, diperlukan juga pembinaan spiritual kepada seluruh tenaga kerjanya. Pembinaan spiritual ini diharapkan dapat membentuk akhlak yang karim dalam kehidupan sehari-hari bagi seluruh karyawan Bank Syariah. Dengan demikian tiap individunya merupakan nilai lebih bagi citra Bank Syariah tersebut sehingga dapat menambah kepercayaan di mata masyarakat.
    Aspek-aspek tantangan pengembangan Perbankan Syariah diatas bukanlah harga mati yang dapat mematikan laju perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia. Petumbuhan bisnis Perbankan Syariah yang pesat pada lima tahun terakhir menjadi bukti potensi Perbankan Syariah di negeri ini. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang sinergis antara pemerintah dan pelaku bisnis perbakan syariah dalam mengatasi dan mecari solusi dari berbagai tantangan yang dihadapi. Selain itu juga diperlukan peran penting dari lembaga pendidikan, organisasi swadaya, serta para pemerhati ekonomi syariah untuk berpartisipasi mencurahkan pemikirannya bagi perkembangan Perbankan Syariah serta memberikan edukasi mengenai kosep Perbankan Syariah kepada masyarakat.

    Sumber : http://rhanu.web.id/tantangan-dalam-pengembangan-perbankan-syariah-di-indonesia/
    pukul : 12.10

    Ringkasan :

    Strategi dalam pengembangan Bank Syariah di Indonesia, yaitu :
    1. Peningkatan modal dengan berbagai strategi;
    2. Standardisasi operasional setiap transaksi;
    3. Peningkatan efisiensi jasa;
    4. Peningkatan kepuasan nasabah;
    5. Ekspansi dan diversifikasi produk; dan
    6. Rekayasa keuangan yang kuat namun tetap memenuhi kaidah Syariah.
    Selain itu, agenda lainnya adalah menyambut disintermediasi pasar keuangan (pergeseran orientasi dari bank konvensional ke pasar modal) dengan berperan sebagai investment banking.
    Tantangan dalam pengembangan Bank Syariah di Indonesia, sbb :
    1) Tantangan struktur pendanaan, yang terkonsentrasi pada deposito dan tabungan (bank syariah 87%, bank konvensional 73%), sehingga biaya dana ‘lebih mahal’ dibanding bank konvensional;
    2) 2) Tantangan struktur pembiayaan, yang masih didominasi oleh pembiayaan berpola jual beli (murabahah) dari pada berpola bagi hasil (mudharabah/musyarakah), yang membuat bank syariah meninggalkan ciri aslinya;
    3) 3) Tantangan internal, dari kecenderungan nasabah dari ‘emosional’ ke ‘rasional’ yang menyebabkan dana simpanan semakin mahal, dari cakupan wilayah dan TI yang yang masih terbatas, dari kesulitan memperoleh debitur baik karena banyaknya alternatif financing, dari keterbatasan CAR untuk memenuhi standar API, dan dari keterbatasan kompetensi SDM; dan
    4) 4) Tantangan eksternal, dari peningkatan kompetisi, dari kebijakan yang belum mendukung, dan dari instrumen keuangan yang masih terbatas.

    Dari tantangan-tantangan tersebut diatas masih ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki dalam Perbankan Syariah sebagai wujud bank yang menerapkan prinsip-prinsip Islam dan memberikan manfaat pada masyarakat. Aspek-aspek tersebut antaralain:
    1.) Sistem Teknologi Informasi (TI)
    2.) Pelayanan
    3.) Sumber Daya Insani (SDI)

  5. Posted by VIOLA AMDYA RIFQI(1102010030), MAHSUNATUN (1102010066), PUJI LESTARI (1102010110) on November 21, 2012 at 6:13 am

    TUGAS BLK
    STRATEGI PENGEMBANGAN DAN
    TANTANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA

    Disusun oleh :
    1) Viola AmdyaRifqi 1102010030
    2) Mahsunatun 1102030066
    3) Puji Lestari 1102010110

    FAKULTAS EKONOMI
    PROGRAM STUDI MANAJEMEN
    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
    2012

    TANTANGAN DALAM PENGEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH
    Pertumbuhan dan perkembangan lembaga Perbankan Syariah di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Dimulai dengan beroperasinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992 sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia. Menurut data BI sampai dengan bulan Juni 2009, Bank Umum Syariah telah mencapai 5 unit, sedangkan Unit Usaha Syariah 25 unit dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah 133.
    Penyebaran jaringan kantor Perbankan Syariah memgalami pertumbuhan yang signifikan. Jika pada tahun 2007 jumlah jaringan kantor hanya 782 kantor, sampai Juni 2009 jumlah tersebut menjadi 1107. Dengan demikian jaringan kantor tumbuh 42 % dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Dalam kurun waktu itu pula jumlah rekening Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah meningkat sebanyak 56%.
    Delapan belas tahun sudah Perbankan Syariah hidup dan berkembang di Indonesia. Tidak sedikit hambatan yang telah dihadapi dalam mengembangkan Perbankan Syariah ini. Dari sisi hukum, dengan diberlakukannya UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan telah memberikan peluang didirikannya Bank Syariah. Namun perkembangan Bank Syariah, dipandang dan sisi jumlah jaringan kantor dan volume kegiatan usaha saat itu, masih belum memuaskan.
    Oleh karena itu, pemerintah mempunyai keinginan untuk lebih mendorong perkembangan Bank Syariah di Indonesia dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 10 Tahun 1998. Melalui undang-undang ini Perbankan Syariah telah mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk menyelenggarakan kegiatan usaha termasuk pemberian kesempatan kepada bank konvensional untuk membuka kantor cabang yang khusus melaksanakan kegiatan berdasarkan prinsip syariah. Kemudian dengan diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, maka pengembangan industri Perbankan Syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Secara hukum dan peraturan nampak bahwa pemerintah telah cukup memberikan ruang untuk berkembangnya Perbankan Syariah di Indonesia.
    Akan tetapi seiring dengan berkembangnya Perbankan Syariah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari Perbankan Syariah itu pula. Meskipun Bank Syariah memiliki beberapa keunggulan. Sampai saat ini masih ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki dalam Perbankan Syariah sebagai wujud bank yang menerapkan prinsip-prinsip Islam dan memberikan manfaat pada masyarakat. Aspek-aspek tersebut antaralain:
    1.) Sistem Teknologi Informasi (TI)
    Implementasi prinsip-prinsip Islam dalam Bank Syariah tidak hanya cukup pada labelnya saja “Bank Syariah”, namun justru sampai ke inti bisnis prosesnya. Tiap transaksi dalam Perbankan Syariah berdasarkan atas adanya akad yang mempengaruhi model transaksinya. Proses bisnis ini harus didukung oleh sistem Teknologi Informasi (TI) yang memadai dalam perbankan. Oleh karena itu, implikasi sistem TI syariah haruslah benar-benar menyeluruh sampai ke inti prosesnya, mulai dari tata cara transaksi dengan akad sampai pembukuan. Dengan demikian diperlukan sitem TI yang dapat menjamin bisnis proses dalam Bank Syariah sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
    Merupakan salah satu keunggulan Bank Syariah ialah jenis produk yang lebih beragam dan skema keuangan yang lebih bervariasi. Hal ini otomatis akan berpengaruh pada bisnis prosesnya. Jika di dalam sistem TI bank konvensional biasanya mengenal hanya dua sampai tiga bisnis proses di pinjaman (yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk derivatifnya), maka di dalam sistem TI Bank Syariah bisa jadi mengenal lebih dari 10 jenis bisnis proses di pembiayaan. Artinya sistem TI syariah yang baik seharusnya merupakan proses re-engineering TI perbankan mulai dari dasar. Selain itu juga diperlukan sistem TI yang dapat mendukung munculnya inovasi akad dan skema-skema transaksi yang baru.
    2.) Pelayanan
    Kepuasan pelanggan adalah kunci sukses dalam bisnis jasa seperti Perbankan Syariah. Tentu tujuan ini dapat dicapai salah satunya dengan dengan pelayanan prima (service excellent) yang dilakukan pada bank-Bank Syariah. Konsep utama dalam pelayanan prima ini adalah bagaimana nasabah merasa nyaman dan mudah dalam tiap proses menikmati produk-produk Bank Syariah tersebut. Sebenarnya konsep ini termasuk etika muslim yang sudah disampaikan Rasullullah SAW dalam sabdanya: “Siapa saja yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya baik di dunia maupun di akhirat”(HR.Muslim).
    Sudah terbilang 10 tahun saya setia sebagai nasabah Bank Syariah. Akan tetapi sampai saat ini saya tetap merasakan kurangnya pelayanan dari Bank Syariah. Masalah yang saya sering temui ialah pelayanan kepada nasabah di kantor bank. Saya rasa tidak ada standarisasi pelayanan antar kantor di Bank Syariah yang sama. Misalnya di satu cabang ketika saya masuk lalu diberikan nomor antrian, tetapi ketika masuk cabang lain tidak ada nomor antrian, malah lebih lagi tidak ada tempat duduk untuk menunggu giliran, padahal itu dalam bank yang sama. Contoh lainnya, saya biasa ke bank pada jam istirahat 11.30-13.00 dan bank tersebut tetap dapat melayani nasabah. Tetapi pada suatu kesempatan saya tiba di bank cabang lainnya pada jam setengah dua belas lebih sedikit. Dan ketika saya masuk, “Maaf mas! Kami sedang isrirahat” itulah kurang lebih kata yang terucap dari salah satu staf bank tersebut sambil menutup setengah pintu dengan rolling door dan saya harus menunggu di luar. Kesal sekali rasanya.
    Seperti yang saya sudah utarakan diatas, harus ada standar kerja yang jelas antar cabangnya. Bagaimana tata letak ruang baik untuk kantor cabang, cabang pembantu, maupun kantor kas. Diatur juga alur kerja ketika nasabah masuk sampai nasabah keluar, bagaimana nasabah disapa oleh security sampai teller menyampaikan terimakasih. Dengan demikian nasabah merasakan atmosfir yang sama ketika masuk salah satu cabang bank dengan cabang lainnya. Jadinya nasabah merasa nyaman untuk ke pergi ke bank cabang manapun tanpa ada preferensi untuk hanya pergi ke salah satu cabang tersebut dengan alasan kurangnya pelayanan.
    Masalah lainnya ialah akses dalam memperoleh layanan Bank Syariah yang masih minim. Memang saat ini Bank Syariah sudah memiliki akses ke jaringan-jaringan ATM yang sudah banyak menyebar. Di samping itu kantor Bank Syariah juga terus meningkat. Apalagi inovasi yang dilakukan salah satu Bank Syariah dengan menggandeng kantor pos sebagai mitranya telah mengurangi kendala akses Bank Syariah. Akan tetapi keinginan konsumen semakin meningkat. Tidak hanya lebih mudah, tetapi ingin lebih cepat dan lebih efisien, apalagi bagi kalangan tertentu yang selalu melakukan transaksi melalui bank seperti para pebisnis. Oleh karena itu layaknya Bank Syariah dapat melayani nasabah dengan layanan mobile banking dan internet banking. Walaupun saat ini sudah ada beberapa Bank Syariah yang memiliki layanan itu, tetapi masih perlu ditingkatkan keamanan dan kestabilan layanan tersebut. Dengan demikian nasabah semakin mudah untuk melakukan transaksi dengan nasabah lainnya.
    3.) Sumber Daya Insani (SDI)
    Pertumbuhan Perbankan Syariah yang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir menimbulkan ledakan permintaan akan SDI di sektor bisnis ini. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad, pada pertemuan tahunan Asian Development Bank (ADB), bulan Juni lalu, saat ini bankir di Perbankan Syariah mencapai sekitar 15.000 bankir. Namun, kebutuhan saat ini mencapai lebih dari 20.000 bankir. Sehingga diperkirakan, hingga tahun depan kebutuhan akan bankir syariah bisa mencapai di atas 30.000 bankir.
    Kebutuhan SDI ini merupakan hal yang mendesak seiring berkembangnya industri Perbankan Syariah. Pada tahun 2009 ini diproyeksikan akan muncul delapan Bank Umum Syariah baru. Kemudian Bank Syariah tersebut melakukan ekspansi kantor cabang untuk mendorong pertumbuhan aset yang membuat kebutuhan SDI menjadi sesuatu yang tak dapat dihindari. Bahkan menurut prediksi Bank Indonesia kebutuhan SDI Perbankan Syariah hingga tahun 2011 mencapai 50.000-60.000 orang.
    Permintaan SDI Bank Syariah yang lebih besar dari tenaga kerja yang tersedia mengakibatkan kurangnya bankir yang memiliki kompetensi dalam Perbankan Syariah. Banyak yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik dalam menjalankan operasional Bank Syariah. Bahkan mereka tidak dapat menjelaskan kelebihan Bank Syariah daripada bank konvensional. Sehingga dapat menimbulkan kerancuan tersendiri pada nasabah untuk memahami konsep Bank Syariah. Imbasnya ialah pertumbuhan Bank Syariah akan terhambat dan akan ada aksi bajak-membajak karyawan antar Bank Syariah seperti yang sudak marak diperbincangkan saat ini.
    Oleh karena itu diperlukan strategi yang matang untuk memenuhi kebutuhan akan SDI Bank Syariah yang memadai dan memiliki kompetensi. Lembaga pendidikan berperan penting dalam mengatasi masalah SDI ini. Perlu dorongan bagi lembaga pendidikan untuk membuka jurusan ekonomi Islam untuk mencetak SDI yang berkualitas. Yaitu SDI yang dapat memiliki kemampuan untuk penguasaan keahlian secara konseptual dan teknikal, seperti dalam hal perbankan, keuangan, akuntansi, dan SDI. Selain itu, SDI Syariah sesungguhnya juga harus menguasai fiqih dengan baik dan menguasai produk development syariah.
    Pelatihan yang terbilang singkat belum cukup untuk mencipatakan SDI yang handal. Diperlukan pembinaan yang berkesinambungan diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam kepada tenaga kerja mengenai konsep dan produk Bank Syariah. Disamping itu sebagai bank yang mengusung nilai-nilai islam, diperlukan juga pembinaan spiritual kepada seluruh tenaga kerjanya. Pembinaan spiritual ini diharapkan dapat membentuk akhlak yang karim dalam kehidupan sehari-hari bagi seluruh karyawan Bank Syariah. Dengan demikian tiap individunya merupakan nilai lebih bagi citra Bank Syariah tersebut sehingga dapat menambah kepercayaan di mata masyarakat.
    Aspek-aspek tantangan pengembangan Perbankan Syariah diatas bukanlah harga mati yang dapat mematikan laju perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia. Petumbuhan bisnis Perbankan Syariah yang pesat pada lima tahun terakhir menjadi bukti potensi Perbankan Syariah di negeri ini. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang sinergis antara pemerintah dan pelaku bisnis perbakan syariah dalam mengatasi dan mecari solusi dari berbagai tantangan yang dihadapi. Selain itu juga diperlukan peran penting dari lembaga pendidikan, organisasi swadaya, serta para pemerhati ekonomi syariah untuk berpartisipasi mencurahkan pemikirannya bagi perkembangan Perbankan Syariah serta memberikan edukasi mengenai kosep Perbankan Syariah kepada masyarakat.
    sumber : http://rhanu.web.id/tantangan-dalam-pengembangan-perbankan-syariah-di-indonesia/
    pukul; 12:21
    Strategi Pengembangan Bank Syariah Masa Depan
    Strategi pengembangan konsep dan pengelolaan operasional bank syariah secara sehat dan terpercaya akan diharapkan dapat menciptakan sistem, peranan dan fungsi, serta sosialiasi perbankan syariah dalam kehidupan masyarakat, khususnya umat muslim yang mulai menerima secara sepenuhnya sebagai lembaga intermediasi perbankan syariah yang optimal melalui pemahaman dan dukungan, yaitu sebagai berikut:
    a. Sistem pengawasan dan pembinaan secara efektif, untuk memwujudkan iklim usaha yang kondusif dan dapat melindungi kepentingan masyarakat pada umumnya, dan nasabah khususnya.
    b. Pengembangan jaringan bank syariah, menyediakan kemudahan akses layanan jasa bank syariah kepada masyarakat luas, mendukung pembentukan pasar uang antarbank, intermediasi pasar uang dan pasar modal, pembiyaan fasilitas kredit usaha, anjag piutang sebagainya sehingga akan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan bank syariah yang sehat serta dapat diterima dalam kehidupan perekonomian berbasiskan kerakyatan, khususnya umat muslim.
    c. Pengembangan jaringan piranti komputer, hal ini diharapkan akan mempermudah mengakses atau memanfaatkan layanan jasa bank syariah melalui piranti jaringan komputer (computer link) secara luas, efektif dan efisien.
    d. Penyempurnaan ketentuan dan peraturan, secara umum peraturan perundang-undangan perbankan sudah ada, yaitu UU No. 7/1992 dan No. 10/1998, yang belum mengakomodasi perkembangan bank syariah di tanah air secara optimal, dan perlu dibentuk undang-undang khusus perbankan dan melalui surat keputusan otoritas moneter yang lebih efektif untuk pengembangan konsep dan potensi bank syariah, baik secara operasional, fungsional, dan peran layanan jasa perbankan syariah di dalam kehidupan perekonomian masyarakat secara luas, maupun dalam menghadapi persaingan di era globalisasi pasar terbuka.
    e. Pelaksanaan sosialisasi, promosi dan publikasi perbankan syariah yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat, bahwa pengelolaan perbankan syariah tersebut berbeda dengan bank-bank konvensional (bank umum), yaitu lebih menekankan ‘keunggulan komparatif’ atau selling point dari konsep bank syariah melalui bagi hasil (profit sharing), ‘hubungan kemitraan’, dan tanpa pemberian bunga, serta penghasilan yang halal, baik ditinjau secara ‘ukhrawi maupun akhirati’ sesuai dengan syariah Islam.
    f. Prinsip bank-bank Islam, dikembangkan tersebut tidak terlepas dari konsep syariah Islam yang tidak memperbolehkan pemisahan antara hal yang temporal (nilai duniawi) dan unsur keagamaan dalam pengelolaan bank syariah. Konsekuensinya, konsep bagi hasil dan bagi resiko sesuai dengan kaidah agama, maka keuntungan adalah bagi yang menanggung resiko. Bank syariah akan menolak bunga sebagai biaya untuk penggunaan uang dan pinjaman sebagai alat investasi. Pihak bank syariah menerima dana dari pihak ke-tiga berdasarkan kontrak (mudharabah) dalam bentuk kesepakatan bersama antara penyedia dana (pemegang rekening investasi) dan pengelola dana (bank syariah), baik berkenaan dengan pembagian hasil maupun dalam hal menanggung terjadi resiko kerugian.

    http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2009/08/03/strategi-pengembangan-perbankan-syariah-mendatang/
    PUKUL:12:27

    KESIMPULAN:
    Syariah sebagai wujud bank yang menerapkan prinsip-prinsip Islam dan memberikan manfaat pada masyarakat. Aspek-aspek tersebut antaralain:
    1.) Sistem Teknologi Informasi (TI)
    2.) Pelayanan
    3.) Sumber Daya Insani (SDI)
    diperlukan strategi yang matang untuk memenuhi kebutuhan akan SDI Bank Syariah yang memadai dan memiliki kompetensi. Lembaga pendidikan berperan penting dalam mengatasi masalah SDI ini. Perlu dorongan bagi lembaga pendidikan untuk membuka jurusan ekonomi Islam untuk mencetak SDI yang berkualitas. Yaitu SDI yang dapat memiliki kemampuan untuk penguasaan keahlian secara konseptual dan teknikal, seperti dalam hal perbankan, keuangan, akuntansi, dan SDI. Selain itu, SDI Syariah sesungguhnya juga harus menguasai fiqih dengan baik dan menguasai produk development syariah.
    Sedangkan strategi pengembangan bank syariah di Indonesia adalah;
    1) Sistem pengawasan dan pembinaan secara efektif
    2) Pengembangan jaringan bank syariah
    3) Pengembangan jaringan piranti komputer
    4) Penyempurnaan ketentuan dan peraturan
    5) Pelaksanaan sosialisasi
    6) Prinsip bank-bank Islam

  6. ANGGOTA KELOMPOK :
    1. AMALIA AFFIF FIRDAINI 1102010002
    2. TIYAS RATNA DEWI 1102010026
    3. FITRIANA 1102010042

    TEMA : STRATEGI PENGEMBANGAN DAN TANTANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA
    JUDUL : “Strategi Pengembangan Bisnis Perbankan Syariah Pasca 2010”
    WEB : http://wynona07.blogspot.com/2012/04/strategi-pengembangan-bisnis-perbankan.html
    JAM AKSES: Rabu,21 November 2012 pukul 12.05

    Kondisi perbankan syariah sepanjang tahun 2010 mengalami pertumbuhan tinggi yaitu sebesar 43,99%, kondisi tersebut mengalami peningkatan dari periode sebelumnya yang hanya mencapai kisaran 26,55%. Dengan adanya peningkatan dari setiap periodenya berarti pada saat ini perbankan syariah dapat dikatakan lebih baik dibandingkan dengan Perbankan Konvensional.
    Peningkatan pertumbuhan kondisi Perbankan Syariah diantaranya yaitu karena adanya dukungan pelaku bisnis di Perbankan Syariah. Perbankan syariah yang ada diantaranya berjumlah 10 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 145 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), selain itu juga ada 1388 jumlah kantor BUS dan UUS.
    Selain adanya dukungan pelaku bisnis di perbankan syariah, pertumbuhan bank syariah tidak lepas dari tingkat kepercayaan masyarakat yang menyimpan dananya di perbankan syariah.
    Pertumbuhan perbankan syariah menghadapi banyak tantangan, meskipun pertumbuhan pendanaan tergolong tinggi tetapi total aset yang dimiliki oleh perbankan syariah masih tergolong kecil. Sehingga ini merupakan tantangan bagi perbankan syariah untuk mampu meningkatkan total aset yang dimilikinya.
    Gelar the real market leader patut di raih oleh Indonesia karena customer base bank syariah sangat luas, kurang lebih mencapai lima juta nasabah, sedangkan customerr base asuransi syariah mencapai 3,5 juta pemenang atau surat perjanjian.
    Industri perbankan syariah padamasa yang akan datang akan lebih suksesdan mengalami pertumbuhan yang signifikan, asalkan perbankan syariahtetap memegangkuat komitmendalam strategi pengembangannya.

  7. ANGGOTA KELOMPOK :
    1. WIDYA NURMANSYAH (1102010096)
    2. ANTON SAVRIZEN (1102010048)
    3. DANI SETYAWAN (1102010010)
    TEMA : “STRATEGI PENGEMBANGAN DAN TANTANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA”
    JUDUL : “KONDISI UMUM PERBANKAN SYARIAH INDONESIA: REGULATOR PERSPECTIVE”
    WEB : http://shariaeconomy.blogspot.com/2008/08/strategi-dan-masalah-dalam-pengembangan.html
    JAM AKSES : Rabu 21 November 2012 pukul 11.55

    Bank Syariah di Indonesia telah tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat melampaui perkiraan sampai akhir 2004, mencapai 88.6%, dengan volume usaha mencapai Rp. 15,31 triliun, dan menguasai 1,3% pangsa perbankan nasional. Di tahun 2005, sampai Agustus, pertumbuhan bank syariah mengalami perlambatan dan hanya mencapai sekitar 30%, dengan volume usaha mencapai Rp. 18,23 triliun, dan menguasai 1,35% pangsa perbankan nasional. Perlambatan pertumbuhan ini disebabkan oleh keterbatasan modal untuk terus berekspansi.
    Dari segi jumlah dan penyebarannya, kantor bank syariah masih terkonsentrasi di kota-kota besar, terutama di pulau Jawa dan sebagian Sumatra. Dibandingkan dengan bank konvensional, jumlah dan penyebaran bank syariah masih sedikit dan terbatas. Sampai agustus 2005, jumlah kantor bank syariah mencapai 549 kantor yang terdiri dari 457 BUS dan UUS dan 92 BPRS.
    Saat ini pengembangan perbankan syariah berada pada tahap memperkuat struktur industri. Untuk mendukung hal itu BI telah mengeluarkan 15 PBI, melakukan berbagai penelitian, pelatihan, sosialisasi dan pengajaran, menjalin kerjasama dengan pihak terkait, serta berperan aktif pada lembaga-lembaga keuangan syariah internasional.
    Prospek pengembangan perbankan syariah di Indonesia cukup menjanjikan dengan semakin besarnya dukungan dan komitmen pemerintah di berbagai bidang serta besarnya potensi pasar nasional dan internasional yang belum digarap. Namun demikian, berbagai tantangan yang harus dihadapi, antara lain: 1) SDM yang masih terbatas; 2) pemahaman masyarakat yang masih kurang; 3) jaringan kantor yang terbatas; 4) belum ada standar aplikasi produk syariah yang baku; dan 5) belum adanya sinkronisasi kebijakan dengan instansi pemerintah terkait.
    Oleh karena itu, agenda kedepannya adalah menjawab tantangan dengan:
     Meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM di industri perbankan syariah nasional, yang berarti peningkatan pada manajemen dan mutu pelayanan bank syariah;
    Sosialisasi melalui edukasi publik/PKES;Pengembangan instrumen dan produk yang lebih inovatif;
    Pengembangan pasar sekunder, pasar uang syariah, pasar interbank dan linkage di industri keuangan syariah; Implementasi dan pengembangan risk management, prudential regulations, good corporate governance, dan syariah compliance pada lembaga keuangan syariah; dan Mendorong terciptanya a uniform regulatory; standard akad, produk dan transaksi

  8. Anggota Kelompok :
    1. Royan Irkhamulloh (1102010064)
    2. Triyana (1102010098)
    3. Hendri Susanto (1102010118)
    MANAJEMEN B
    TEMA : “STRATEGI PENGEMBANGAN DAN TANTANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA”
    Judul : “Krisis Global Mengancam, Perbankan Syariah Atur Strategi”
    Web : http://economy.okezone.com/read/2012/03/21/457/597284/perbankan-syariah-atur-strategi
    JAM AKSES : Rabu 21 November 2012 pukul 14.55

    JAKARTA – Kondisi perekonomian global yang melabat akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Karenanya diperlukan strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan ekonomi ke depannya.
    Untuk itu, Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menggelar musyawarah nasional dan seminar nasional untuk mempersatukan para pandangan pelaku industri perbankan syariah di Indonesia.
    “Ini guna menghadapi tantangan yang ada terkait perbankan syariah ke depan”, ujar Ketua Umum Asbisindo A Riawan Amin dalam Musyawarah Nasional ke-V dan Seminar Nasional, bertema “Pengembangan Produk Perbankan Syariah Sesuai Keunikan Kebutuhan Keuangan Masyarakat Indonesia”, di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu, (21/3/2012).
    Riawan mengatakan, dengan penyatuan visi dan pandangan dari para pelaku industri perbankan syariah, diharapkan menciptakan sebuah kesatuan yang dapat mendukung perbankan syariah ke depannya.
    “Diharapkan juga ada spirit yang terus berjuang dan ada mekanismenya dalam menjalankannya dengan baik, sehingga memunculkan kesinambungan”, tambah dia.
    Dia berharap dengan adanya pertemuan ini, maka ke depan tidak akan ada lagi permasalahan yang dihadapi antarpelaku perbankan syariah. “Kalau kita satu ruh atau satu spirit, maka sudah tidak peduli lagi tubuh siapa, tubuh ini, tubuh itu, itu adalah masalah nomor dua,” kata dia. (mrt)

  9. Anggota Kelompok :
    1. Aguri Danis P (1102010020)
    2. Dito Yusuf P (1102010086)
    3. Yoan Okta P (1102010060)
    MANAJEMEN B
    TEMA : “STRATEGI PENGEMBANGAN DAN TANTANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA”
    Judul : PENGEMBANGAN MUTU SDM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA
    Web : http://windajunior.blogspot.com/2012/04/pengembangan-mutu-sdm-perbankan-syariah.html
    JAM AKSES : Rabu 21 November 2012 pukul 12.05

    Bank syariah saat ini pesat di Indonesia.bank syariah uncul di tandai dgn lahir nya bank muamalat yg lahirpada tgl 1 nov 1991.ketahanan dan manfaat nya telah di uji ketika pada 1998 awal Indonesia dilanda risis.
    Dan pada saat ini masyarakat tentang bank syariah masih sangat rendah.banyak orang yang menilai sama saja dengan bank onvensional lain pada istilah antara BUNGA Dan bagi hasil.
    Pelatihan SDM saat ini tentang perbankan syariah sudah di tingkatan demi mewujudkan sisitem perbankan syariah yg benar.
    SDM perbankan syariah harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman di bidang bisnis dan memahami implementasi prinsip” bisnis secara islam,dan memiliki komitmen yg kuat.
    Dan pada saat ini dalam dunia pendidikan program ekonomi islam\perbankan syariah yg harus mempunyai kurikulum yg berkualitas.
    Dan harus menggunakan rumusan konseptual sbg beriut:
    1. Peningkatan kualitas iman dan taqwa
    2. Peningkatan kualitas hidup.
    3. Peningkatan kualitas kerja.
    4. Peningkatan kualitas karya.
    5. Peningkatan ualitas pikiran.

    Dalam rangka meningkatkan eksistensi perbankan syariah dalam lingkup perbankan nasional yg di rancang dalam program akselerasi untuk pengembangan bank syariah yg di buat BI tahun 2007-2008 yaitu:
    1. Mendorong pertumbuhan dari sisi supply demand secara seimbang.
    2. Memperkuat permodalan manajemen dan SDM bank syariah.
    3. Mengoptimalkan peran pemerintahan.
    4. Memperlihatkan seluruh stekholder perbankan syariah untuk aktif dalam akselerasi sesuai dgn kompetensi nya masing”.

  10. NAMA :
    1. Firman Bagus ( 1102010090 )
    2. Yusuf Sugiarto ( 1102010058 )
    3. Ivan Anggara. P ( 1102010106 )

    PRODI : MANAJEMEN SI / III

    HARI,TANGGAL : RABU, 21 NOVEMBER 2012
    WAKTU : 17.00 WIB

    WEB :http://shariaeconomy.blogspot.com/2008/08/strategi-dan-masalah-dalam-pengembangan_14.html

    JUDUL : Strategi dalam Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia
    PERKEMBANGAN, DAN TANTANGAN PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

    Pembicara: Yuslam Fauzi, MBA – Presiden Direktur BSM

    Perbankan syariah Indonesia telah tumbuh pesat dengan kinerja yang baik. Menghadapi perkembangan kedepan, bank syariah memiliki berbagai kekuatan sebagai modal dasar, antara lain: 1) Industri perbankan dan keuangan syariah yang tumbuh pesat; 2) fungsi intermediasi yang lebih baik; dan 3) halal, lebih adil, dan tayyib (menguntungkan dan lebih stabil).
    Peluang pasar yang ada, antara lain: 1) potensi pasar yang lebih besar dari bank konvensional; dan 2) memberi produk dan jasa layanan yang lebih luas. Selain itu juga ada peluang perkembangan sosial yang mengarahkan minat mereka terhadap bank syariah lebih kepada pertimbangan nilai (value atau esensi) dari pada pertimbangan legal-formal (halal-haram).
    Sementara itu, bank syariah memiliki tantangan dalam pengembangan, antara lain: 1) Tantangan struktur pendanaan, yang terkonsentrasi pada deposito dan tabungan (bank syariah 87%, bank konvensional 73%), sehingga biaya dana ‘lebih mahal’ dibanding bank konvensional; 2) Tantangan struktur pembiayaan, yang masih didominasi oleh pembiayaan berpola jual beli (murabahah) dari pada berpola bagi hasil (mudharabah/musyarakah), yang membuat bank syariah meninggalkan ciri aslinya; 3) Tantangan internal, dari kecenderungan nasabah dari ‘emosional’ ke ‘rasional’ yang menyebabkan dana simpanan semakin mahal, dari cakupan wilayah dan TI yang yang masih terbatas, dari kesulitan memperoleh debitur baik karena banyaknya alternatif financing, dari keterbatasan CAR untuk memenuhi standar API, dan dari keterbatasan kompetensi SDM; dan 4) Tantangan eksternal, dari peningkatan kompetisi, dari kebijakan yang belum mendukung, dan dari instrumen keuangan yang masih terbatas.
    Dengan memperhatikan hal-hal di atas, maka agenda bank syariah ke depan adalah:
     Peningkatan modal dengan berbagai strategi;
     Standardisasi operasional setiap transaksi;
     Peningkatan efisiensi jasa;
     Peningkatan kepuasan nasabah;
     Ekspansi dan diversifikasi produk; dan
     Rekayasa keuangan yang kuat namun tetap memenuhi kaidah Syariah.
    Selain itu, agenda lainnya adalah menyambut disintermediasi pasar keuangan (pergeseran orientasi dari bank konvensional ke pasar modal) dengan berperan sebagai investment banking.
    Menghadapi kondisi yang ada, perbankan syariah membutuhkan dukungan otoritas moneter dalam:
     Kestabilan kondisi moneter;
     Ketersediaan instrumen moneter syariah;
     Percepatan pembahasan RUU Perbankan Syariah; dan
     Kebijakan yang mendukung.
    RINGKASAN SEMINAR NASIONAL
    STRATEGI PENGEMBANGAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DI INDONESIA
    15 SEPTEMBER 2005, MENARA RADIUS PRAWIRO LT.25
    PPSK – BANK INDONESIA

  11. kelompok manajemen A
    1.Charisa Larasati ( 1102010005 )
    2.Siti Amanatul Kh ( 1102010077 )
    3.Astini cakra ampuh ( 1102010031)

    STRATEGI PENGEMBANGAN DAN TANTANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA
    http://rhanu.web.id/tantangan-dalam-pengembangan-perbankan-syariah-di-indonesia/
    14.10
    http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2009/08/03/strategi-pengembangan-perbankan-syariah-mendatang/
    13.55

    http://shariaeconomy.blogspot.com/2008/08/strategi-dan-masalah-dalam-pengembangan_14.html
    shariaeconomy.blogspot.com
    13.55

    Tantangan dalam Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia
    Posted by Rhanu | Posted in Keuangan | Posted on 14-08-2009
    3
    Pertumbuhan dan perkembangan lembaga Perbankan Syariah di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Berawal dari Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992 sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia. Menurut data BI sampai dengan bulan Juni 2009, Bank Umum Syariah telah mencapai 5 unit, sedangkan Unit Usaha Syariah 25 unit dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah 133.
    Penyebaran jaringan kantor Perbankan Syariah memgalami pertumbuhan yang signifikan. Jika dilihat pada tahun 2007 jumlah jaringan kantor hanya 782 kantor, sampai Juni 2009 jumlah tersebut menjadi 1107. Dengan demikian jaringan kantor tumbuh 42 % dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Dalam kurun waktu itu pula jumlah rekening Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah meningkat sebanyak 56%.
    Delapan belas tahun sudah Perbankan Syariah berdiri dan berkembang di Indonesia. Tidak sedikit hambatan yang telah dihadapi dalam mengembangkan Perbankan Syariah ini.Dilihat dari sisi hukum, dengan berlakunya UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan telah memberikan peluang didirikannya Bank Syariah. Namun perkembangan Bank Syariah, dipandang dan sisi jumlah jaringan kantor dan volume kegiatan usaha saat itu, masih belum memuaskan.
    seiring dengan berkembangnya Perbankan Syariah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari Perbankan Syariah itu pula. Meskipun Bank Syariah memiliki beberapa keunggulan. Sampai saat ini masih ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki dalam Perbankan Syariah sebagai wujud bank yang menerapkan prinsip-prinsip Islam dan memberikan manfaat pada masyarakat. Aspek-aspek tersebut antara lain:

    1.) Sistem Teknologi Informasi (TI)
    implikasi sistem TI syariah haruslah benar-benar menyeluruh sampai ke inti prosesnya, mulai dari tata cara transaksi dengan akad sampai pembukuan. Dengan demikian diperlukan sitem TI yang dapat menjamin bisnis proses dalam Bank Syariah sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
    sistem TI syariah yang baik seharusnya merupakan proses re-engineering TI perbankan mulai dari dasar. Selain itu juga diperlukan sistem TI yang dapat mendukung munculnya inovasi akad dan skema-skema transaksi yang baru.
    2.) Pelayanan
    Konsep utama dalam pelayanan prima ini adalah bagaimana nasabah merasa nyaman dan mudah dalam tiap proses menikmati produk-produk Bank Syariah tersebut.
    harus ada standar kerja yang jelas antar cabangnya. Bagaimana tata letak ruang baik untuk kantor cabang, cabang pembantu, maupun kantor kas. Diatur juga alur kerja ketika nasabah masuk sampai nasabah keluar, bagaimana nasabah disapa oleh security sampai teller menyampaikan terimakasih.
    3.) Sumber Daya Insani (SDI)
    Pertumbuhan Perbankan Syariah yang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir menimbulkan ledakan permintaan akan SDI di sektor bisnis ini.
    diperlukan strategi yang matang untuk memenuhi kebutuhan akan SDI Bank Syariah yang memadai dan memiliki kompetensi. Lembaga pendidikan berperan penting dalam mengatasi masalah SDI ini. Perlu dorongan bagi lembaga pendidikan untuk membuka jurusan ekonomi Islam untuk mencetak SDI yang berkualitas. Yaitu SDI yang dapat memiliki kemampuan untuk penguasaan keahlian secara konseptual dan teknikal, seperti dalam hal perbankan, keuangan, akuntansi, dan SDI. Selain itu, SDI Syariah sesungguhnya juga harus menguasai fiqih dengan baik dan menguasai produk development syariah.
    Aspek-aspek tantangan pengembangan Perbankan Syariah diatas bukanlah harga mati yang dapat mematikan laju perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia. Petumbuhan bisnis Perbankan Syariah yang pesat pada lima tahun terakhir menjadi bukti potensi Perbankan Syariah di negeri ini. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang sinergis antara pemerintah dan pelaku bisnis perbakan syariah dalam mengatasi dan mecari solusi dari berbagai tantangan yang dihadapi. Selain itu juga diperlukan peran penting dari lembaga pendidikan, organisasi swadaya, serta para pemerhati ekonomi syariah untuk berpartisipasi mencurahkan pemikirannya bagi perkembangan Perbankan Syariah serta memberikan edukasi mengenai kosep Perbankan Syariah kepada masyarakat.

  12. Posted by rezahandika on November 21, 2012 at 10:32 am

    STRATEGY BANK SYARIAH DI INDONESIA

    STRATEGY BANK SYARIAH DI INDONESIA

    Ida Savitri Kusmargiani
    Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Semarang
    Jl. Prof. H. Sudarto, S.H., Tembalang, Semarang 50275

    ABSTRACT
    The existence of syariah banks or islamic banks is expected to resolve conflicts between interest rates and al-riba because of contradictions that arise due to the linkages between banks and the money that is considered important but it should be done with honesty, fairness and mutual benefit.
    The position of syariah banks or Islamic banks is as investor partner with client, while conventional banks are generally the position of the bank is the as a creditor and clients are as debtors.
    With a more solid legal basis in law No.21 of 2008 made the Islamic banks a big growing with a growing number of them. In order for the existence of Islamic bank is more socially acceptable, then it was made “grand strategy” of the development of Islamic banking in the form of a new image with the socialization aspects of positioning, differentioning, branding and education through exhibitions, training, technical assistance, training to trainers and personal communication via various media.

    Key words: syariah bank, strategy, positioning, differentioning, branding, training, technical assistensi, training to trainer.

    PENDAHULUAN
    Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 1998 yang dimaksud Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Atas dasar pengertian tersebut tugas bank adalah menghimpun dana dari masyarakat yang mempunyai kelebihan dana dan menyalurkannya dalam bentuk kredit bagi masyarakat yang membutuhkannya, sehingga masyarakat yang mendapatkan kredit mampu meningkat pendapatannya. Dengan meningkatnya pendapatan diharapkan taraf hidupnya menjadi lebih baik . Apabila keberadaan bank mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat maka keberadaan bank tersebut sesuai dengan isi Undang Undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan. Dengan demikian bank diharapkan mampu memperkecil kesenjangan antara masyarakat kaya dan miskin. Apabila dana yang dipinjam digunakan untuk suatu usaha maka bank tersebut telah menjalankan fungsi sebagai agen pembangunan ekonomi dalam suatu daerah.
    Praktek bank sesuai hukum ekonomi modern yang berbasis kapitalis lebih menekankan memaksimumkan keuntungan dan cenderung bebas nilai dan amoral (menghalalkan cara), dengan pola pemikiran untuk kepuasan diri sendiri dan memperkaya diri dan percaya dengan mekanisme pasar serta mengagungkan kebendaan. Sedangkan ekonomi Islam menurut Zarqa (1992) dalam Mudrajat Kuncoro, lebih spesifik terdiri dari atas komponen berikut : Pertama, ajaran nilai berasal dari Qur’an, Sunnah, dan sumber-sumber lain (tafsir, fikih). Kedua, pernyataan positif yang akan masuk ekonomi Islam berasal dari ekonomi konvensional. Ketiga, pernyataan positif yang ada dalam ekonomi Islam berasal dari Sunnah. Keempat, hubungan antarvariabel ditemukan lewat observasi, analisis dan eskperimen sebagai sumber ilmu. Dalam ekonomi Islam menurut Mudrajat Kuncoro, (2002) yang sarat dengan ajaran etika Islam dan menawarkan dimensi normatif (das sollen) maupun positif (das sein). Ajaran Islam mengajarkan:
    1. Etika tauhid, bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah, dan meletakkan “ ketaqwaan kepada Allah sebagai syarat utama bagi rezeki Allah (Q.S. Al-A’raf: 96).
    2. Etika tanggung jawab, bahwa” manusia dijadikan Allah sebagai pemimpin dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (Q.S. Al Baqarah : 30).
    3. Keadilam sosial dan ekonomi merupakan paradigma utama.
    4. Menekankan perlunya keseimbangan kebutuhan material dan spiritual.
    Sumber nilai yang menjadi panutan bagi umat Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah Nabi, dengan konsekuensi apapun nilai yang dibutuhkan dalam analisis dan perilaku ekonomi harus bersandar pada kedua sumber nilai tersebut. Ajaran Islam melarang riba karena ketidak adilan yang melekat di dalammnya, dimana riba dapat disamakan dengan istilah “bunga” Menurut Schacht (1964 dalam Alqaoud & Lewis) riba adalah sebuah keuntungan moneter. Atas dasar ini para ulama berpendapat bahwa riba meliputi semua jenis bunga, sedangkan keuntungan yang berasal dari jual beli bukanlah riba, dan pondasi perbankan syariah berdiri atas fondasi ini (Ahmad, 1982).
    Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Bank Syariah adalah bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah riba. Secara praktik Bank Syariah diselenggarakan karena sistem perbankan berbasis bunga memiliki beberapa kelemahan yaitu :
    1. Transaksi berbasis bunga melanggar keadilan atau kewajaran bisnis.
    2. Tidak fleksibelnya sistem transaksi berbasis bunga yang menyebabkan kebangkrutan, di sisi lain menjadi penghalang inovasi bagi usaha kecil
    3. Bank tidak tertarik dengan kemitraan usaha kecuali bila ada jaminan kepastian pengembalia modal dan pendapatan bunga mereka.
    Berdasarkan pada kelemahan bank konvensional ini bank syariah diharapkan akan memberi manfaatkan bagi:
    1. Terpeliharanya aspek keadilan bagi yang melakukan transaksi
    2. Dapat memelihara kestabilan nilai tukar mata uang karena selalu terkait dengan transaksi riil
    3. Transparansi bersifat melekat.
    4. Memperluas aplikasi syariah dalam kehidupan masyarakat muslim.

    KONSEP DASAR PERBANKAN SYARIAH
    Bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariah Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai prinsip-prinsip syariah Islam dan tata cara operasinya mengacu ketentuan-ketentuan Al Quran dan Hadist. (Perwitaatmadja dan Antonio,1997).
    Pertentangan antara bunga bank dan riba dapat diselesaiakan dengan keberadaan bank syariah, karena munculnya pertentangan itu disebabkan oleh keterkaitan antara bank dan uang yang dianggap penting akan tetapi harus menghilangkan adanya ketidak jujuran, ketidakadilan dan pengisapan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Bank syariah mempunyai kedudukan sebagai mitra investor dan pedagang sedangkan bank konvensional pada umumnya hubungannya sebagai kreditur dan debitur.

    PRINSIP PERBANKAN SYARIAH
    Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam anatara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha atau kagiatan lain sesuai dengan syariah. Beberapa prinsip / hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain:
    1. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
    2. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjamka dana.
    3. Islam tidak memperbolehkan “ menghasilkan uang dari uang” uang hanya sebagai media pertukaran dan bukan komoditas karena uang tidak memiliki intrisik.
    4. Unsur Gharar (ketidak pastian, spekulasi) tidak diperkenankan, kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.
    5. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan oleh Islam. Usaha minuman kerasnya misalnya tidak boleh didanai oleh Perbankan Syariah. (Perpustakaan Bloger Indonesia, 2011)

    SEJARAH PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA
    Berdasar rekomendasi dari Lokakarya Ulama tentang Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua (Bogor) pada 19 sampai dengan 22 Agustus 1990 kemudian dikeluarkannya UU no. 7/1992 tentang Perbankan untuk mengakomodasi bank dengan sistim bagi hasil. PT Bank Muamalat merupakan bank pertama yang berdiri berdasarkan sistim bagi hasil. Kemudian UU no. 7/1992 disempurnakan dengan UU no 10 tahun 1998 guna mengantisipasi tantangan sistem keuangan yang semakin maju dan komplek dan mempersiapkan infrastruktur memasuki era globalisasi. Di harapkan perbankan syariah menjadi bagian dari sistem perbankan nasional bukan hanya untuk mengakomodasi kepentingan penduduk muslim di Indonesia saja tetapi juga memperlihatkan keunggulan bank syariah guna menjembatani ekonomi.
    Perkembangan bank syariah di Indonesia cukup pesat lebih-lebih setelah terbukti bank syariah mampu bertahan pada saat terjadi krisis moneter dengan ditandai bank syariah mampu mampu memperoleh laba, sedangkan bank konvensional banyak yang menanggung rugi bahkan harus di likuidasi.
    Setelah diberlakukannya Undang-Undang No 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka semakin mendorong perkembangan industri perbankan syariah lebih cepat karena telah memiliki payung hukum yang memadai. Perkembangan bank umum syariah ditandai makin bertambahnya jumlah bank syariah yang terdiri dari : Bank Muamalat, BNI Syariah , Bank Mandiri Syariah, Bank BRI Syariah, Bank Mega Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank Maybank Syariah Indonesia, BTN Syariah, Bank Danamon Syariah, BII Maybank Syariah, Bank Permata Syariah, PAN Indonesia Bank Syariah, Bank BCA Syariah, HSBC Amanah. (internet 20/2/2011)

    KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH INDONESIA
    Bank Indonesia pada tahun 2002 menerbitkan “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” untuk memberi pedoman bagi stakeholder perbankan syariah dan meletakkan cara pandang Bank Indonesia dalam pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Dengan acuan dari berbagai aspek yang telah dipertimbangkan secara menyeluruh antara lain kondisi aktual industri perbankan syariah nasional beserta perangkat-perangkat terkait, trend perkembangan industri perbankan syariah di dunia internasional dan perkembangan sistem keuangan syariah nasional yang mulai mewujud, serta tak terlepas dari kerangka sistem keuangan yang bersifat lebih makro seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI) maupun international best practices yang dirumuskan lembaga-lembaga keuangan syariah Internasional, seperti IFSB (Islamic Financial Services Board), AAOIFI dan IIFM, serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Dengan demikian upaya pengembangan perbankan syariah merupakan bagian dan kegiatan yang mendukung pencapaian rencana strategis dalam skala yang lebih besar pada tingkat nasional.
    Dengan demikian “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” memuat visi, misi dan sasaran pengembangan perbankan syariah serta sekumpulan inisiatif strategis dengan prioritas yang jelas untuk menjawab tantangan utama dan mencapai sasaran dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, yaitu pencapaian pangsa pasar perbankan syariah yang signifikan melalui pendalaman peran perbankan syariah dalam aktivitas keuangan nasional, regional dan internasional, dalam kondisi mulai terbentuknya integrasi dgn sektor keuangan syariah lainnya.
    Dalam jangka pendek, perbankan syariah nasional lebih diarahkan pada pelayanan pasar domestik yang potensinya masih sangat besar. Dengan kata lain, perbankan Syariah nasional harus sanggup untuk menjadi pemain domestik akan tetapi memiliki kualitas layanan dan kinerja yang bertaraf Internasional.
    Pada akhirnya, sistem perbankan syariah yang ingin diwujudkan oleh Bank Indonesia adalah perbankan syariah yang modern, yang bersifat universal, terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk-bentuk aplikatif dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konteks kekinian permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan kondisi sosio-kultural di dalam mana bangsa ini menuliskan perjalanan sejarahnya. Hanya dengan cara demikian, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan senantiasa dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan negeri.

    GRAND STRATEGY PENGEMBANGAN PASAR PERBANKAN SYARIAH
    Bank Indonesia merumuskan “Grand Strategi Pengembangan Pasar Perbankan Syariah”, sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar dengan langkah yang ditempuh untuk mengimplementasikan grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah adalah sebagai berikut :

    Langkah Pertama:
    1. Fase I tahun 2008 menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah dengan membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking.
    2. Fase II tahun 2009 perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan yang paling atraktif se ASEAN
    3. Fase III tahun 2010 perbankan syariah Indonesia menjadi yang terkemuka di ASEAN.

    Langkah Kedua:
    Memperkenalkan perbankan syariah dengan citra baru dengan.
    1. Aspek positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak
    2. Aspek diferensiasi dengan keunggulan kompetitif dengan produk dan skema yang beragam, transparans, kompeten dalam keuangan dan beretika, teknologi informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah yang memadai.
    3. Aspek branding adalah “bank syariah lebih dari sekedar bank atau beyond banking”.

    Langkah Ketiga:
    Potensi pasar perbankan syariah dipetakan secara akurat yang mengarah kepada layanan jasa bank syariah sebagai layanan untuk semua lapisan masyarakat dan semua segmen pasar sesuai dengan strategi dari masing-masing bank syariah.

    Langkah Keempat:
    Produk perbankan syariah dikembangkan dengan variasi yang beraneka ragam dan mempunyai nilai lebih untuk ditawarkan (saling menguntungkan) disertai dukungan jaringan kantor yang luas dan pemakaian nama produk yang mudah dimengerti.

    Langkah Kelima:
    Kualitas layanan ditingkatkan dengan dukungan SDM yang kompeten disertai pemakaian teknologi informasi yang memadai sehingga kebutuhan dan kepuasan nasabah terpenuh, disamping itu kemampuan untuk menjelaskan produk dan jasa bank syariah dengan baik dan benar akan tetapi tetap berpegang teguh pada prinsip syariah Islam kepada nasabah

    Langkah Keenam:
    Agar program sosialisasi dan edukasi jangkauannya lebih luas dan efisien sarana yang dipergunakan berupa media cetak, elektronik, online/web-site. Tujuan program ini agar masyarakat memahami akan manfaat produk dan jasa perbankan syariah dan bersedia untuk memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.

    KEGIATAN PENGEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH
    Mengacu pada Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah 2009-2012 maka kegiatan pengembangan perbankan syariah pada tahun 2009 masih fokus pada upaya melakukan penyempurnaan positioning – differentioning – branding (PDB) perbankan syariah. Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi tiga area kebijakan yaitu edukasi dan sosialisasi, aliansi strategis serta pengembangan internal.
    Kegiatan Edukasi dan Pengembangan Pasar dengan tujuan mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah guna menciptakan dan memperbesar demand terhadap produk dan layanan perbankan syariah. Selama tahun 2010 telah melakukan kegiatan sosialisasi /komunikasi dan edukasi kepada masyarakat anatara lain:
    a) Kegiatan iB Expo dan atau iB Pavilion
    Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Festival Ekonomi Syariah (FES) tahun 2008 dan 2009, dengan tujuan untuk mendekatkan kepada masyarakat (interaksi langsung) dengan produk-produk perbankan syariah. Dengan demikian mampu mendorong masyarakat mengenal dan langsung berinteraksi dengan produk dan layanan perbankan syariah.

    b) Technical Assistensi
    Kegiatan ini untuk meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia perbankan syariah dengan arahan untuk meningkatkan kemampuan personil / Sumber Daya Manusia perbankan syariah dalam menganalisis dan memanfaatkan setiap peluang pembiayaan, serta mampu merancang dan menerapkan strategi pemasaran yang efektif. Pelatihan dengan membuat kelompok, agar kelompok ini dapat bertukar pengalaman dengan praktisi pemasaran dari sektor usaha yang lain. Tujuan dari Technical Assistensi agar mampu melakukan terobosan sehingga mampu berinovasi dalam pemasaran.

    c) Training to Trainer.
    Kegiatan ini terutama ditujukan kepada dosen perguruan tinggi dengan tujuan agar pengajar perbankan syariah makin meningkar jumlahnya.

    d) Sosialisasi Perbankan Syariah kepada masyarakat luas.
    Komunikasi berdasarkan segmen nasabah yang terbagi ; 1) segmen pokoknya syariah, 2) segmen ikut arus, 3) segmen sesuai manfaat dan kebutuhan, 4) segmen terpaksa, 5) segmen pokoknya konvensional (BI 2008). Sasaran utama tahun 2010 adalah wanita dan pemuda, pengusaha, serta pengguna internet.

    PENUTUP
    Keberadaan perbankan syariah di Indonesia diharapkan mampu mengatasi keterbatasan bank konvensional yang hanya mementingkan keuntungan semata. Agar supaya dikenal dan dimanfaatkan baik produk dan jasa perbankan syariah maka dibuat strategi berupa sosialisasi dan edukasi dengan memperkenalkan citra baru bahwa bank syariah dengan positioning – differentioning – branding .

    WEB : http://admisibisnis.blogspot.com/2012/04/strategy-bank-syariah-di-indonesia.html

    JAM akses : 12.07

    Rangkuman

    STRATEGY BANK SYARIAH DI INDONESIA

    Bank adalah badan usaha yang mana menghimpun dana dari masyarakat yang berbentuk kridit atau bentuk yang lainnya guna meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tugas Bank atas dasar tersebut adalah menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana, dan membantu masyarakat menyalurkannya dalam bentuk kridit. Sehiingga masyarakat mampu mendapatkan pendapatan. Apabila keadaan suatu Bank bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat, maka Bank tersebut sesuai dengan Undang-Undang Bank No 10 tahun 1998 tentang perbankan. Dengan demikian Bank diharapkan mampu memperkecil terjadinya kesenjangan masyarakat.
    Bank pada era modern ini banyak sekali berbasiskan kapitalis, yang mana keberadaan Bank itu sendiri bertujuan untuk memperkaya secara pribadi dan menghalalkan cara agar terutama nilai-nilai yang ada dengan tujuan tersebut. Berbeda dengan Bank yang berbasis Syari’ah adalah Bank yang mana menganut ajaran Al’quran dan Assunah.
    Ajaran Islam mengajarkan:
    1. Etika tauhid, bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah, dan meletakkan “ ketaqwaan kepada Allah sebagai syarat utama bagi rezeki Allah (Q.S. Al-A’raf: 96).
    2. Etika tanggung jawab, bahwa” manusia dijadikan Allah sebagai pemimpin dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (Q.S. Al Baqarah : 30).
    3. Keadilam sosial dan ekonomi merupakan paradigma utama.
    4. Menekankan perlunya keseimbangan kebutuhan material dan spiritual.
    Ajaran Islam melarang riba karena terdapat suatu ketidakadilan yang ada di dalamnya. Riba atau yang biasa disebut dengan ‘Riba’, terdapat di Bank yang berbasis kapitalis atau konvensional, dan riba adalah suatu keuntungan moneter.

    Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Bank Syariah adalah bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah riba. Secara praktik Bank Syariah diselenggarakan karena sistem perbankan berbasis bunga memiliki beberapa kelemahan yaitu :
    1. Transaksi berbasis bunga melanggar keadilan atau kewajaran bisnis.
    2. Tidak fleksibelnya sistem transaksi berbasis bunga yang menyebabkan kebangkrutan, di sisi lain menjadi penghalang inovasi bagi usaha kecil
    3. Bank tidak tertarik dengan kemitraan usaha kecuali bila ada jaminan kepastian pengembalia modal dan pendapatan bunga mereka.
    Berdasarkan pada kelemahan bank konvensional ini bank syariah diharapkan akan memberi manfaatkan bagi:
    1. Terpeliharanya aspek keadilan bagi yang melakukan transaksi
    2. Dapat memelihara kestabilan nilai tukar mata uang karena selalu terkait dengan transaksi riil
    3. Transparansi bersifat melekat.
    4. Memperluas aplikasi syariah dalam kehidupan masyarakat muslim.

    Konsep Dasar Perbankan Syari’ah
    Intinya Perbankan Syari’ah adalah lembaga keuangan yang menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam syri’ah islam. Dan Bank yang beroprasi sesuai prinsip-prinsip syariah Islam dan tata cara operasinya mengacu ketentuan-ketentuan Al Quran dan Hadist. (Perwitaatmadja dan Antonio,1997).

    PRINSIP PERBANKAN SYARIAH
    Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam anatara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha atau kagiatan lain sesuai dengan syariah. Beberapa prinsip / hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain:
    1. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
    2. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjamka dana.
    3. Islam tidak memperbolehkan “ menghasilkan uang dari uang” uang hanya sebagai media pertukaran dan bukan komoditas karena uang tidak memiliki intrisik.
    4. Unsur Gharar (ketidak pastian, spekulasi) tidak diperkenankan, kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.
    5. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan oleh Islam. Usaha minuman kerasnya misalnya tidak boleh didanai oleh Perbankan Syariah. (Perpustakaan Bloger Indonesia, 2011)

    Nama : Muhammad Fadlan Nafi (1102010076
    Reza Handika (1102010004)
    Resa Yosanto (1102010012)
    Jam Kirim Blog : 17.27

  13. Kelompok Tugas Bank dan Lembaga Keuangan

    Andika Eka Putra 1102010029 Manajemen A
    Rizqi Fauzy 1102010109 Manajemen A
    Ali Taufan Hidayat 1102010108 Manajeman B
    Sumber :
    http://wynona07.blogspot.com/2012/04/strategi-pengembangan-bisnis-perbankan.html
    17.00 wib
    http://news.detik.com/read/2010/12/21/175613/1530138/471/strategi-pengembangan-bisnis-perbankan-syariah-pasca-2010
    17.05 wib
    http://shariaeconomy.blogspot.com/2008/08/strategi-dan-masalah-dalam-pengembangan_14.html
    17.10 Wib
    Tema : Strtegi Pngembangan dan tantangan bank syariah d Indonesia

    Judul : Strategi Pengembangan bank syariah pasca 2010

    Ringkasan :
    Pemulihan ekonomi global pasca resesi di akhir tahun 2009 memberikan out look yang optimis terhadap perkembangan perekonomian dunia di tahun 2010. Meskipun perna dilanda oleh krisis Yunani yang terjadi pada awal triwulan II pada tahun 2010 namun krisis tersebut tidak berpengaruh secara besar terhadap industri perbankan syariah di indonesia.
    Kondisi krisis global yang terjadi di dunia tidak berdampak pada pengembangan bank syariah secara global.perkembangan bank syariah di indonesia sungguh fantastis. Sepanjang tahun 2010 perbankan syariah tumbuh dengan volume usaha yang tinggi sebesar 43.99% . Meningkat pada periode yang sama pada tahun sebelumnya yaitu sebesar (26.55%) dengan pertumbuhan funding dan juga financing yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya (Outlook Perbankan syariah 2011, Direktorat Bank Islam BI).
    Pertumbuhan bank konvensional kurang begitu baik ketimbang Bank Syariah yang jauh lebih baik. Untuk pertumbuhan DPK perbankan syariah pada triwulan III 2010 mencapai 22.27% pada periode yang sama tahun sebelumnya dibandingkan perbankan konvensional yang hanya mencapai pertumbuhan di kisaran 8.67%. Sedangkan pertumbuhan pembiayaan bank syariah mencapai 30.04% dan bank konvensional hanya mencapai 15.38%.
    Pertumbuhan bank syariah yang lebih tinggi di dukung oleh para pelaku bisnis di bidang industri dengan jumlah 10 perbankan syariah.
    (BUS), 23 Unit Usaha syariah (UUS), dan 145 Bank Perkreditan Rakyat syariah (BPRS), serta 1388 jumlah kantor BUS dan UUS (Statistik Perbankan syariah Bank Indonesia, 2010).
    Selain itu pertumbuhan bank syariah tidak lepas dari meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dananya untuk diolah secara syariah. Hal ini dapat dilihat dari low cost fund dan deposito bank syariah yang tumbuh lebih tinggi dari bank konvensional.

    Untuk giro tumbuh sebesar 19.43%, tabungan tumbuh sebesar 18.12%, dan deposito tumbuh sebesar 25.17% periode Desember 2009 sampai dengan September 2010. Bahwa ini merupakan suatu prestasi yang luar biasa apabila melihat pertumbuhan DPK bank konvensional secara nasional masih di bawah 10%.

    Selain itu efektivitas intermediasi bank syariah juga lebih baik. FDR (Financing to Deposit Ratio) sebesar 95% dan secara geografis telah mencapai masyarakat di lebih dari 103 Kabupaten dan 33 Propinsi di Indonesia. Walaupun porsi pembiayaan terbesar masih berada di DKI Jakarta sebesar Rp 24.46T dari total pembiayaan perbankan syariah yang diberikan secara nasional setidaknya untuk efektivitas intermediasi perbankan syariah sudah cukup bagus. Apabila dibandingkan dengan LDR perbankan nasional yang masih hanya berkisar di range 60-70%.
    Walaupun ratio FDR bank syariah cukup tinggi perlu diperhatikan agar bank syariah tetap harus berhati-hati dalam menyalurkan dananya serta pengelolaan risiko yang harus ditingkatkan agar Non Performing Financing (NPF) bisa dijaga pada level yang reasonable. Selain itu CAR (Capital Adequacy Ratio) harus tetap dijaga di atas level 12% agar perbankan syariah tetap dapat menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif secara agresif dan sehat.

    Tantangan Bank Syariah
    Pada bulan Oktober 2010 total aset perbankan syariah masih sekitar 3.1% terhadap total aset industri perbankan nasional. Dalam hal ini kita masih boleh dibilang tertinggal cukup jauh dari negara tetangga kita Malaysia yang di tahun 2010 total aset perbankan syariah di negeri jiran ini sudah mencapai 20% terhadap total aset perbankan nasional.

    Bagaimana Malaysia bisa cukup agresif dalam mengembangkan industri perbankan syariahnya. Hal ini tidak luput dari government support. Approach top-down yang digunakan oleh kerajaan Malaysia membuat perbankan syariah mereka maju dengan pesat. Hampir 85% dari DPK berasal dari dana pemerintah, korporasi, dan lembaga keuangan.

    Strategi Pengembangan Perbankan Syariah
    • BI, harus melihat dan membuat kebijakan pengembangan perbankan syariah secara efisien, memberikan syariah service excellent, dan berkontribusi bagi perekonomian nasional.
    • BI antara lain bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi untuk melakukan penilitian dan mempersiapkan kurikulum dalam mengembangkan SDM berkualitas tinggi yang tidak hanya paham ilmu fiqh tetapi juga mendalami ilmu perbankan dan keuangan.
    • Menarik Investor asing agar menanamkan sahamnya di bidang Perbankan Syariah Indonesia.
    • Sosialisasi kepada masyarakat tentang produk-produk syariah serta pengembangan infratruktur dan network yang merata dapat diinisiasi oleh BI melalui kebijakan dan inisiatif strategis
    • Dukungan perusahaan bank induk agar mengeluarkan bank anakan yaitu Syaria.
    contoh : Induk Bank Mandiri , anakannya yaitu Bank Mandiri Syariah

    bank syariah memiliki berbagai kekuatan sebagai modal dasar, antara lain: 1) Industri perbankan dan keuangan syariah yang tumbuh pesat; 2) fungsi intermediasi yang lebih baik; dan 3) halal, lebih adil, dan tayyib (menguntungkan dan lebih stabil).

  14. Posted by mei jupitriawati dan tuti widanarti on November 24, 2012 at 4:07 pm

    TUGAS BANK LEMBAGA SYARIAH
    KELAS : AKUNTANSI D3 / V
    KELOMPOK :
    1. MEI JUFITRIA WATI (1002040003)
    2. TUTI WIDANARTI (1002040007)
    TEMA : STRATEGI DAN TANTANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA
    STRATEGI BANK SYARIAH
    Pendahuluan
    Salah satu persamaan antara Bank Syariah dan bank konvensional adalah kedua-duanya berusaha mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Dengan tujuan tersebut, Bank Syariah dituntut untuk berkembang dan menjadi lembaga finansial yang bonafid dan professional. Artinya bahwa Bank Syariah dalam menajemen investasi dan finansial dituntut untuk menggunakan asas
    profit oriented sebagaimana bank konvensioanl menjalaninya sehingga dengan asas tadi Bank Syariah bisa berkembang, bonafid dan professional bukan sekedar menggunakan jalur emosional keagamaan untuk menjaring nasabahnya. Itulah salah satu persamaan yang bisa dijadikan referensi dan motivasi dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan Perbankan Syariah. Di sisi lain, Bank Syariah juga mempunyai tugas dan kewajiban yang harus diembannya, yaitu menjalankan pertumbuhan ekonomi berdasarkan Syariah, dimana usaha mencari keuntungan yang sebesar-besarnya itu harus didasarkan pada pedoman yang telah ditetapkan oleh Syariah, biasannya banyak diulas dalam kitab-kitab fiqh dan ijtihad ulama-ulama kontemporer, baik individu maupun kelompok
    Untuk itulah, Perbankan Syariah Indonesia dituntut untuk mempersiapkan diri; baik konsep Banknya yang dinamis dan inovatif, ataupun sumber daya manusianya yang kapabel dan professional untuk mengambil alih peran dalam mengendalikan perekonomian umat, khususnya di Indonesia.
    Melihat proses pembentukan Bank Syariah di Inodensia, dapat dipastikan bahwa ada tiga cara untuk menjadi Bank Syariah, yaitu:
    • Mendirikan Bank Syariah secara langsung dengan full system Syariah seperti halnya Bank Muamalat.
    • Melakukan konversi, dari bank konvensional ke Bank Syariah. Inipun biasanya menggunakan full system syariah, seperti halnya Bank Syariah Mandiri yang pada awalnya adalah bank konvensional.
    • Membuka divisi Syariah, biasanya adalah bank konvensional yang berniat melakukan transaksi Syariah, hal itu dilakukan dengan cara membuka divisi Syariah dengan menggunakan Dual Banking System.
    Prinsip-Prinsip Dasar Bank Syariah
    Islam telah menjelaskan prinsip-prinsip dasar ekonomiannya, bahkan banyak sekali istilah-istilah bisnis yang dipakai dalam bahasa Quran dan Hadits seperti kredit (alqard), jual beli (albae), gadai (arrahn) dan lainnya. Adapun prinsip-prinsip dasar ekonomi Syariat yang selama ini kita kenal melalui Bank Syariah adalah nilai-nilai ethika dan norma ekonomi yang universal dan komprehensif. Keuniversalan itu sengaja diberikan pada umat untuk memberikan kesempatan padanya agar berinovasi (ijtihad) dan berkreasi (jihad) dalam mengatur sistem ekonominya dengan syarat tidak keluar dari kerangka umumnya. Dengan begitu sistem ekonomi Islam akan senantiasa valid dan cocok untuk setiap perubahan waktu dan perbedaan tempat dan mampu memerankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.
    Norma-norma tadi adalah merupakan prinsip-prinsip dasar Bank Syariah, secara globalnya sebagai berikut:
    1. Islam mengatur semua transaksi ekonomi melalui nilai-nilai universal (attandzim), mudah (alyusru) dan luas (assa’ah)
    Dengan mengamati aturan ekonomi yang ada dalam Quran dan Hadits, jelaslah bahwa Islam benar-benar telah mengtur system ekonomi dengan teliti dan jelas melalui nilai-nilainya yang universal, yaitu bahwa setiap transaksi ekonomi (muamalat) harus didasarkan pada asas kejujuran, keadilan, toleransi dan suka sama suka, baik dalam perdagangan, kerjasama (sharing) ataupun semua aspek ekonomi. Indikasinya bisa dilihat dari dibolehkannya sistem barter (materi dan manfaat), baik melalui jual beli, sewa menyewa, penggadaian, kerja sama dan lainnya. Islam juga telah memberikan kebebasan yang seluas-luasnya dalam melakukan transaksi ekonomi (selama tidak melanggar nilai-nilai universal Islam) bahkan menyuruh umatnya untuk terus dinamis dalam menciptakan kemudahan-kemudahan transaksi melalui instrumen-instrumennya agar selalu update dan validdengan perubahan waktu dan perbedaan tempat. Indikasinya nampak pada tidak ada pengkhususan instrumen tertentu atau pembatasan pada instrumen tertentu. Apa yang telah diterapkan Rasulallah dan para sahabatnya pada jaman itu adalah hanya kecocokan jaman dan pengenalan mereka pada instrumen dan produk tersebut, dimana hanya instrumen/ produk itulah yang dikenal mereka dan dipakai pada saat itu. Artinya tidak ada keharusan bagi generasi-generasi berikutnya untuk melaksanakan instrumen dan produk yang pernah dipakai mereka selama nilai-nilai universalnya tetap dipertahankan. Nilai-nilai tersebut harus tetap dipertahankan dalam setiap waktu dan tempat. Islam telah mengharamkan setiap transaksi perekonomian yang mengandung unsur kedhaliman, curang dan penipuan. Apabila Islam telah membolehkan setiap transaksi ekonomi yang benar, berdasarkan keadilan dan kejujuran serta bertujuan mencapai kemaslahatan umat, maka di sisi lain, Islam juga telah mengharamkan setiap transaksi yang mengandung unsur kedhaliman, kecurangan dan penipuan seperti monopoli untuk menguasai pangsa pasar, menentukan harga seenaknya, jual beli gharar (spekulasi), manipulasi dalam jual beli, sumpah bohong, mengurangi timbangan, menjual belikan barang-barang yang diharamkan Syariat dan lainnya.
    Langkah-Langkah Membangun Bank Syariah yang Mandiri dan Unggul, dan Peluangnya
    Ada beberapa langkah yang diperlukan dalam rangka membangun Bank Syariah yang berdasarkan ajaran Islam, yaitu:
    1. Meningkatkan sosialisasi mengenai Bank Syariah dan komunikasi antar Bank Syariah dan lembaga-lembaga keuangan Islam. Bahwa ekonomi Islam (Bank Syariah) bukanlah semata-mata menyangkut aspek ibadah ritual saja, tetapi juga menyentuh dimensi-dimensi yang bersifat muamalah (sosial kemasyarakatan). Ekonomi Islam (Bank Syariah)pun bukan semata-mata bersifat eksklusif bagi umat Islam saja, tetapi juga bermanfaat bagi kalangan umat beragama lainnya. Sebagai contoh, 60 % nasabah Bank Islam di Singapura adalah umat non muslim. Kalangan perbankan di Eropa pun sudah melirik potensi perbankan Syariah. BNP Paribas SA, bank terbesar di Perancis telah membuka layanan Syariahnya, yang diikuti oleh UBS group, sebuah kelompok perbankan terbesar di Eropa yang berbasis di Swiss, telah mendirikan anak perusahaan yang diberi nama Noriba Bank yang juga beroperasi penuh dengan sistem Syariah. Demikian halnya dengan HSBC dan Chase Manhattan Bank yang juga membuka window Syariah. Bahkan kini di Inggris, tengah dikembangkan konsep pembiayaan real estate dengan skema Syariah. Ini semua membuktikan bahwa konsep ekonomi Islam berlaku secara universal.
    2. Mengembangkan dan menyempurnakan institusi-institusi keuangan Syariah (Bank Syariah) yang sudah ada. Jangan sampai transaksi-transaksi yang dilakukan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Karena itu dibutuhkan adanya pengawasan yang ketat terhadap aktivitas institusi ekonomi Islam (Bank Syariah) yang ada, baik itu perbankan Syariah, asuransi Syariah, lembaga zakat, maupun yang lainnya. Disini, dituntut optimalisasi peran Dewan Syariah Nasional MUI sebagai institusi yang memberikan keputusan/ fatwa apakah transaksi-transaksi ekonomi yang dilakukan oleh Bank Syariah telah sesuai dengan Syariah atau belum? Begitu pula dengan masyarakat luas, dimana dituntut pula untuk secara aktif mengawasi, mengontrol, dan memberikan masukan yang bersifat konstruktif bagi perbaikan dan penyempurnaan kinerja lembaga-lembaga ekonomi Syariah.
    3. Berusaha memperbaiki dan mengoreksi berbagai regulasi yang ada secara berkesinambungan. Perangkat perundang-undangan dan peraturan lainnya perlu terus diperbaiki dan disempurnakan. Kita bersyukur telah memiliki beberapa perangkat perundang-undangan yang menjadi landasan pengembangan ekonomi Syariah, seperti UU No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan, yang membolehkan shariah windows, maupun UU No. 17 tahun 2000, dimana zakat merupakan pengurang pajak. Namun ini belumlah cukup, apalagi mengingat Peraturan Pemerintah yang menjabarkan undang-undang tersebut belumlah ada, sehingga peraturan seperti zakat adalah sebagai pengurang pajak masih belum terealisasikan pada tataran operasional.
    Hal itu bisa dilakukan dengan melobi pemerintah agar memberikan peran yang sigifikan bagi Bank Syariah untuk mengoperasikan sistemnya, baik itu dengan membentuk deputi khusus untuk Bank Syariah di BI dan membuat undang-undang khusus yang mendukung pertumbuhan Bank Syariah (seperti tidak adanya pembatasan operasional, penghapusan pajak ganda untuk PPN dan lainnya)
    4. Melakukan kerja sama dengan Bank-Bank Syariah lainnya dan lembaga keuangan Islam, dalam dan luar negeri untuk melakukan koordinasi dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi Syariah.
    5. Meningkatkan pelayanan produk-produk Bank Syariah yang selama ini dianggap lamban dan kaku.
    6. Meningkatkan kualitas SDM yang memiliki kualifikasi dan wawasan ekonomi Syariah yang memadai.
    TANTANGAN PERBANKAN SYARIAH
    Umur yang pendek, instrumen dan produk yang terbatas, sumber daya manusia yang kurang dan asset yang masih kecil adalah tantangan Bank Syariah yang harus dikuasai dan ditaklukan, selama ada kemauan yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh insyaAllah Bank Syariah akan survive dan unggul. Tantangan tadi disamping sebagai motivasi, juga kendala dan hambatan yang harus dilewati oleh Bank Syariah.
    Adapun problematika yang banyak dihadapi Bank-Bank Syariah antara lain adalah:
    • Terpaku pada pengembangan konsep tanpa memperhatikan dinamika SDMnya, Bank Syariah seolah-olah disibukan oleh jargon “how to Islamize our banking system” dan lupa akan wacana ” how to Islamize the people involved in the banking industry”. Banyak masalah Bank Syariah disebabkan pemahaman dan kesadaran para praktisi Bank Syariah akan prinsip2 ekonomi Islam (Bank Syariah) belum sepenuhnya dimengerti.
    • Membatasi instrumen dan produk bank pada bentuk tertentu sehingga Bank-Bank Syariah kesulitan dalam mengembangkannya, bahkan terjebak dalam siklus investasi yang sempit. Hal ini menunjukan tidak adanya keberanian dan kemauan yang sungguh-sungguh dari para pelaku Bank Syariah. Dengan memberikan pilihan bentuk investasi kepada para klien adalah jaminan akan kematangan konsep Bank Syariah, dimana setiap klien akan memilih instrumen-instrumen tadi sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan peluangnya. Berbeda apabila Bank Syariah hanya menyediakan instrumen investasi dalam bentuk-bentuk tertentu, dimana seorang klien dengan terpaksa hanya mengandalkan instrumen yang tersedia, hal itu bisa berakibat fatal apabila kemampuan klien dan peluangnya tidak bisa dikembangkan pada instrumen yang tersedia pada Bank Syariah. Contohnya: seorang klien mempunyai peluang investasi yang mengandalkan bentuk musyarakah, dan ternyata bentuk investasi yang tersedia di bank hanya dalam bentuk murabahah dan ijarah. Dalam hal ini, memaksakan salah satu dari dua instrumen investasi akan fatal dan berisiko tinggi.
    • Kurang sosialisasi dan komunikasi. Bank Syariah kini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Perkembangan perbankan Syariah yang pesat serta pelajaran yang diberikan oleh krisis keuangan yang terjadi 1997, telah memunculkan harapan pada sebagaian masyarakat bahwa pengembangan ekonomi Syariah merupakan suatu solusi bagi peningkatan ketahanan ekonomi nasional, juga sebagai pelaksanaan kewajiban Syariat Islam.
    Di sisi lain, harapan di atas belum diiringi oleh pemahaman masyarakat yang cukup atas ekonomi Syariah itu sendiri. Kondisi ini akan mempengaruhi eksistensi dan pertumbuhan perbankan Syariah.
    Oleh karenanya, tindakan antisipatif tentu perlu dilakukan, yaitu sosialisasi dan komunikasi mengenai ekonomi Islam, yang dalam hal ini diwakili lembaga perbankan Syariah perlu digalakan dan ditingkatkan.
    memang kegiatan sosialisasi dan komunikasi ekonomi Syariah dirasakan masih kurang yang bermuara pada kurang efektifnya kegiatan tersebut. Hal itu disebabkan belum adanya kebersamaan dalam kegiatan sosialisasi dan komunikasi ekonomi Syariah.

    Untuk menjawab hal tersebut perlu dibentuk lembaga Komunikasi Ekonomi Syariah yang alhamdulillah lembaga tersebut sudah terbentuk yaitu Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) yang dibentuk oleh 30 lembaga keuangan Syariah. Memang peran PKES masih kurang dan dituntut untuk lebih serius dalam menjalankan komunikasi dan sosialisasi tentang ekonomi Syariah.
    • Kurang mendapat dukungan pemerintah dan masyarakat. Hal itu nampak pada kebijaksanaan pemerintah yang kurang mendukung pertumbuhan Bank Syariah dan pengembangannya, belum ada undang-undang khusus yang mengatur sistem perbankan Syariah dan tidak ada deputi khusus di Bank Indonesia yang mengatur khusus tentang Bank Syariah adalah tantangan dan problematika Bank Syariah.
    SUMBER :
    http://konsultasimuamalat.me/2008/02/05/peluang-dan-tantangan-bank-syariah-di-indonesia/
    sabtu, 24 November 2012 Jam 15.00

  15. Revisi Tugas

    ANGGOTA KELOMPOK :
    1. Royan Irkhamulloh (1102010064)
    2. Hendri Susanto (1102010118)
    3. Tri Yana (1102010098)
    4. Cahyadi (1102010112)
    TEMA : STRATEGI PENGEMBANGAN DAN TANTANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA
    JUDUL : Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia
    WEB : http://www.iaincirebon.ac.id/mepi/2012/07/kebijakan-pengembangan-perbankan-syariah-di-indonesia.htm
    JAM AKSES: Selasa, 04 Desember 2012 pukul 07.23
    Untuk memberikan pedoman bagi stakeholders perbankan syariah dan meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia, selanjutnya Bank Indonesia pada tahun 2002 telah menerbitkan “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia”. Dalam penyusunannya, berbagai aspek telah dipertimbangkan secara komprehensif, antara lain kondisi aktual industri perbankan syariah nasional beserta perangkat-perangkat terkait, trend perkembangan industri perbankan syariah di dunia internasional dan perkembangan sistem keuangan syariah nasional yang mulai mewujud, serta tak terlepas dari kerangka sistem keuangan yang bersifat lebih makro seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI) maupun international best practices yang dirumuskan lembaga-lembaga keuangan syariah internasional, seperti IFSB (Islamic Financial Services Board), AAOIFI dan IIFM.
    Pengembangan perbankan syariah diarahkan untuk memberikan kemaslahatan terbesar bagi masyarakat dan berkontribusi secara optimal bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, maka arah pengembangan perbankan syariah nasional selalu mengacu kepada rencana-rencana strategis lainnya, seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API), Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI), serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Dengan demikian upaya pengembangan perbankan syariah merupakan bagian dan kegiatan yang mendukung pencapaian rencana strategis dalam skala yang lebih besar pada tingkat nasional.
    “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” memuat visi, misi dan sasaran pengembangan perbankan syariah serta sekumpulan inisiatif strategis dengan prioritas yang jelas untuk menjawab tantangan utama dan mencapai sasaran dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, yaitu pencapaian pangsa pasar perbankan syariah yang signifikan melalui pendalaman peran perbankan syariah dalam aktivitas keuangan nasional, regional dan internasional, dalam kondisi mulai terbentuknya integrasi dgn sektor keuangan syariah lainnya.
    Dalam jangka pendek, perbankan syariah nasional lebih diarahkan pada pelayanan pasar domestik yang potensinya masih sangat besar. Dengan kata lain, perbankan Syariah nasional harus sanggup untuk menjadi pemain domestik akan tetapi memiliki kualitas layanan dan kinerja yang bertaraf internasional.
    Pada akhirnya, sistem perbankan syariah yang ingin diwujudkan oleh Bank Indonesia adalah perbankan syariah yang modern, yang bersifat universal, terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk-bentuk aplikatif dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konteks kekinian permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan kondisi sosio-kultural di dalam mana bangsa ini menuliskan perjalanan sejarahnya. Hanya dengan cara demikian, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan senantiasa dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: