Tugas II tgl 21 Mei 2012 : Teori bagi Hasil

Kirimkan dari sumber yg terpercaya (jurnal dll) teori bagi hasil di sini.Maksimal 1 halmn .Spasi 1.Tulisan yg sama akan di nilai yg pertama masuk blog.paling lambat Ahad 28 Mei 2012 pkl 00.00.Artikel asli boleh via email herminendratno2002@yahoo.com.Satu kelompok maks 5 orang.

9 responses to this post.

  1. Posted by Nyositha Dwiarinie Citra Yekti on Mei 21, 2012 at 6:22 am

    TUGAS EKONOMI ISLAM
    Pendapat / Wacana / ide tentang konsep kebijakan fiskal islam dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
    SUMBER :
    • Dede Nurohman. Kebijakan Fiskal Indonesia. Jurnal AHKAM, Volume 9, Nomor 2, November 2007 : 140-150 diakses pada tanggal 15 Mei 2012 pkl.14.05
    • Republika One diakses pada tanggal 15 Mei 2012 pkl.14.10
    • Karim, Adiwarman .A. Ekonomi Makro Islami. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,2007. Diakses pada tanggal 15 Mei 2012 pkl. 19.01
    http://organisasi.org/definisi-pengertian-kebijakan-moneter-dan-kebijakan-fiskal-instrumen-serta-penjelasannya diakses pada tanggal 15 mei 2012 pkl.19.09
    http://asyukri.wordpress.com/2009/05/27/implementasi-kebijakan-moneter-dan-fiskal-dalam-islam/999999 diakses pada tanggal 15 mei 2012 pkl.19.31
    Oleh : 1. Nyositha Dwiarinie Citra Yekti 0702010032
    2. Mulyani Henni S 1002010048
    3. Rina Susanti 0902010036
    4. Lia Lusiana 1002010008
    Dengan menerapkan ideologi Islam dalam bernegara kebijakan-kebijakan ekonomi dapat berjalan lancar tanpa ada gannguan teknis yang menghalangi. Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk Islam mencapai 80% dapat dengan mudah menerapkan ideologi Islam dalam perekonomiannya. Prioritas tujuan kebijakan fiskal negara Indonesia, menurut kacamata para pakar perekonomian Islam adalah pembentukan modal yang digunakan untuk pelayanan dan kebutuhan sosial masyarakat yang mendasar yang meliputi dua aspek : a) pelayanan sosial yang bersifat membantu menanggulangi kesulitan hidup manusia yang disebabkan oleh gejala alam, peperangan dan kelaparan; dan b) pelayanan sosial yang bersifat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdiri dari sandang, pangan dan papan. Kesemuanya ini mengacu pada satu kehendak al-Syari’; memelihara dan menjaga esensi kemanusiannya.Penetapan pajak dan zakat tidak lagi dipermasalahkan. Keduanya merupakan alat untuk menggali pendapatan yang akan diredistribusi ulang guna menyediakan pelayanan sosial yang lebih luas. Kejelasan kedua posisi secara Yuridis di Indonesia memberikan kelonggaran bagi pemerintah untuk mengaplikasikannya secara lebih efektif dalam rangka mempercepat munculnya kesejahteraan masyarakat.
    Penjabaran mengenai posisi zakat dan pajak dalam kerangka kebijakan fiskal yang islami, akan dapat memberikan keseimbangan bagi stabilitas perekonomian negara dan meningkatkan pembangunan perekonomian yang menjadi tujuannya. Keadaan ini akan ditandai dengan meningkatnya laju investasi, memperluas kesempatan kerja, ketahanan dari pengaruh perekonomian makro, dan meningkatkan distribusi pendapatan nasioanal. Prinsip ajaran Islam tidak memberikan arahan dibolehkannya pemerintah mengambil sebagian harta milik orang kaya secara paksa (Undang-undang dalam ekonomi modern). Dalam konteks ekonomi modern pajak merupakan satu-satunya sektor pendapatan terpenting terbesar dengan alasan bahwa pendapatan tersebut dialokasikan kepada publics goods dan mempunyai tujuan sebagai alat redistribusi, penstabilan dan pendorongan pertumbuhan ekonomi. Seandainya pungutuan pajak tersebut diperbolehkan dalam Islam maka kaidahnya harus berdasarkan pada kaidah a’dalah dan kaidah dharurah yaitu pungutan tersebut hanya bagi orang yang mampu atau kaya dan untuk pembiayaan yang betul-betul sangat diperlukan dan pemerintah tidak memiliki sektor pendapatan lainnya.
    Di Negara Indonesia kebijkan fiskal diwujudkan dengan pelaksanaan pajak. Pajak dikedepankan dari zakat. Pajak diatur sedemikian rupa melalui undang-undang perpajakan. Sementara zakat dianggap sebgai hukum konvensional yang hanya mengikat golongan Islam saja. Dalam hal ini pemerintah bertindak sebagai fasilitator atas pelaksananya. Implikasi yang muncul dari keadaan ini adalah rendahnya pendapatan yang diperoleh pemerintah dan tidak adanya keberpihakan pemerintah kepada golongan miskin. Karena pajak harus dibayarkan oleh semua warga negara. Sementara zakat hanya diwajibkan oleh golongan yang mempunyai kekayaan saja. Dalam hal ini pemerintah tidak dapat mengubah tariff zakat yang memang sudah ditentukan oleh syariah, akan tetapi pemerintah dapat mengadakan perubahan dalam struktur harta yang wajib dizakati dengan berpegang dengan nash-nash umum yang ada dan pemahaman terhadap realita modern. Sebagai contoh mengenai fleksibelitas.
    Pemanfaatan sumber daya alam menempati posisi puncak dalam penggalian pendapatan negara dibandingkan dengan pajak dan pinjaman. Indonesia memiliki potensi besar dalam kekayaan alam. Ini mengindikasikan bahwa kebijakan fiskal di Indonesia tidak serumit di negara-negara yang memiliki sumber daya alam terbatas. Namun pada kenyataannya Indonesia masih belum mampu mengelolanya secara efektif dan efisien sehingga dampak dari kenyataan ini adalah kebijkan fiskal pemerintah Indonesia seakan kehabisan akal. Pemerintah hanya dapat menanggulanginya dengan menaikkan pajak dan harga-harga. Yang tentu saja sungguh memprihatinkan.
    Kecacatan moral menjadi penyebab dominan kerapuhan perekonomian Indonesia. Munculnya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme sangat mengganggu tujuan ekonomi dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. Pemasukan pendapatan yang diperoleh melalui kebijakan fiskal tidak dapat digunakan untuk mengatur sendi-sendi penyeimbang kegiatan ekonomi. Tetapi digerogoti oleh para koruptor. Problem moral di Indonesia dapat diatasi dengan memahami nilai-nilai dan prinsip perekonomian Islam. Karena infiltrasi ideologi kapitalis dalam perekonomian Indonesia telah memberikan peluang-peluang kearah kebebasan dan ketakterbatasan tindakan berekonomi masyarakat. Sementara ideologi perekonomian Islam membangun pondasi awalnya dengan landasan etika.

  2. Posted by Nyositha Dwiarinie Citra Yekti on Mei 21, 2012 at 6:31 am

    SUMBER :
    1. http://www.scribd.com/doc/11349377/Konsep-Bagi-Hasil
    2. http://kamale.wordpress.com/2006/07/07/10/
    3. http://eprints.undip.ac.id/18228/1/SLAMET_MARGONO.pdf
    Oleh : 1. Nyositha Dwiarinie Citra Yekti 0702010032
    2. Mulyani Henni S 1002010048
    3. Rina Susanti 0902010036
    4. Lia Lusiana 1002010008

    Sistem bagi hasil yang diterapkan di dalam perbankan syari’ah terbagi kepada dua sistem, yaitu; pertama Profit Sharing yaitu sistem bagi hasil yang didasarkan pada hasil bersih dari pendapatan yang diterima atas kerjasama usaha, setelah dilakukan pengurangan-pengurangan atas beban biaya selama proses usaha tersebut. Kedua Revenue Sharing adalah sistem bagi hasil yang didasarkan kepada total seluruh pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkanuntuk memperoleh pendapatan tersebut.
    Di dalam perbankan syari’ah Indonesia sistem bagi hasil yang diberlakukan adalah sistem bagi hasil dengan berlandaskan pada sistem revenue sharing. Bank syari’ah dapat berperan sebagai pengelola maupun sebagai pemilik dana, ketika bank berperan sebagai pengelola maka biaya tersebut akan ditanggung oleh bank, begitu pula sebaliknya jika bank berperan sebagai pemilik dana akan membebankan biaya tersebut pada pihak nasabah pengelola dana.
    Bagi hasil atau profit sharing ini dapat diartikan sebagai sebuah bentuk kerjasama antara pihak investor atau penabung, istilahnya shahibul maal dengan pihak pengelola atau mudharib, dan nantinya akan ada pembagian hasil sesuai dengan persentase jatah bagi hasil (nisbah) sesuai dengan kesepakatan ke dua belah pihak. Mudharabah ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu mudharabah muthlaqah, yaitu bagi hasil yang bersifat tidak terbatas (unrestricted), dan mudharabah muqayyadah, yaitu bagi hasil yang bersifat terbatas (restricted)
    Sistem bagi hasil pada dasarnya adalah suatu sistem pengelolaan dana atas pembagian hasil usaha antara pihak Bank dan penyimpan dana ataupun pihak pengelola dana, baik berupa keuntungan ataupun kerugian, dengan ketentuan yang berdasarkan kesepakatan / perjanjian dimana pihak pengelola mendapat bagian lebih besar atau lebih kecil dari pada pemilik modal, tergantung pada kesepakatan dalam akad / perjanjian.
    Kedudukan pemilik modal dengan pengelola modal adalah sejajar, karena pemilik modal dan pengelola saling berkepentingan dan saling membutuhkan. Inti daripada sistem bagi hasil terletak pada kesepakatan dalam akad / perjanjian yang harus ditaati oleh kedua belah pihak karena dalam syariah Islam bahwa janji harus ditaati (Al- Hadist).

  3. Posted by Aldo Hernanda P (1002010009) 2. Krisna Septiani (1002010013) 3. Tony Hartono A. (1002010039) 4. Wiwit Adi S. (1002010073) 5. Yuliani Astuti (1002010084) on Mei 21, 2012 at 7:11 am

    Sumber : http://www.scribd.com/doc/11349377/Konsep-Bagi-Hasil hari Senin, 21 Mei 2012 pukul 14.04

    Oleh : 1. Aldo Hernanda P (1002010009) 2. Krisna Septiani (1002010013)
    3. Tony Hartono A. (1002010039) 4. Wiwit Adi S. (1002010073)
    5. Yuliani Astuti (1002010084)

    SISTEM BAGI HASIL

    Sistem bagi hasil merupakan sistem di mana dilakukannya perjanjian atauikatan bersama di dalam melakukan kegiatan usaha. Di dalam usaha tersebutdiperjanjikan adanya pembagian hasil atas keuntungan yang akan di dapat antara kedua belah pihak atau lebih. Bagi hasil dalam sistem perbankan syari’ah merupakan ciri khusus yang ditawarkan kapada masyarakat, dan di dalam aturan syari’ah yang berkaitan dengan pembagian hasil usaha harus ditentukan terlebih dahulu pada awal terjadinyakontrak (akad). Besarnya penentuan porsi bagi hasil antara kedua belah pihak ditentukansesuai kesepakatan bersama, dan harus terjadi dengan adanya kerelaan ( An-Tarodhin) di masing-masing pihak tanpa adanya unsur paksaan.
    Sistem Bagi hasil yang diterapkan di dalam perbankan syari’ah terbagi kepadadua sistem, yaitu:
    Pertama. Profit Sharing yaitu sistem Bagi hasil yang didasarkan pada hasil bersih dari pendapatan yang diterima atas kerjasama usaha, setelah dilakukan penguranganpengurangan atas beban biaya selama proses usaha tersebut.
    Sistem profit and loss sharing dalam pelaksanaannya merupakan bentuk dari perjanjian kerjasama antara pemodal (Investo ) dan pengelola modal (enterpreneur)dalam menjalankan kegiatan usaha ekonomi, dimana di antara keduanya akan terikatkontrak bahwa di dalam usaha tersebut jika mendapat keuntungan akan dibagi kedua pihak sesuai nisbah kesepakatan di awal perjanjian, dan begitu pula bila usaha mengalamikerugian akan ditanggung bersama
    sesuai porsi masing-masing.
    Kedua.Revenue Sharing adalah sistem bagi hasil yang didasarkan kepada total seluruh pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkanuntuk memperoleh pendapatan tersebut. Di dalam perbankan syari’ah Indonesia sistem bagi hasil yang diberlakukanadalah sistem bagi hasil dengan berlandaskan pada sistem revenue sharing. Bank syari’ah dapat berperan sebagai pengelola maupun sebagai pemilik dana, ketika bank berperan sebagai pengelola maka biaya tersebut akan ditanggung oleh bank, begitu pulasebaliknya jika bank berperan sebagai pemilik dana akan membebankan biaya tersebut pada pihak nasabah pengelola dana.

    B.Jenis-jenis Akad Bagi Hasil
    Bentuk-bentuk kontrak kerjasama bagi hasil dalam perbankan Syariah secaraumum dapat dilakukan dalam empat akad, yaitu Musyarakah, Mudharabah, Muzara’ah dan Musaqah. Namun, pada penerapannya prinsip yang digunakan pada sistem bagi hasil pada umumnya bank syariah menggunakan kontrak kerjasama pada akad Musyarakah dan Mudharabah.
    a. Musyarakah (Joint Venture Profit & Loss Sharing )
    Adalah mencampurkan salah satu dari macam harta dengan harta lainnyasehingga tidak dapat dibedakan di antara keduanya. Dalam pengertian lain musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di manamasing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau amal/expertise) dengankesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengankesepakatan.
    b. Mudharabah (Trustee Profit Sharing )
    Adalah suatu pernyataan yang mengandung pengertian bahwa seseorangmemberi modal niaga kepada orang lain agar modal itu diniagakan dengan perjanjiankeuntungannya dibagi antara dua belah pihak sesuai perjanjian, sedang kerugianditanggung oleh pemilik modal.
    Adapun bentuk-bentuk mudharabah yang dilakukan dalam perbankansyariah dari penghimpunan dan penyaluran dana adalah:
    1.Tabungan Mudharabah.
    Yaitu, simpanan pihak ketigayang penarikannya dapat dilakukan setiap saat atau beberapa kali sesuai perjanjian.
    2. Deposito Mudharabah.
    Yaitu, merupakan investasimelalui simpanan pihak ketiga (perseorangan atau badanhukum) yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu (jatuh tempo), dengan mendapatimbalan bagi hasil.
    .

  4. Posted by cici filyani on Mei 21, 2012 at 7:30 am

    1. Pita Purwaningsih 1002010001
    2. Ipah Triwijati 1002010002
    3. Cici Filyani 1002010027
    4. Iis Isma A 1002010040
    5. Aprilia WF 1002010044
    Teori Bagi Hasil

    Sistem profit sharing sebetulnya sangat bagus sekali dari sudut pandang syariat. Karena sistem ini lebih adil daripada sistem bunga. Bahkan sistem bunga bisa digolongkan kedalam kategori riba yang sudah jelas hukumnya haram.
    Sistem bagi hasil sejatinya adalah suatu kerja sama antara dua pihak dalam menjalankan usaha. Pihak pertama yaitu pengusaha yang memberikan andil dalam keahlian, keterampilan, sarana dan waktu untuk mengelola usaha tersebut. Sedangkan pihak kedua yaitu pemodal (investor) yang memiliki andil dalam mendanai usaha itu agar dapat berjalan. Baik itu modal kerja saja atau modal secara keseluruhan.
    Atas masing-masing andil itulah, kedua belah pihak berhak atas hasil usaha yang mereka kerjakan. Karena tidak ada yang dapat memastikan, berapa keuntungannya. Maka pembagian hasil usaha itu ditetapkan dalam bentuk prosenstase bagi hasil dari keuntungan yang didapat, bukan atas besarnya dana yang diinvestasikan.
    Kapan keuntungan itu dibagikan tergantung dari perjanjian dan jenis usaha yang dijalankan. Pembagian keuntungan itu dilakukan setidaknya dalam satu siklus usaha. Jika usaha itu berupa pertanian, maka yang disebut sebagai satu siklus usaha adalah sejak menanam sampai panen. Jika usahanya terus-menerus dan sulit ditentukan akhirnya, biasanya disepakati setiap satu bulan atau satu tahun.
    Namun tak ada juga yang dapat memastikan bahwa usaha itu akan selalu untung. Untung atau rugi, itu hal yang biasa dalam berusaha. Lalu bagaimana kalau usaha itu rugi? Karena untung dibagi bersama, maka kerugian pun dibagi bersama pula, itulah letak keadilan dari sistem bagi hasil.
    Pemodal memiliki resiko kehilangan sebagian atau seluruh modalnya jika usahanya merugi. Sedangkan pengusaha menanggung rugi berupa kerja dan waktunya yang sama sekali tidak dibayar. Ingat, pengusaha tidak boleh mengambil gaji dari usaha itu. Ia hanya berhak atas pembagian untung. Jika pengusaha itu sudah mengambil sebagian modal untuk kebutuhan pribadinya (termasuk gaji), maka ia harus mengembalikannya ke pemodal. Begitu juga pengusaha tidak boleh menggunakan modal kerja yang diterimanya untuk dialihkan menjadi pembangunan sarana produksi.
    Berikut ini, poin-poin yang harus diwaspadai sebelum Anda terlanjur tertarik untuk menginvestasikan usaha Anda pada investasi yang mengaku menggunakan sistem bagi hasil:
    1. Menjanjikan tingkat keuntungan yang pasti atas nilai investasi
    2. Tetap menjanjikan keuntungan walau usahanya merugi
    3. Jaminan modal kembali
    Jaminanan modal kembali juga bukan ciri-ciri usaha bagi hasil, karena sesungguhnya pemodal juga memiliki resiko jika usahanya merugi terus-menerus sampai habis modalnya.
    4. Perbandingan prediksi dengan harga pasar
    5. Pembukuan yang transparan
    6. Keterbatasan penyerapan modal
    Kemampuan dan skala usaha yang dimiliki pengusaha pastilah terbatas.

    http://www.perencanakeuangan.com/files/SistemBagiHasil.html 14:16

  5. Posted by Ali Nuraeni on Mei 21, 2012 at 7:40 am

    Kelompok :
    ArifWidodo 0902010009
    Anggoro T.K 0902010019
    NurFitriyani 0902010028
    Prasetiyo 0902010034
    Ali Nuraeni 0902010050

    Sumber :

    Teori Bagi Hasil (Profit Loss Sharing) Dalam Perbankan Syari’ah

    Sebagaimana diketahui, bank yang beroprasi berdasarkan prinsip-prinsipIslam menawarkan sistem bagi hasil kepada nasabahnya. Artinya, selain pembagian untung dan rugi sama-sama ditanggung oleh kedua belah pihak,dan juga dapat dipahami bahwa keuntungan yang akan diperoleh nasabah bisa berubah-ubah, semuanya tergantung pada pendapatan atau keuntungan yangdiperoleh bank syariah. Besarnya prsentase bagi hasil sudah ditetapkan oleh pihak bank. Namun, biasanya masih membuka ruang tawar-menawar dalam batas yang wajar.
    Perhitungan bagi hasil di bank syariah ada dua jenis; pertama Profit/Loss Sharing . Dalam sistem ini, besar-kecil pendapatan bagi hasil yangditerima nasabah tergantung keuntungan bank. Kedua Revenue Sharing .Dalam sistem ini, penentuan bagi hasil akan tergantung pada pendapatankotor bank. Bank-bank syariah di Indonesia umumnya menerapkan sistemRevenue Sharing. Pola ini dapat memperkecil kerugian bagi nasabah, Hanyasaja jika bagi hasil didasarkan pada profit sharing, maka presentase bagi hasiluntuk nasabah akan jauh lebih tinggi.
    Menurut pengamat perbankan dan investasi Elvyn G.Masassya, bahwamenabung di bank syariah cukup menarik, tidak hanya bagi masyarakatmuslim tetapi juga non-muslim. Soalnya, dengan sistem bagi hasil akanterbuka peluang mendapatkan hasil investasi yang lebih besar dibandingkan dengan bunga di bank konvensional. Jika ingin mendapatkan return yanglebih besar, “simpanan di bank syariah dapat menjadi alternative,” ujar Elvyn. Tentu saja harus didukung kondisi ekonomi yang kondusif, yangmemungkinkan perusahaan disektor riil mampu membukukan keuntungan besar.
    Prinsip bagi hasil dalam perbankan syaria’ah menjadi prinsip utama danterpenting, karena keuntungan (bagi hasil) merupakan balasan (upah) atas usaha dan modal, besar-kecilnya pun tergantung pada keduanya. Dalamqawaid fiqhiyah (kaidah fiqh) dikatakan “ algharam bil ghanam ” (ada untungrugi), prinsip ini memenuhi prinsip keadilan ekonomi. Dan didalam kaedah bisnis dikatakan bahwa setiap yang akan menghasilkan keuntungan yang besar, terkandung juga rsiko yang besar ( high risk, high return ).
    Bagi pihak yang akan menjalankan prinsip ini, maka harus membuatkesepakatan diawal yang berkaitan dengan usaha yang akan dijalankan danmenetapkan nisbah (bagian) bagi hasil masing-masing pihak menurut cara pembagiannya. Usaha yang akan dijalankan merupakan usaha-usaha yangdibenarkan menurut syariah, tidak boleh ditanamkan pada usaha yang diharamkan. Yang akan dibagi hasilkan adalah keuntungan bersih dari usahatersebut tetapi boleh juga dibuat kesepakatan diantara dua pihak jika bagihasil diperhitungkan dari total sales. Karena yang dibagi hasilkan merupakansuatu keuntungan, maka besar kecilnya nominal keuntungan akan mengalamiturun-naik, tergantung dari usaha dan kesungguhan dalam mengelola usahatersebut.

  6. Posted by titik ardiati on Mei 21, 2012 at 7:47 am

    Teori Bagi Hasil

    Bagi hasil menurut terminologi asing (Inggris) dikenal dengan profit sharing . Profit sharing dalam kamus ekonomi diartikan dengan pembagian laba. Secara definitif profit sharing diartikan:”distribusi beberapa bagian dari laba pada para pegawai dari suatu perusahaan”.25 Hal itu dapat berbentuk suatu bonus uang tunai tahunan yang didasarkan pada laba yang diperoleh pada tahun-tahun sebelumnya, atau dapat berbentuk pembayara mingguan/bulanan.

    Mekanisme lembaga keuangan syariah pada pendapatan bagi hasil ini berlaku untuk produk penyertaan atau bentuk bisnis korporasi (kerjasama). Pihak-pihak yang terlibat dalam kepentingan bisnis yang disebutkan tadi harus melakukan transparasi dan kemitraan secara baik dan ideal. Sebab semua pengeluaran dan pemasukan rutin yang berkaitan dengan bisnis
    penyertaan, bukan untuk kepentingan pribadi yang menjalankan proyek.26

    Keuntungan yang dibagihasilkan harus dibagi secara proporsional antara shahibul maal dengan mudharib. Dengan demikian, semua pengeluaran rutin yang berkaitan dengan bisnis mudharabah, dapat dimasukkan ke dalam biaya operasional. Keuntungan bersih harus dibagi antara shahibul maal dan mudharib sesuai dengan proporsi yang disepakati sebelumnya dan secara eksplisit disebutkan dalam perjanjian awal. Tidak ada pembagian laba sampai semua kerugian telah ditutup dan ekuiti shahibul maal telah dibayar kembali. Jika ada pembagian keuntungan sebelum habis masa perjanjian akan dianggap sebagai pembagian keuntungan dimuka.

    Kerja sama para pihak dengan sistem bagi hasil harus dilaksanakan dengan transparan dan adil. Hal ini disebabkan untuk mengetahui tingkat bagi hasil pada periode tertentu itu tidak dapat dijalankan kecuali harus ada laporan keuangan atau pengakuan yang terpercaya. Pada tahap perjanjian kerja sama ini disetujui oleh para pihak, maka semua aspek yang berkaitan dengan usaha harus disepakati dalam kontrak, agar antar pihak dapat saling mengingatkan

    Konsep Bagi Hasil

    Konsep bagi hasil adalah sebagai berikut:
    a. Pemilik dana akan menginvestasikan dananya melalui lembaga keuangan syariah yang bertindak sebagai pengelola;
    b. Pengelola atau lembaga keuangan syariah akan mengelola dana tersebut dalam sistem pool of fund selanjutnya akan menginvestasikan dana tersebut ke dalam proyek atau usaha yang layak dan menguntungkan serta memenuhi aspek syariah;
    c. Kedua belah pihak menandatangani akad yang berisi ruang lingkup kerjasama, nominal, nisbah dan jangka waktu berlakunya kesepakatan tersebut.

    Disusun oleh:
    Titik ardiati 0902010007
    Esty Purwandani 0902010016
    Ratna Sentika L 0902010003
    Ika Purwaningsih 1002010025
    Susy Marrifah 0802010046

  7. Posted by Eirayne Visit M on Mei 27, 2012 at 10:21 am

    Analisis Sistem Bagi Hasil Deposito Pada PT Bank Jabar Syariah

    Perbankan adalah satu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan mengirimkan jasa pengiriman uang. Di dalam sejarah ekonomi kaum muslim, pembiayaan yang dilakukan dengan akad yang sesuai syariah telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak jaman Rasulullah SAW. Contohnya seperti praktik-praktik menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan untuk keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang. Dengan demikian, fungsi-fungsi utama perbankan modern yaitu menerima deposito, menyalurkan dana, dan melakukan transfer menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam, bahkan sejak jaman Rasulullah.
    Perbankan Syariah merupakan lembaga investasi dan jasa perbankan, di mana sumber dana dan sistem operasionalnya berdasarkan dengan nilai-nilai Islam, sehingga tujuannya tidak semata-mata mencari keuntungan materi, melainkan mengikuti syariat ajaran Islam.
    Perbankan syariah pertama kali dilakukan di Negara Malaysia pada pertengahan tahun 40-an, namun usaha perbankan syariah tersebut tidak sukses. Selanjutnya usaha pendirian bank syariah dilakukan di Negara Mesir pada tahun 1963 dengan nama Mit Gharm Local Saving Bank.
    Di Indonesia sendiri bank syariah yang pertama didirikan pada tahun 1992 adalah Bank Muamalat. Perlu diketahui bahwa produk-produk perbankan syariah tidak hanya ditujukan bagi orang Islam saja tetapi pada hakekatnya semua orang dan golongan. Jadi, siapapun bisa menjadi nasabah bank syariah sepanjang ia dapat memenuhi persyaratan yang ada dan yang telah ditentukan oleh pihak bank itu sendiri.
    Sistem perbankan syariah merupakan suatu sistem yang bisa menjadi solusi dalam permasalahan ekonomi. Saat ini penerapan ekonomi syariah sudah semakin luas. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lembaga keuangan yang berbasis syariah.
    Perkembangan Bank Syariah saat ini sangat pesat dipicu oleh UU No. 10 tahun 1998 yang memungkinkan perbankan menjalankan dual banking system. Bank-bank konvensional yang menguasai pasar mulai melirik dan membuka Unit Usaha Syariah.
    Dalam meyediakan produk penghimpun dana, Bank Syariah tidak melakukan pendekatan tunggal bagi para nasabahnya. Misalnya, pada tabungan beberapa bank memperlakukannya seperti deposito, bahkan ada yang tidak menyediakan produk tabungan sama sekali. Pada dasarnya, dilihat dari segi sumbernya, dana Bank Syariah terdiri atas modal, titipan , investasi.

    Kelompok:
    1. Anisa Akhyas MP (0902010008)
    2. Elsa Nurida (0902010037)
    3. Eirayne visit M (0902010054)
    4. Nur iftiani (0902010064)
    5. Diyah tri utami (0902010065)

  8. Posted by Nur Itsna W on Mei 27, 2012 at 1:07 pm

    NAMA :
    1. NUR ITSNA WIJAYANTI (0902010021)
    2. WIWIT MURFITRIANA (0902010035)
    3. RADEN TIKA DESTIANA (0902010048)
    4. ACHMAD MUSTOFA (0902010040)
    5. BAYU ADI PRASETYO (0802010044)
    PRODI : MANAJEMEN SI / VI
    HARI,TANGGAL : MINGGU, 27 Mei 2012
    WAKTU : 19.26 WIB
    WEB :
    http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=teori%20bagi%20hasil&source=web&cd=4&ved=0CFcQFjAD&url=http%3A%2F%2Fidb4.wikispaces.com%2Ffile%2Fview%2Fsm4009%2BANALISIS%2BMETODE%2BPERHITUNGAN%2BBAGI%2BHASIL%2BPADA.pdf&ei=BrCT_uUHsHorQfG19THCQ&usg=AFQjCNF_UxV5rsPzw88jpsKPVe4jgwI7HA&cad=rja
    http://www.google.co.id/search?q=teori+bagi+hasil&hl=id&prmd=imvns&ei=BrCT_uUHsHorQfG19THCQ&start=10&sa=N&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.r_qf.,cf.osb&biw=1252&bih=594&ech=1&psi=BrCT_uUHsHorQfG19THCQ.1338120957903.3&emsg=NCSR&noj=1&ei=BrCT_uUHsHorQfG19THCQ

    TEORI BAGI HASIL
    Bagi hasil adalah bentuk return (perolehan kembaliannya) dari kontrak investasi, dari waktu ke waktu, tidak pasti dan tidak tetap. Besar-kecilnya perolehan kembali itu bergantung pada hasil usaha yang benar-benar terjadi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sistem bagi hasil merupakan salah satu praktik perbankan syariah.

    Teori bagi hasil (profit and loss sharing) – bila dianalisis menggunakan teori keuangan/moneter — lebih mencerminkan kesesuaian dengan teori flow concept. Sedangkan munculnya bunga bank lebih didasari pemikiran teori stock concept.

    Penerapan instrumen bagi hasil lebih mencerminkan keadilan dibandingkan dengan instrumen bunga. Bagi hasil melihat kemungkinan profit (untung) dan resiko sebagai fakta yang mungkin terjadi di kemudian hari. Sedangkan bunga hanya mengakui kepastian profit (untung) pada penggunaan uang. Bagi hasil merupakan penggerak dasar operasionalisasi perbankan syariah, sedangkan bunga merupakan penggerak dasar operasionalisasi perbankan konvensional.

    Metode bagi hasil terdiri dari dua sistem:
    a. Bagi untung (Profit Sharing) adalah bagi hasil yang dihitung dari pendapatan setelah dikurangi biaya pengelolaan dana. Dalam sistem syariah pola ini dapat digunakan untuk keperluan distribusi hasil usaha lembaga keuangan syariah;
    b. Bagi hasil (Revenue Sharing) adalah bagi hasil yang dihitung dari total pendapatan pengelolaan dana. Dalam sistem syariah pola ini dapat digunakan untuk keperluan distribusi hasil usaha lembaga keuangan syariah

    Aplikasi perbankan syariah pada umumnya, bank dapat menggunakan sistem profit sharing maupun revenue sharing tergantung kepada kebijakan masing-masing bank untuk memilih salah satu dari sistem yang ada. Bankbank syariah yang ada di Indonesia saat ini semuanya menggunakan perhitungan bagi hasil atas dasar revenue sharing untuk mendistribusikan bagi hasil kepada para pemilik dana (deposan).

  9. Posted by nur fadkur r on Mei 27, 2012 at 1:25 pm

    Tugas Ekonomi Islam II
    1. Nur Fadkur R 0602010071
    2. Ari Munandar 0602010077
    3. Linda Amelia 0802030059
    4. Saeful Muslimin 0802030062
    5. Windhi Rastra P 0902010038
    Sumber :
    http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/syariah/article/view/332 di akses Rabu, 23 Mei 2012 Jam 22.13 wib
    http://www.ejournal.undip.ac.id/index.php/dinamika_pembangunan/article/view/1661 di akses Rabu, 23 Mei 2012 Jam 22.30 wib
    TEORI BAGI HASIL
    Keharaman bunga dalam syariah membawa konsekuensi adanya penghapusan bunga secara mutlak. Teori PLS dibangun sebagai tawaran baru di luar sistem bunga yang cenderung tidak mencerminkan keadilan (injustice/dzalim) karena memberikan diskriminasi terhadap pembagian resiko maupun untung bagi para pelaku ekonomi. Principles of Islamic finance di bangun atas dasar larangan riba, larangan gharar, tuntunan bisnis halal, resiko bisnis ditanggung bersama, dan transaksi ekonomi berlandaskan pada pertimbangan memenuhi rasa keadilan. Profit-loss sharing berarti keuntungan dan atau kerugian yang mungkin timbul dari kegiatan ekonomi/bisnis ditanggung bersamasama. Dalam atribut nisbah bagi hasil tidak terdapat suatu fixed and certain return sebagaimana bunga, tetapi dilakukan profit and loss sharing berdasarkan produktifitas nyata dari produk.
    Dalam perjanjian bagi hasil yang disepakati adalah proporsi pembagian hasil (disebut nisbah bagi hasil) dalam ukuran persentase atas kemungkinan hasil produktifitas nyata. Nilai nominal bagi hasil yang nyata-nyata diterima, baru dapat diketahui setelah hasil pemanfaatan dana tersebut benar-benar telah ada (ex post phenomenon, bukan ex ente). Nisbah bagi hasil ditentukan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang bekerja sama. Besarnya nisbah biasanya akan dipengaruhi oleh pertimbangan kontribusi masing-masing pihak dalam bekerja sama (share and partnership) dan prospek perolehan keuntungan (expected return) serta tingkat resiko yang mungkin terjadi (expected risk).
    Teori PLS dikembangkan dalam dua model, yakni model mudharabah dan musyarakah.
    a. Model Mudharabah merujuk pada bentuk kerjasama usaha antara dua belah pihak.
    Disebut mudharabah karena pada akad kerjasama usaha memberikan kontribusi permodalan sedangkan pihak lain memberikan kontribusi kewirausahaan dalam bentuk tenaga, pikiran atau manajemen. Pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola dana (mudharib).
    b. Model musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk menjalankan suatu usaha tertentu. Masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan keuntungan dan resiko ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
    Penerapan instrumen bagi hasil lebih mencerminkan keadilan dibandingkan dengan instrumen bunga. Bagi hasil melihat kemungkinan profit (untung) dan resiko sebagai fakta yang mungkin terjadi di kemudian hari. Sedangkan bunga hanya mengakui kepastian profit (untung) pada penggunaan uang. Bagi hasil merupakan penggerak dasar operasionalisasi perbankan syariah, sedangkan bunga merupakan penggerak dasar operasionalisasi perbankan konvensional.

    Sumber Inspirasi Ekonomi islam :
    a. Firman Allah dalam Al Quran Surat An Nisa ayat 29 : “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama kamu diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu: Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. 4: 29)
    b. Firman Allah dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 275 : “ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dalam mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhanti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan ursannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (QS. 2: 275)

    Konsep Moral Islam Dalam Bagi hasil :
    a. Mencari ridho Allah
    b. Iman yang Kuat
    c. Perwakilan harta Allah SWT
    d. Akhlaqul Karimah
    e. Tidak dzalim dan harus adil
    f. Tidak ada unsur penipuan dan bersikap jujur
    g. Keseimbangan
    h. Menghindari Fitnah
    i. Kemaslahatan
    j. Menyakini Adanya Konsep Barakah

    Bagi hasil adlah salah satu skim yang ada dalam ekonomi Islam serta merupakan salah satu komponen dalam sistem kesejahteraan Islam. Apabila pelaksanaan proses bagi hassil ini benar-benar dilaksanakan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW, niscaya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi pengangguran, dan sekaligus mengurangi jumlah kaum fakir miskin serta terciptanya keadilan dalam distribusi pendapatan. Apabila kesejahteraan masyarakat meningkatan, sudah jelas kaum miskin secara berangsur-angsur akan bisa dientaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: