TUGAS KELOMPOK SDM INTERNASIONAL TH AKADEMIK 2009/2010

Tugas kelompok.satu kelompok max 3 org.Meresume JURNAL INTERNASIONAL dg ketentuan sbb: Tulis judul,peneliti asli,sampel,populasi,metode penlt,hasil,kesimpulan.Tulis anggota kelp.Soft copy kirim di blog ini SEGERA.presentasi pasca ujian mid.Materi jurnal disediakan pengajar.Namun dibolehkan mencari sendiri.

2 responses to this post.

  1. Posted by n.syaugi sebastian 0702010010 on Mei 10, 2010 at 3:45 am

    Puluhan ribu buruh perusahaan sepatu Nike di Indonesia hanya mendapat 2,46 dollar AS per hari (sebelum krisis moneter) dari sekitar 90-100 dollar harga sepasang sepatu Nike. Padahal dalam sehari, mereka bisa menghasilkan sekitar 100 sepatu. Sementara itu, Michael Jordan meraup 20 juta dollar AS per tahun dari iklan Nike. Sementara bos Nike, Philip H. Knight, memperoleh gaji 864.583 dollar dan bonus 787.500 dollar. Tetapi, di belakang mereka ratusan ribu buruh Nike di seluruh dunia tetap kelaparan. Oleh-oleh reporter TEMPO Interaktif, Prabandari, dari Oregon, Amerika Serikat.

    Sepatu Nike telah menjadi gaya hidup bagi kebanyakan orang di dunia. Tidak hanya di Indonesia sebagai produsen terbesar, tidak juga di Amerika Serikat (AS) sebagai pemilik asli perusahaan Nike Inc. Sepasang sepatu Nike bisa berharga lebih dari 100 dollar AS. Dengan posisi ini, Nike jelas mampu mengeruk uang dalam jumlah yang sangat besar.

    Bahkan Nike mampu membayar Michael Jordan sebesar 20 juta dollar per tahun untuk membantu menciptakan citra Nike. Demikian pula Andre Agassi yang bisa memperoleh 100 juta dollar untuk kontrak iklan selama 10 tahun. Sementara itu bos dan dedengkot Nike Inc, Philip H. Knight, mengantongi gaji dan bonus sebesar 864.583 dollar dan 787.500 dollar pada tahun 1995. Jumlah ini belum termasuk stok Nike sebesar 4,5 biliun dollar.

    Namun ternyata nasib bagus mereka tidak diikuti oleh sebagian besar mereka yang bekerja untuk Nike. Seperti digambarkan oleh Bob Herbert di The New York Times. Orang-orang semacam mereka menempati papan teratas dalam bagan yang berbentuk piramida. Sebagian kecil orang-orang Nike menempati posisi empuk dan menjadi kaya raya. Ini merupakan kebalikan dari orang-orang di bawah, yang harus bekerja membanting tulang untuk memproduksi Nike dan terus menghidupi orang semacam Knight, Agassi ataupun Michael Jordan. Kekayaan yang mereka peroleh ternyata didapat dengan menindas sekian banyak buruh di berbagai negara tempat operasi produk Nike, termasuk Indonesia. Merekalah yang menempati posisi mayoritas di papan paling bawah.

    Dari harga sepatu sekitar 100 dollar AS tersebut, hanya sekitar 2,46 dollar per hari yang disisihkan untuk buruh di Indonesia. Itupun dihitung sebelum ada krisis moneter. Sementara buruh di Vietnam hanya menerima 1 dollar.

    Kondisi inilah yang membuat masyarakat AS tidak bangga, bahkan tidak simpati terhadap Nike. Masyarakat AS pun berduyun-duyun menggelar aksi protes. Bahkan sekarang telah muncul gerakan anti-Nike. Aksi protes dan gerakan anti-Nike ini tersebar di beberapa negara bagian AS, bahkan di beberapa bagian di belahan dunia. Di Oregon, tempat kantor pusat Nike Inc, masyarakat tampak tak jenuh-jenuhnya menyatroni Nike Town di jantung kota Portland dan kantor pusat Nike di Beaverton, tak jauh dari Portland. Kota Portland yang selalu tampak adem ayem ini bisa hiruk-pikuk dengan aksi mereka. Portland adalah kota terbesar di negara bagian Oregon, meskipun bukan ibukotanya.

    Bagi sebagian besar warga Portland, mereka sudah biasa mendengar berbagai tuduhan terhadap kontraktor Nike di luar negeri ( di luar AS). Mereka dianggap tidak membayar upah buruh dengan layak. Mereka juga dituduh memaksa buruh untuk kerja lembur, mempekerjakan anak-anak, dan sering dengan seenaknya menjatuhkan hukuman ke buruh, meski hanya karena kesalahan kecil. Tetapi tuduhan-tuduhan yang sering dilontarkan lewat surat ke Nike ataupun saat demonstrasi telah berkembang tidak hanya berhenti sampai di aksi protes. Namun telah berkembang menjadi sebuah gerakan anti-Nike dengan seruan boikot terhadap produk Nike.

    Yang cukup mengejutkan adalah ketika reporter TEMPO Interaktif diberi selebaran ajakan boikot Nike oleh seorang warga Portland yang bernama David. Saat dia tahu reporter TEMPO Interaktif berasal dari Indonesia, dia langsung bercerita tentang aksi boikot terhadap Nike karena kondisi buruh Nike di Indonesia. Dia juga bercerita tentang aksi-aksi demo membela buruh Nike di Indonesia. Dalam selebaran yang diberikan David tersebut disebutkan dengan jelas keprihatinan mereka terhadap kondisi buruh Nike di Indonesia. Menurutnya, memang ada perhatian khusus terhadap para buruh di Indonesia.

    “Ini karena sebagian besar produk Nike diproduksi di Indonesia,” ujar Nancy Haque dari Portland Jobs with Justice (PJJ). Dia juga menambahkan bahwa lembaganya telah mengorganisir gerakan boikot produk Nike. Menurut Nancy, aksi boikot Nike ini dimulai beberapa bulan lalu. “Namun untuk aksi turun ke jalan, kami sudah tidak bisa dihitung lagi,” ujar Nancy. “Bahkan pada musim panas lalu, demonstrasi menentang Nike berlangsung hampir tiap minggu,” lanjutnya.

    Ucapan senada juga muncul dari David, yang penulis temui sebelum berbicara dengan Nancy. Menurutnya, hampir setiap hari Sabtu di musim panas selalu terjadi aksi demo di depan Nike Town. Nike Town yang letaknya tidak jauh dari sebuah taman kota yang cukup luas tersebut memang membuat mudah orang untuk tergabung dalam aksi itu. David juga mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk keprihatinan dan upaya membantu para buruh Nike di Indonesia.

    Ada beberapa aksi yang cukup besar, jelas Nancy, yaitu aksi yang digelar tanggal 1 Mei yang diikuti sekitar 250 orang, aksi tanggal 4 Oktober yang melibatkan sekitar 300 orang, dan aksi terakhir yang digelar tanggal 18 Oktober, yang melibatkan sekitar 70 warga. Portland Jobs with Justice tidak sendirian. Dia bekerja sama dengan organisasi-organisasi buruh dan Lembaga Swadaya Masyarakat lain, seperti Global Exchange atau pun National Organization of Women.

    Mereka bersama-sama menuntut Nike untuk memperbaiki kondisi buruhnya, dengan membayar upah sesuai dengan kebutuhan hidup mereka dan tidak memaksa buruh untuk bekerja lembur. Selain itu, menurut Nancy, para demonstran juga menuntut agar Nike menghormati hak-hak buruh untuk berorganisasi. “Yang tak kalah pentingnya adalah agar Nike mengijinkan adanya pengawasan independen akan fasilitas-fasilitas produksi mereka” lanjut Nancy.

    Aksi keprihatinan terhadap buruh di Nike, terutama di Indonesia ini ternyata tidak hanya berlangsung di Portland. Di kota-kota lain seperti San Fransisco, Manhattan dan Tallahasse, banyak warga yang juga menggelar aksi serupa.

    Pada tanggal 25 Oktober, para mahasiswa Florida State University di Tallahessee, yang terkenal sebagai kampus yang hanya kenal minuman keras dan sepak bola – tim sepakbola di sini menempati urutan ketiga di seluruh AS – juga menggelar aksi Anti-Nike. Pada saat itu bersamaan dengan pertandiangan sepakbola FSU-Georgia Tech. Para mahasiswa pelaku unjuk rasa memasuki tempat khusus presiden universitas dan menyerahkan pamflet anti-Nike. Sementara pada saat istirahat tengah pertandingan, para aktivis menggelar spanduk besar sepanjang 80.000 kursi di tribun stadion paling atas. Spanduk tersebut berbunyi “No Nike at FSU (Tidak ada Nike di FSU)”. Para aktivis ini menuntut pemerintah untuk membatalkan kontrak sebesar 3,5 juta dollar dengan Nike untuk program atletik di FSU selama lima tahun. Mereka mengatakan bahwa kampus mereka tidak seharusnya melakukan bisnis dengan perusahaan yang mengeksploitasi buruh di negara-negara dunia ketiga.

    Gerakan mahasiswa FSU ini merupakan sebagian kecil dari gerakan anti-Nike di kalangan kampus. Gerakan anti-Nike juga terjadi di kampus Penn State University dan University of North Carolina

    Sebenarnya gerakan anti-Nike di kampus-kampus bukan semata keprihatinan mereka terhadap nasib buruk para buruh di Asia. Tetapi juga karena keprihatinan mereka atas komersialisme Nike dan pengaruh mendalam dalam budaya kampus. “Semua atlet Penn State menggunakan semua produk Nike,” ujar Adam Black, aktivis anti-Nike di kampus Penn State University. “Seperti ada seragam Nike. Perlengkapan pelatih, topi, T-shirt, celana olah raga, semua produk Nike. Di mana -mana ada Swoosh (lambang Nike). Universitas telah menjual jiwanya ke Nike,” lanjutnya.

    Heboh Nike ini juga mengundang suara keprihatinan dari anggota Konggres. Sekitar akhir September, sebuah surat yang ditandatangani 41 anggota House of Representative melayang ke meja Phil Knight, CEO dan pendiri Nike Inc. “Kami sangat malu bahwa perusahaan seperti Nike, yang berkantor pusat di AS, bisa terlibat langsung dalam eksploitasi yang cukup bengis terhadap ratusan ribu buruh di negara-negara Dunia Ketiga,” demikan dinyatakan dalam surat tersebut. “Ini tidak bisa diterima,” lanjut mereka.

    Pada pekan yang sama, saat surat terhadap Nike mulai berputar di antara anggota Konggres, penulis novel Alice Walker dan sebuah koalis organisasi perempuan, termasuk NOW, the Ms. Foundation dan the Feminist Majority menyelenggarakan konferensi pers, tak jauh dari Capitol, kantor para anggota Konggres. Mereka mengecam Nike atas perlakuan buruknya terhadap para buruh perempuan di Asia.

    Puluhan ribu buruh perusahaan sepatu Nike di Indonesia hanya mendapat 2,46 dollar AS per hari (sebelum krisis moneter) dari sekitar 90-100 dollar harga sepasang sepatu Nike. Padahal dalam sehari, mereka bisa menghasilkan sekitar 100 sepatu. Sementara itu, Michael Jordan meraup 20 juta dollar AS per tahun dari iklan Nike. Sementara bos Nike, Philip H. Knight, memperoleh gaji 864.583 dollar dan bonus 787.500 dollar. Tetapi, di belakang mereka ratusan ribu buruh Nike di seluruh dunia tetap kelaparan. Oleh-oleh reporter TEMPO Interaktif, Prabandari, dari Oregon, Amerika Serikat.

    Sepatu Nike telah menjadi gaya hidup bagi kebanyakan orang di dunia. Tidak hanya di Indonesia sebagai produsen terbesar, tidak juga di Amerika Serikat (AS) sebagai pemilik asli perusahaan Nike Inc. Sepasang sepatu Nike bisa berharga lebih dari 100 dollar AS. Dengan posisi ini, Nike jelas mampu mengeruk uang dalam jumlah yang sangat besar.

    Bahkan Nike mampu membayar Michael Jordan sebesar 20 juta dollar per tahun untuk membantu menciptakan citra Nike. Demikian pula Andre Agassi yang bisa memperoleh 100 juta dollar untuk kontrak iklan selama 10 tahun. Sementara itu bos dan dedengkot Nike Inc, Philip H. Knight, mengantongi gaji dan bonus sebesar 864.583 dollar dan 787.500 dollar pada tahun 1995. Jumlah ini belum termasuk stok Nike sebesar 4,5 biliun dollar.

    Namun ternyata nasib bagus mereka tidak diikuti oleh sebagian besar mereka yang bekerja untuk Nike. Seperti digambarkan oleh Bob Herbert di The New York Times. Orang-orang semacam mereka menempati papan teratas dalam bagan yang berbentuk piramida. Sebagian kecil orang-orang Nike menempati posisi empuk dan menjadi kaya raya. Ini merupakan kebalikan dari orang-orang di bawah, yang harus bekerja membanting tulang untuk memproduksi Nike dan terus menghidupi orang semacam Knight, Agassi ataupun Michael Jordan. Kekayaan yang mereka peroleh ternyata didapat dengan menindas sekian banyak buruh di berbagai negara tempat operasi produk Nike, termasuk Indonesia. Merekalah yang menempati posisi mayoritas di papan paling bawah.

    Dari harga sepatu sekitar 100 dollar AS tersebut, hanya sekitar 2,46 dollar per hari yang disisihkan untuk buruh di Indonesia. Itupun dihitung sebelum ada krisis moneter. Sementara buruh di Vietnam hanya menerima 1 dollar.

    Kondisi inilah yang membuat masyarakat AS tidak bangga, bahkan tidak simpati terhadap Nike. Masyarakat AS pun berduyun-duyun menggelar aksi protes. Bahkan sekarang telah muncul gerakan anti-Nike. Aksi protes dan gerakan anti-Nike ini tersebar di beberapa negara bagian AS, bahkan di beberapa bagian di belahan dunia. Di Oregon, tempat kantor pusat Nike Inc, masyarakat tampak tak jenuh-jenuhnya menyatroni Nike Town di jantung kota Portland dan kantor pusat Nike di Beaverton, tak jauh dari Portland. Kota Portland yang selalu tampak adem ayem ini bisa hiruk-pikuk dengan aksi mereka. Portland adalah kota terbesar di negara bagian Oregon, meskipun bukan ibukotanya.

    Bagi sebagian besar warga Portland, mereka sudah biasa mendengar berbagai tuduhan terhadap kontraktor Nike di luar negeri ( di luar AS). Mereka dianggap tidak membayar upah buruh dengan layak. Mereka juga dituduh memaksa buruh untuk kerja lembur, mempekerjakan anak-anak, dan sering dengan seenaknya menjatuhkan hukuman ke buruh, meski hanya karena kesalahan kecil. Tetapi tuduhan-tuduhan yang sering dilontarkan lewat surat ke Nike ataupun saat demonstrasi telah berkembang tidak hanya berhenti sampai di aksi protes. Namun telah berkembang menjadi sebuah gerakan anti-Nike dengan seruan boikot terhadap produk Nike.

    Yang cukup mengejutkan adalah ketika reporter TEMPO Interaktif diberi selebaran ajakan boikot Nike oleh seorang warga Portland yang bernama David. Saat dia tahu reporter TEMPO Interaktif berasal dari Indonesia, dia langsung bercerita tentang aksi boikot terhadap Nike karena kondisi buruh Nike di Indonesia. Dia juga bercerita tentang aksi-aksi demo membela buruh Nike di Indonesia. Dalam selebaran yang diberikan David tersebut disebutkan dengan jelas keprihatinan mereka terhadap kondisi buruh Nike di Indonesia. Menurutnya, memang ada perhatian khusus terhadap para buruh di Indonesia.

    “Ini karena sebagian besar produk Nike diproduksi di Indonesia,” ujar Nancy Haque dari Portland Jobs with Justice (PJJ). Dia juga menambahkan bahwa lembaganya telah mengorganisir gerakan boikot produk Nike. Menurut Nancy, aksi boikot Nike ini dimulai beberapa bulan lalu. “Namun untuk aksi turun ke jalan, kami sudah tidak bisa dihitung lagi,” ujar Nancy. “Bahkan pada musim panas lalu, demonstrasi menentang Nike berlangsung hampir tiap minggu,” lanjutnya.

    Ucapan senada juga muncul dari David, yang penulis temui sebelum berbicara dengan Nancy. Menurutnya, hampir setiap hari Sabtu di musim panas selalu terjadi aksi demo di depan Nike Town. Nike Town yang letaknya tidak jauh dari sebuah taman kota yang cukup luas tersebut memang membuat mudah orang untuk tergabung dalam aksi itu. David juga mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk keprihatinan dan upaya membantu para buruh Nike di Indonesia.

    Ada beberapa aksi yang cukup besar, jelas Nancy, yaitu aksi yang digelar tanggal 1 Mei yang diikuti sekitar 250 orang, aksi tanggal 4 Oktober yang melibatkan sekitar 300 orang, dan aksi terakhir yang digelar tanggal 18 Oktober, yang melibatkan sekitar 70 warga. Portland Jobs with Justice tidak sendirian. Dia bekerja sama dengan organisasi-organisasi buruh dan Lembaga Swadaya Masyarakat lain, seperti Global Exchange atau pun National Organization of Women.

    Mereka bersama-sama menuntut Nike untuk memperbaiki kondisi buruhnya, dengan membayar upah sesuai dengan kebutuhan hidup mereka dan tidak memaksa buruh untuk bekerja lembur. Selain itu, menurut Nancy, para demonstran juga menuntut agar Nike menghormati hak-hak buruh untuk berorganisasi. “Yang tak kalah pentingnya adalah agar Nike mengijinkan adanya pengawasan independen akan fasilitas-fasilitas produksi mereka” lanjut Nancy.

    Aksi keprihatinan terhadap buruh di Nike, terutama di Indonesia ini ternyata tidak hanya berlangsung di Portland. Di kota-kota lain seperti San Fransisco, Manhattan dan Tallahasse, banyak warga yang juga menggelar aksi serupa.

    Pada tanggal 25 Oktober, para mahasiswa Florida State University di Tallahessee, yang terkenal sebagai kampus yang hanya kenal minuman keras dan sepak bola – tim sepakbola di sini menempati urutan ketiga di seluruh AS – juga menggelar aksi Anti-Nike. Pada saat itu bersamaan dengan pertandiangan sepakbola FSU-Georgia Tech. Para mahasiswa pelaku unjuk rasa memasuki tempat khusus presiden universitas dan menyerahkan pamflet anti-Nike. Sementara pada saat istirahat tengah pertandingan, para aktivis menggelar spanduk besar sepanjang 80.000 kursi di tribun stadion paling atas. Spanduk tersebut berbunyi “No Nike at FSU (Tidak ada Nike di FSU)”. Para aktivis ini menuntut pemerintah untuk membatalkan kontrak sebesar 3,5 juta dollar dengan Nike untuk program atletik di FSU selama lima tahun. Mereka mengatakan bahwa kampus mereka tidak seharusnya melakukan bisnis dengan perusahaan yang mengeksploitasi buruh di negara-negara dunia ketiga.

    Gerakan mahasiswa FSU ini merupakan sebagian kecil dari gerakan anti-Nike di kalangan kampus. Gerakan anti-Nike juga terjadi di kampus Penn State University dan University of North Carolina

    Sebenarnya gerakan anti-Nike di kampus-kampus bukan semata keprihatinan mereka terhadap nasib buruk para buruh di Asia. Tetapi juga karena keprihatinan mereka atas komersialisme Nike dan pengaruh mendalam dalam budaya kampus. “Semua atlet Penn State menggunakan semua produk Nike,” ujar Adam Black, aktivis anti-Nike di kampus Penn State University. “Seperti ada seragam Nike. Perlengkapan pelatih, topi, T-shirt, celana olah raga, semua produk Nike. Di mana -mana ada Swoosh (lambang Nike). Universitas telah menjual jiwanya ke Nike,” lanjutnya.

    Heboh Nike ini juga mengundang suara keprihatinan dari anggota Konggres. Sekitar akhir September, sebuah surat yang ditandatangani 41 anggota House of Representative melayang ke meja Phil Knight, CEO dan pendiri Nike Inc. “Kami sangat malu bahwa perusahaan seperti Nike, yang berkantor pusat di AS, bisa terlibat langsung dalam eksploitasi yang cukup bengis terhadap ratusan ribu buruh di negara-negara Dunia Ketiga,” demikan dinyatakan dalam surat tersebut. “Ini tidak bisa diterima,” lanjut mereka.

    Pada pekan yang sama, saat surat terhadap Nike mulai berputar di antara anggota Konggres, penulis novel Alice Walker dan sebuah koalis organisasi perempuan, termasuk NOW, the Ms. Foundation dan the Feminist Majority menyelenggarakan konferensi pers, tak jauh dari Capitol, kantor para anggota Konggres. Mereka mengecam Nike atas perlakuan buruknya terhadap para buruh perempuan di Asia.

  2. Posted by n.syaugi sebastian 0702010010 on Juni 8, 2010 at 6:33 pm

    Penyiksaan Buruh Marak di Pabrik Nike
    * Nike Berjanji Akan Perbaiki

    Penyiksaan dan perlakuan tidak sewajarnya dialami sebagian besar buruh
    kontrak yang bekerja di sembilan pabrik subkontraktor sepatu terkenal
    Nike di Indonesia. Sejumlah 30 persen pekerja mengaku pernah
    menyaksikan atau mengalami pelecehan atau penyiksaan, baik secara
    verbal maupun fisik, termasuk pelecehan seksual.

    Para buruh umumnya juga tidak mendapatkan akses ke pelayanan kesehatan
    yang memadai dan sering dipaksa untuk lembur. Bahkan, dalam beberapa
    kasus, buruh harus pingsan dulu sebelum diizinkan oleh penyelia atau
    manajer mereka untuk dibawa ke klinik.

    Demikian terungkap dari laporan setebal 104 halaman mengenai situasi
    kerja di kesembilan pabrik, yang dilakukan oleh organisasi nirlaba,
    Global Alliance for Workers and Communities, yang berbasis di
    Baltimore, Maryland, AS, dan dipublikasikan, Kamis (22/2). Laporan itu
    sendiri disusun berdasarkan hasil wawancara dengan 4.450 dari sekitar
    115.000 buruh yang kini bekerja di sembilan pabrik Nike di Indonesia.

    Global Alliance yang dibentuk tahun 1999 merupakan konsorsium yang
    terdiri dari organisasi publik, swasta, dan nirlaba, termasuk Nike dan
    Bank Dunia, dan dirancang untuk meningkatkan kesempatan bagi para
    pekerja pabrik. Studi komprehensif terhadap situasi kerja di sembilan
    pabrik di Indonesia itu dibiayai oleh Nike.

    Sejumlah 30 persen buruh mengaku pernah mengalami perlakuan menyimpang
    secara verbal. Sejumlah delapan persen melaporkan pernah menerima
    lontaran komentar yang bernada seksual atau pelecehan seksual secara
    verbal yang tidak mereka sukai. Hampir 2,5 persen buruh bahkan mengaku
    pernah mengalami pelecehan seksual secara fisik, dalam bentuk
    sentuhan.

    Sejumlah buruh juga mengaku pernah memperoleh tawaran hubungan seks
    dengan iming-iming akan dipekerjakan di dua pabrik oleh penyelia atau
    manajer mereka. Selain itu, antara satu hingga 14 persen buruh di
    sembilan pabrik melaporkan pernah mengalami siksaan fisik dari
    penyelia (line supervisor) atau manajer pabrik.

    Menurut Pimpinan Dewan Operasi Global Alliance Rick Little, 85 persen
    pekerja Nike di Indonesia adalah perempuan muda dengan usia rata-rata
    23 tahun. Sekitar 40 persen pekerja tersebut berstatus menikah dan
    hampir separuhnya telah menyelesaikan sekolah lanjutan atas.

    Keluhan upah

    Dari penelitian ini juga diketahui bahwa 45 persen dari pekerja tidak
    puas terhadap fasilitas kesehatan yang tersedia di pabrik. Banyak dari
    mereka mengaku sulit memperoleh cuti sakit atau fasilitas pelayanan
    kesehatan.

    Sejumlah 96 persen buruh mengaku, meskipun upah mereka di atas tingkat
    upah minimum regional (UMR), upah tersebut tetap saja tidak bisa
    menutup biaya hidup mereka yang terus meningkat. Para buruh ini
    umumnya menginginkan perbaikan upah dan makanan.

    Sejumlah 95 persen pekerja juga menyatakan minat untuk belajar
    bagaimana melakukan perencanaan masa depan, dan 87 persen mengharapkan
    anak-anak mereka nanti bisa menikmati akses pendidikan hingga
    perguruan tinggi. Meskipun demikian, dari penelitian diperoleh juga
    sejumlah informasi positif mengenai hubungan kerja dan fasilitas di
    pabrik.

    Janji perbaiki

    Rick Little menilai pengakuan para buruh tersebut “sangat mengusik dan
    memprihatinkan”. Namun, ia juga menekankan, pihak Nike menunjukkan
    sikap jujur sepanjang proses penelitian. Bahkan, mereka sudah menyusun
    rencana perbaikan yang serius dan masuk akal untuk merespons
    temuan-temuan tersebut.

    Kalangan manajemen eksekutif Nike di AS mengakui temuan ini sangat
    mengusik. Namun, mereka sekaligus juga menilai temuan ini sebagai
    peluang untuk memperbaiki kondisi kerja di pabrik-pabrik subkontraktor
    mereka di Indonesia. Wakil Presiden Nike Maria Eitel mengatakan, Nike
    akan menerapkan “rencana perbaikan” untuk mengatasi persoalan
    tersebut.

    Nike, menurut dia, merencanakan akan meminta verifikasi secara
    independen atas laporan tersebut, melalui wawancara lebih jauh dalam
    setahun ini. Selain itu, Nike menjanjikan akan mengeluarkan laporan
    kuartalan mengenai perbaikan yang sudah dibuat kepada Global Alliance.

    Buruknya kondisi kerja di pabrik-pabrik subkontraktor mereka di luar
    negeri itu sendiri merupakan keluhan yang terus muncul secara
    berulang-ulang terhadap perusahaan raksasa pembuat sepatu dan pakaian
    olahraga, yang bermarkas di Beaverton, Oregon, AS, ini.

    Keberanian Nike mengumumkan laporan ini juga dipuji oleh organisasi
    pejuang hak asasi manusia (HAM) Global Exchange yang berbasis di San
    Francisco karena selama ini Nike selalu bersikap tertutup menyangkut
    kritik mengenai situasi kerja di pabrik-pabrik subkontraktor mereka di
    luar negeri.

    Bahkan, banyak kalangan yang menuduh keterlibatan Nike di Global
    Alliance selama ini lebih bersifat kosmetik untuk mempercantik
    citranya. Sebelum mengeluarkan laporan ini, Global Alliance sudah
    lebih dulu mengeluarkan laporan serupa mengenai kondisi di
    pabrik-pabrik mereka di Thailand dan Vietnam, dan hasilnya tak jauh
    berbeda.

    Deputi Direktur International Labor Right Fund Bama Athreya
    mempertanyakan tidak adanya mekanisme publik yang bisa menjamin Nike
    akan memenuhi janjinya, karena Global Alliance sendiri bukan
    organisasi monitoring, sehingga tidak bisa berbuat apa-apa jika Nike
    melanggar janji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: