TUGAS JURNAL EKONOMI ISLAM

Tugas kelompok.satu kelompok max 3 org.Meresume jurnal dg ketentuan sbb: Tulis judul,peneliti asli,sampel,populasi,metode penlt,hasil,kesimpulan.Tulis anggota kelp.Soft copy kirim di blog ini SEGERA.Hard copy dikumpulkan saat presentasi pasca ujian mid.

12 responses to this post.

  1. Posted by TriaZzz on April 5, 2010 at 7:27 pm

    Kelompok:*Trias Aprilianto 0602010005
    *Sudjarwadie 0602010008
    *Nurcholid Musofa 0602010019

    Judul Jurnal:Risiko Akad dalam Pembiayaan Murabahah pada BMT di Yogyakarta(dari Teori ke Terapan)
    Peneliti:Asmi Nur Siwi Kusmiyati
    Ringkasan:
    ikeluarkannya Fatwa Bunga Bank Haram dari MUI Tahun 2003 menyebabkan
    banyak bank yang menjalankan prinsip syariah.1
    Seiring dengan hal tersebut di atas, Lembaga Keuangan Syariah yang
    ruang lingkupnya mikro yaitu Baitul Maal wal Tamwil (BMT) juga semakin
    menunjukkan eksistensinya. Seperti halnya bank syariah, kegiatan BMT adalah
    melakukan penghimpunan (prinsip wadiah dan mudharabah) dan penyaluran
    dana (prinsip bagi hasil, jual beli dan ijarah) kepada masyarakat.
    Penyaluran dana dengan prinsip jual beli dilakukan dengan akad
    murabahah, salam, ataupun istishna. Penyaluran dana dengan prinsip jual beli
    yang paling dominan adalah murabahah. Berdasarkan data statistik perbankan
    syariah Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia pada awal tahun 2004,
    jual beli murabahah menunjukkan posisi lebih dari 50%.
    Menurut Choudury, dominannya pembiayaan murabahah terjadi
    karena pembiayaan ini cenderung memiliki risiko yang lebih kecil dan lebih
    mengamankan bagi shareholder.2
    Pendapat yang dikemukakan Choudury di atas secara implisit menunjukkan
    bahwa walaupun pembiayaan murabahah begitu mendominasi praktek pembiayaan
    perbankan syariah, namun tetap ada risiko-risiko yang menyertainya. Adanya
    risiko pada pembiayaan murabahah inilah yang menimbulkan keingintahuan
    peneliti mengkaji lebih dalam tentang praktek pembiayaan murabahah yang
    selama ini begitu dominan pada perbankan syari’ah.

    Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
    A. Mengetahui praktek pembiayaan murabahah pada BMT di Yogyakarta.
    B. Mengetahui risiko-risiko yang terkait dengan pembiayaan murabahah pada
    BMT di Yogyakarta.
    C. Mengetahui bagaimana cara BMT di Yogyakarta dalam mengelola risiko
    yang terkait dengan pembiayaan murabahah.
    D. Mengetahui bagaimana perspektif syariah terhadap praktek pembiayaan
    murabahah pada BMT di Yogyakarta.

    Landasan Syariah
    Dalam fatwa Nomor 04/DSN-MUI/IV/2000 Tanggal 1 April 2000
    tentang Murabahah, sebagai landasan syariah transaksi murabahah adalah sebagai
    berikut:5
    A. Al-Qur’an : Al-Baqarah [2]:275.
    B. Al-Hadits : Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: Dari Abu Said Al-Khudri
    bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan
    suka sama suka.”(H.R. al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh
    Ibnu Hibban).
    C. Kaidah Fikih : “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan
    kecuali ada dalil yang mengharamkannya”.

    Jenis Murabahah
    Murabahah dapat dibedakan menjadi dua macam,yaitu :
    (1) Murabahah
    tanpa pesanan
    (2) Murabahah berdasarkan pesanan.
    Murabahah berdasarkan pesanan dapat dibedakan menjadi murabahah
    berdasarkan pesanan yang bersifat mengikat dan murabahah berdasarkan pesanan
    yang bersifat tidak mengikat. Sedangkan jika dilihat cara pembayarannya,
    maka murabahah dapat dilakukan dengan cara tunai atau dengan pembayaran
    tangguh.

    Risiko dalam pembiayaan murabahah diantaranya adalah :
    A. Risiko yang terkait dengan barang
    B. Risiko yang terkait dengan klien (nasabah)
    C. Risiko yang terkait dengan pembayaran

    Jenis Penelitian:
    Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian lapangan
    dengan menggunakan desain kualitatif. Objek yang menjadi sasaran penelitian
    adalah risiko akad dalam pembiayaan murabahah secara konsep dan aplikasi pada
    BMT-BMT di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptifanalitisuntuk mengetahui landasan konseptual dan aplikatif risiko akad dalam
    murabahah pada BMT-BMT di Yogyakarta.

    Teknik Pengumpulan Data
    Dalam penelitian ini pengumpulan datanya menggunakan teknik
    dokumentasi dan wawancara.

    Populasi dan Sampel:
    Dalam penelitian ini populasinya adalah BMT-BMT yang tergabung dalam
    suatu kesatuan PUSKOPSYAH “BMT MITRA NUGRAHA” DIY yang terdiri
    dari 89 BMT anggota.
    Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive random sampling
    (pengambilan sampel secara acak dan dengan pertimbangan), yaitu dari 89 BMT
    8Wiroso, Op cit, hal. 56-57.
    9 Muhammad (2005), Manajemen Pembiayaan Bank Syari’ah, (Yogyakarta : UPP
    AMP YKPN), hal. 128-130.
    31yang ada diambil secara proporsional berdasarkan aset yang dikelola oleh masingmasing
    BMT. Aset dari setiap BMT dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu
    besar (asetnya lebih dari satu milyar rupiah ) terdapat 22 BMT ; sedang (asetnya
    antara 500juta sampai dengan satu milyar rupiah) terdapat 16 BMT ; dan kecil
    (asetnya kurang dari 500juta rupiah) terdapat 51 BMT.10 Dari ketiga kategori
    ini diambil sampel secara acak (masing-masing kategori satu sampel).

    Hasil Penelitian
    A. Prosedur Pengajuan Pembiayaan Murabahah
    Bahwa untuk mengajukan pembiayaan di BMT Dana Insani dan BMT
    Amratani Sejahtera, syaratnya adalah telah menjadi anggota (memiliki rekening
    simpanan), sedangkan di BMT BIF Nitikan, pengajuan pembiayaan dapat
    dilakukan oleh anggota atau calon anggota.
    BMT Dana Insani dan BMT Amratani Sejahtera melakukan analisis
    kelayakan dengan metode 5C. Sedangkan BMT BIF Nitikan analisa kelayakannya
    tidak hanya menggunakan 5C tetapi juga 4P.
    Ketiga BMT mensyaratkan adanya agunan berupa surat berharga. Namun
    di BMT Dana Insani agunannya juga dapat berupa barang tunjukan atau
    kelayakan usaha. Sedangkan pada BMT Amratani Sejahtera agunannya juga
    bukan hanya berupa surat berharga tetapi dapat berbentuk kelayakan usaha.
    B. Penentuan Jenis Akad
    Penentuan jenis akad pembiayaan murabahah pada ke tiga BMT dilakukan
    dengan terlebih dahulu menanyakan tentang tujuan penggunaan dana tersebut.
    Jika anggota mengajukan pembiayaan untuk membeli barang maka dapat
    menggunakan akad murabahah.
    C. Penentuan Jangka Waktu
    Penentuan jangka waktu pembiayaan murabahah pada ke tiga BMT
    dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan anggota. Akan tetapi, pada BMT
    Amratani Sejahtera dan BMT BIF Nitikan terdapat batas jangka waktu maksimal
    yaitu selama satu tahun.
    D. Penentuan Margin
    Penentuan margin pembiayaan murabahah di BMT Dana Insani selama
    ini masih berpatokan pada besarnya biaya operasional (minimal sebesar 2%
    dari jumlah pembiayaan). Setelah pihak BMT menentukan besarnya margin
    pembiayaan murabahah, anggota masih bisa menawarnya sehingga margin yang
    ditetapkan merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak. 12
    Penentuan margin pembiayaan murabahah di BMT Amratani Sejahtera
    dihitung dengan menggunakan rumus : 13 Mp = (A-Um) x G/ 1 jt x T
    di mana A = harga barang, G = proyeksi pendapatan BMT / bulan (margin
    yang diharapkan BMT 20.000,- s/d 25.000 / 1 juta), T = jangka waktu, Mp =
    margin / mark up pembiayaan, dan Um = uang muka / urbun.
    Sedangkan pada BMT BIF Nitikan, penentuan margin pembiayaan
    murabahah dilakukan dengan menghitung biaya-biaya yang terkandung dari aset
    yang dimiliki BMT. Rumus yang digunakan : Biaya operasional/Asset x 100%
    Pihak BMT BIF Nitikan menentukan besarnya margin berkisar antara
    2,5-3%. Margin yang ditentukan oleh BMT masih bisa ditawar oleh anggota
    sehingga margin yang ditetapkan merupakan kesepakatan kedua belah pihak.14
    12 Wawancara dengan Yuli Istianto (manajer BMT Dana Insani) pada 9 Februari
    2007, di kantor BMT Dana Insani DIY.
    13 Wawancara dengan Eni Arvianti (Manajer Dept. PSDM BMT Amratani) pada
    20 Februari 2007, di kantor BMT Amratani Utama DIY.
    14 Wawancara dengan Supriyadi (manajer BMT BIF Nitikan) pada 9 Februari

    E. Risiko Pembiayaan Murabahah yang Pernah Dihadapi
    Pada BMT Dana Insani dan BMT BIF Nitikan sering menghadapi risiko
    penyalahgunaan dana. Sedangkan pada BMT Amratani, risiko yang sering
    dihadapi adalah jika tidak dapat membelikan barang yang dibutuhkan oleh
    anggota sehingga harus mewakilkan kepada anggota tersebut untuk membeli
    barangnya sendiri.
    Pada BMT Dana Insani dan BMT BIF Nitikan selama ini belum ada risiko
    yang terkait dengan obyek murabahah, sedangkan pada BMT Amratani Sejahtera
    adalah tidak semua jenis barang dapat dibelikan oleh pihak BMT dan apabila
    pembelian tersebut diwakilkan kepada anggota, BMT tidak dapat melakukan
    pengecekan secara detail terhadap barang tersebut.
    Berkaitan dengan risiko pembayaran, ketiga BMT pernah mengalami
    pembayaran angsuran yang kurang lancar (realisasi pembayaran tidak sesuai
    dengan yang telah direncanakan) sehingga akan berpotensi tidak bisa melunasi
    angsuran.
    Risiko yang terkait dengan anggota selama ini belum pernah dihadapi oleh
    BMT dana Insani, sedangkan pada BMT BIF Nitikan berupa pembatalan akad
    dan pada BMT Amratani Sejahtera berupa penundaan pembiayaan
    F. Monitoring Risiko
    Kegiatan dalam rangka monitoring risiko pada BMT dilakukan dengan
    cara sebagai berikut :
    1. Pada BMT Dana Insani dan BMT Amratani Sejahtera ada pemantauan
    terhadap rekening anggota sedangkan pada BMT BIF Nitikan tidak ada
    pemantauan terhadap rekening anggota;
    2. pemantauan pelunasan angsuran dilakukan oleh ketiga BMT;
    3. ketiga BMT melakukan kunjungan ke tempat anggota, namun pada BMT
    Amratani Sejahtera kunjungan tersebut hanya dilakukan pada awal proses
    pembiayaan sedangkan pada BMT Dana Insani dan BIF Nitikan kunjungan
    tidak hanya di awal pembiayaan tetapi juga secara berkala.
    G. Mengelola Risiko Murabahah
    Untuk mengelola risiko yang terkait dengan barang, BMT Dana Insani dan
    BMT BIF Nitikan mewakilkan kepada anggota untuk membeli barangnya sendiri.
    Sementara itu, BMT Amratani Sejahtera akan memberikan diskon (mengurangi
    margin) kepada anggota supaya anggota tetap jadi membeli barang tersebut.
    Untuk mengelola risiko yang terkait dengan pembayaran, ketiga BMT
    2007, di kantor BMT BIF Nitikan DIY

    mensyaratkan adanya barang jaminan, namun pada BMT Amratani Sejahtera
    jaminannya dapat berupa simpanan.
    Untuk mengelola risiko yang terkait dengan anggota, BMT BIF Nitikan
    dan BMT Amratani Sejahtera mensyaratkan adanya uang muka. Uang muka
    tersebut berupa 30% dana dari harga barang yang akan dibeli (pada BMT BIF
    Nitikan) atau dapat berupa simpanan (pada BMT Amratani Sejahtera). Sementara
    itu, pada BMT Dana Insani tidak mensyaratkan adanya uang muka, namun
    jika barangnya dibelikan oleh pihak BMT maka akan diusahakan sesuai denganH. Mengatasi Pembiayaan Bermasalah
    BMT Dana Insani akan mengatasi pembiayaan bermasalah dengan
    melakukan penagihan secara efektif dan rutin, maksudnya adalah terencana dan
    terjadwal sampai habis jangka waktu pembiayaannya. Selain itu, petugas BMT
    juga akan melakukan kontrol atau pengawasan, pengecekan dan penanganan
    yang lebih intensif bagi pembiayaan yang bermasalah tersebut. Jika sampai habis
    jangka waktunya namun anggota belum melunasi pembayaran maka pihak BMT
    akan memberikan surat peringatan sebanyak tiga kali. Pada surat ketiga, intinya
    adalah menanyakan kesanggupan anggota untuk menyelesaikan angsurannya.
    Jika anggota menyatakan tidak sanggup untuk membayar maka barang jaminan
    akan dilelang.15
    Pada BMT Amratani Sejahtera, penanganan pembiayaan bermasalah
    dengan salah satu atau beberapa cara berikut : resceduling, restructuring, kombinasi
    2R (resceduling dan restructuring), dan eksekusi. Resceduling dilakukan dengan
    cara menjadwal ulang seluruh / sebagian kewajiban anggota (misal : jangka waktu
    dirubah dengan cara diperpanjang, jumlah angsuran dirubah, margin dirubah
    dengan cara dikurangi atau pemberian discount, dll). Sedangkan restucturing
    dilakukan dengan merubah komposisi pembiayaan. Tindakan akhir setelah semua
    cara tidak berhasil adalah dengan eksekusi, yaitu dengan menyita dan melelang
    barang jaminan untuk menutup kewajiban anggota.
    Pada BMT BIF Nitikan, pembiayaan yang diindikasikan bermasalah
    akan dideteksi melalui catatan monitoring angsuran. Kemudian dilakukan
    analisa dan penggolongan pembiayaan untuk memperoleh kepastian kondisi
    pembiayaan tersebut. Analisa ini harus ditindaklanjuti dengan survey lapangan
    untuk mengetahui penyebab keterlambatan membayar. Hasil analisa dan survey
    digunakan untuk menentukan langkah-langkah penanganan yang menghasilkan
    dua keputusan : 1. pendampingan (jika keterlambatan membayar bukan karena
    kesengajaan ) dan dilanjutkan dengan restrukturisasi / resceduling sesuai dengan
    kemampuan peminjam, 2. penagihan, jika peminjam mampu tapi tidak mau
    15Wawancara dengan Yuli Istianto, Op cit, pada 9 & 26 Februari 2007.

    melunasi hutangnya. Keputusan tersebut ditindaklanjuti dengan pembuatan
    surat teguran dan surat peringatan. Jika surat teguran tidak mendapat hasil,
    dilanjutkan dengan surat peringatan atau penagihan I dan II. Dan jika surat
    penagihan ini tidak diindahkan dan tidak membuahkan hasil, maka barang
    jaminan akan dieksekusi

    Hasil Kesimpulan:
    A. Praktek pembiayaan murabahah pada BMT digunakan untuk pembelian
    barang konsumsi maupun barang dagangan (pembiayaan tambah modal) yang
    pembayarannya dapat dilakukan secara tangguh (jatuh tempo / angsuran).
    B. Risiko yang pernah dialami ke tiga BMT dalam pelaksanaan pembiayaan
    murabahah adalah :
    1. BMT Dana insani dan BMT BIF Nitikan mengalami risiko
    penyalahgunaan dana oleh anggota, sedangkan BMT Amratani Sejahtera
    mengalami risiko tidak dapat membelikan barang yang dibutuhkan
    anggota.
    2. BMT Dana Insani dan BMT BIF Nitikan belum pernah mengalami risiko
    yang terkait dengan obyek yaitu karena pembelian barang diwakilkan
    kepada anggota. Sedangkan pada BMT Amratani Sejahtera, tidak
    dapat membelikan barang yang dibutuhkan anggota jika barangnya

    anggota.
    3. Ketiga BMT pernah mengalami risiko pembayaran yang kurang lancar
    dari anggota.
    32Wawancara dengan Yuli Istianto, Op cit.
    33Wawancara dengan Eni Arvianti, Op cit pada 20 Februari 2007.
    34Wawancara dengan Supriyadi, Op cit.

    4. BMT Dana Insani belum pernah mengalami risiko yang terkait dengan
    anggota, sedangkan BMT Amratani Sejahtera pernah mengalami risiko
    penundaan pembiayaan. Sementara itu BMT BIF Nitikan pernah
    mengalami risiko pembatalan akad.
    C. Ketiga BMT memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengelola risiko murabahah,
    yaitu :
    1. Untuk mengelola risiko yang terkait dengan barang, BMT Dana Insani
    dan BMT BIF Nitikan mewakilkan kepada anggota untuk membeli
    barangnya sendiri. Sementara itu, untuk menghindari risiko pembatalan
    pembelian barang karena adanya kerusakan / cacat pada barang , BMT
    Amratani Sejahtera akan memberikan diskon (mengurangi margin)
    kepada anggota supaya anggota tetap jadi membeli barang tersebut.
    2. Untuk mengelola risiko yang terkait dengan pembayaran, ketiga BMT
    mensyaratkan adanya barang jaminan.
    3. Untuk mengelola risiko yang terkait dengan anggota, BMT BIF Nitikan
    dan BMT Amratani Sejahtera mensyaratkan adanya uang muka.
    D. Berdasarkan analisis yang telah dilaksanakan, terlihat bahwa sebagian besar
    konsep dan pelaksanaan pembiayaan murabahah pada ketiga BMT telah
    sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah, namun hal-hal yang dinilai belum
    memenuhi persyaratan akad murabahah yaitu dalam hal :
    1. Penentuan akad.
    BMT Dana Insani dan BMT BIF Nitikan menggunakan akad murabahah
    untuk pembiayaan tambah modal, padahal dalam perdagangan umumnya
    ada perputaran dana sehingga BMT dan anggota dapat berbagi hasil /
    keuntungan. Sedangkan pada BMT Amratani Sejahtera, pembiayaan
    tambah modal dilayani dengan akad musyarakah.
    2. Pembelian barang.
    Pada BMT Dana Insani dan BMT BIF Nitikan, pembelian obyek
    atau barang murabahah dilakukan dengan cara mewakilkan kepada
    anggota, sedangkan pada BMT Amratani Sejahtera pembelian barangnya
    diusahakan oleh pihak BMT.
    Adapun saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah:
    A. Pihak BMT dapat menggunakan akad bagi hasil jika anggota mengajukan
    pembiayaan tambah modal.
    B. Pembelian obyek murabahah sebaiknya dilakukan oleh pihak BMT, namun
    apabila pembelian diwakilkan kepada anggota maka harus ada klausul wakalah
    dan akad murabahah baru dilakukan setelah barang tersebut menjadi milik
    pihak BMT.
    C. Risiko-risiko yang terkait dengan murabahah seharusnya diantisipasi lebih
    awal walaupun selama ini BMT belum pernah mengalaminya.

  2. Posted by Titin Nurfaizah & Dewi Safriani on April 18, 2010 at 9:24 am

    Kelompok : Titin Nurfaizah 0702010005
    Dwi Safriani 0702010022

    Judul : PERBEDAAN BANK SYARIAH DENGAN BANK KONVENSIONAL
    Jurnal βετA Volume 7, No.2, Maret 2009 oleh Sri Langgeng Ratnasari
    Isi Jurnal
    A.PENDAHULUAN
    Bank Konvensional menggunakan instrumen bunga atau jasa, dimana sistem itu selalau menjadi problem dikalangan para ulama cendekiawan. Bank syariah juga mempunyai beberapa prinsip selain bagi hasil, keseluruhanya tanpa adanya unsur bunga. Dari hal itu dapat dirumuskan bahwa, apakah bunga konvensional identik dengan jenis ribayang diharamkan atau apakah letak perbedaan antara instrumen bunga bank konvensional dengan prinsip bai hasil yang merupakan nilai tambah bagi bank syariah.
    B.PROBLEM INSTRUMEN BUNGA BANK
    Larangan riba” Hai orang-oramg yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda” (QS,3;130) (QS, 30:39) (QS, 4:29) dan Hadist2 yang memperkuat Qur’an.
    Melihat bahaya besar atau dampak negatif dari praktek riba itulah, maka nabi Muhammad SAW membuat perjanjian dengan kelompok Yahudi, bahwa mereka tidak dibenarkan menjalankan praktek riba. Seirama dengan ketentuan itu maka perbankan syariah teah menarik garis pembatas secara tegas untuk tidak mempergunakan sistem yang identik dengan unsur yang dilarang tersebut.
    Menurut Mahmoud Syalthout ada empat jenis riba yaitu, Riba fadli, riba yard, riba qardhi dan riba nasi’ah. Yang telah disepakati keharamannya adalah nasi’ah.
    C.DEWAN PENGAWAS SYARIAH
    Tugas DPS
    Mengawasi produk-produk perbankan
    Memberikan pedoman atau advis, baik pada pengerahan maupun penyaluran dana serta keg. Perbankan lainya
    Disamping DPS diperlukan penyalur antara DPS dengan Dewan Direksi yaitu Liason yariah yang menguasai fiqih muamalat secara mendalam.
    D.PERATURAN DAN PRINSIP PERBANKAN SYARIAH
    UU No. 7 Tahun 1992 yang disempurnakan oleh UU No. 10 Tahun 1998 tentan perbankan dan UU No. 23 tahun 1999 jo tentang Bank Indonesia, UU No. 3 tahun 2004
    Sebagai Peraturan Pelaksana Uu No. 7 thn 1992 yaitu PP No. 72 thn 1992 tentang Bank berdasarkan prinsip bagi hasil sebagaimana telah dihapus oleh PP No. 30 thn 1999
    Selain ketentuan-ketentuan itu bank islam juga mendasarkan pd prinsip-prinsip sebagai berikut: “Orang-orang yang makan (mengambilriba) tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila” (QS,2:275), (QS, 2;179), (QS,3:130), (QS,30:39). Hadist yang melarang riba antara lain: Abu Hurairoh,ra. Nabi Muhammad SAW, “ Ada empat golongan yang pasti Alloh SWT tidak memasukan mereka ke dalam surga, dan tdk merasakan mereka akan nikmatnya . pemabuk khamar, pemakan riba, pemakan harta anak yatim tanpa hak, dan penduhaka terhadap ibu bapak.
    Salah satu keagungan islam adalah diakuinya persamaan hak bagi seluruh umat manusia/ keadilan hakiki dl islam.

    E.PRODUK-PRODUK PERBANKAN SYARIAH
    Simpanan, deposito dan tabungan
    Jasa-jasa anta lain Pembiayaan Al A-Mudharabbah dan Al Husyarakah yang menyangkut investasi.
    Perdagangan yaitu Al Murabahah dan Al Baiu Bithaman Ajil, dlm hal ini bank memperoleh margin keuntungan (mark up).
    Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional

    Bank Konvensional
    Penentuan bunga dibuat pada waktu akad tanpa berpedoman pada untung rugi

    Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah royek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi
    Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat, sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming
    Eksistensi bunga diragukan oeh semua agama termasuk islam
    Investasi yang halal dan haram tidak terdapat dewan pengawas syariah

    Bank Syariah
    Penentuan besarnya ratio bagi hasil di buat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi
    Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Sekiranya rugi akan ditanggung bersama oleh kedua pihak.
    Jumlah pembayaran laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan

    Tidak ada yang meragukan keabsahan keuntungan bagi hasil
    Melaksanakan investasi yang halal saja. Pengerahan dan penyaluran dana sesuai pendapat melalui dewan pengawas syariah

    F.

    G.KESIMPULAN

    Bank Syariah merupakan suatu lembaga yang berasaskan antara lain, keadilan, kemitraan, transparasi, dan unuvesal serta melakukan kegiatan usaha perbankan berdasarkan prinsip-prinsi perekonomian islam
    Kegiatan usaha perbankan ini mempunyai ciri khas antara lain menharamkan riba, konsep uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas dan tidak diperkenankan melakukan kegiatan spekulasi dlm berbagai bentuknya.
    Prinsip syariah dapat bertahan ditengah gejolaknya nilai tukar dan ingkat suku bunga yang tingi.
    Unsur-unsur moralitas menjadi faktor penting dlm seluruh tindakan bank.

  3. Posted by novi lestari on Mei 5, 2010 at 12:19 pm

    Kelompok: Novi Lestari (0702010026)
    Susmiani (0702010027)
    Zulhikmah Ana P. (0702010033)

    Judul jurnal: Mencari Solusi Rendahnya Pembiayaan Bagi Hasil di Perbankan Syariah Indonesia.
    Peneliti: Diana Yumanita
    Ringkasan:
    Sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia tahun 1992, bank syariah mulai tumbuh dan berkembang di Indonesia. Secra perlahan bank syariah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang menghendaki layanan jasa perbankan yang sesuai prinsip syariah agama islam yang dianutnya.
    Perkembangan bank syariah yang pesat baru terasa sejak Pemerintah dan Bank Indonesia memberikan komitmen besar dan menempuh berbagai kebijakan untuk mengembangkan bank syariah dengan serius, khususnya sejak perubahan UU perbankan dengan UU No. 10 tahun 1998. Perkembangan yang pesat terutama tercatat sejak dikeluarkannya ketentuan bank indonesia yang memberi ijin kepada bank konvensional untuk mendirikan suatu unit usaha syariah (USS).
    Perkembangan yang pesat juga dapat dilihat pada mobilisasi dan penyaluran dana perbankan syariah. Dari sisi simpanan masyarakat, dana pada pihak ketiga yang akhir tahun 2002 berjumlah Rp 1,03 trilyun dan telah tumbuh 77,76% per tahun dan pada akhir juni 2004 telah menjadi 0,94%. Sampai November 2004 telah berkembang lagi satu BUS, yaitu Bank Syariah Mega Indonesia, dan 5 USS.
    Sebagian besar ulama dan pakar juga sependapat bahwa bank syariah merupakan bank yang berprinsip utama bagi hasil, sehingga pembiayaan bagi hasil seharusnya lebih diutamanakan dan dominan dibandingkan dengan pembiayaan non bagi hasil. Sementara sebagian pakar yang lain memandang wajar kecenderungan pembiayaan non bagi hasil bank syariah, khususnya pada tahap awal pengembangan mengingat berbagai kendala yang dihadapi.
    Rendahnya pembiayaan bagi hasil jelas bukan kondisi ideal yang diinginkan. Industri perbankan syariah bersama-sama dengan pemerintah maupun Bank Indonesia harus terus menerus mempersiapkan sistem maupun infrastruktur dengan mencari solusi yang tepat untuk meningkatkan pembiayaan bagi hasil.
    Metodologi
    Untuk mencapai tujuan penelitian yang diinginkan, beberapa tahapan dilakukan untuk mendapatkan gambaran mendalam mengenai masalah rendahnya pembiayaan bagi hasil ini. Hasilnya kemudian dipergunakan sebagai dasar merancang model dalam kerangka metode Analytic Network Process (ANP) beserta kuisionernya nntuk mendapatkan data yang diperlukan.

    Karakteristik bank syariah di beberapa negara
    1. Sudan
    Sudan merupakan salah satu negara yang menerpakan sistem ekonomi islam secara penuh, dimana seluruh sistem keuangannya menerapkan prinsip-prinsip syariah di dalam operasionalnya.
    a. Peran Bank of Sudan
    Bank of Sudan memiliki peranan yang sangat besar di dalam perkembangan perbankan syariah di Sudan. Dalam hal ini BOS memiliki komitmen yang kuatuntuk mengembangkan perbankan islam yang benar-benar sesuai dengan syariah.
    b. Komposisi Pembiayaan
    Dilihat dari komposisi pembiayaan mudharabah dan musyarakah di Sudan, meskipun kebijakan untuk menghambat penyaluran pembiayaan kepada skim murabahah, tampak bahwa lonjakaan skim pembiayaan yang alin tidak terlalu signifikan. Skim mudharabah dinilai lebih berisiko karena 100% dana berasal dari bank. Tidak adanya partisipasi dari nasabah di dalam pembiayaan tersebut akan mengakibatkan resiko ketidakhati-hatian dari nasabah akan semakin tinggi.
    Kultur masyarakat Sudan yang cenderung lebih senang mencari pembiayaan dibandingkan dengan menyimpan dana. Dengan musyarakah diharapkan agar nasabah berpartisipasi juga dalam hal keuangan, sehingga diharapkan akan tercipta dorongan untuk menabung pada masyarakat Sudan.
    2. Malaysia
    Malaysia merupakan salah satu negara yang menjadi pelopor berdirinya bank yang berbasiskan Islam di Asia Tenggara. Tidak berbeda dengan Indonesia, sistem perbankan yang dianut oleh perbankan Malaysia juga menggunakan dual banking sistem. Sehingga, pertumbuhan perbankan islam sejak berdirinya hingga sekaramg tidak terlalu menunjukkan peningkatan yang cukup besar.
    a. Peran Bank Negara Malaysia
    Berbeda dengan Bank of Sudan dimana bank sentral cenderung memberikan kebijakan yang mengarahkan pasar, Bank Negara Malaysia cenderung mengikuti keinginan pasar. Sehingga bank sentral belum memasukkan target mudharabah dan musyarakh, karena dilihat dari permintaan belum tinggi.
    b. Komposisi Pembiayaan
    Sejak berdirinya bank syarih yang pertama, komposisi pembiayaan cenderung tidak berubah, lebih banyak kepada pembiayaan murabahah. Hal yang membedakan perkembangan bank islam di indonesia dengan Malaysia adalah produk pasar modal sukuk. Sukuk ini sudah banyak digunakan oleh perbankan syariah di Malaysia. Sedangkan di Indonesia penggunaan sukuk sebagai suatu instrumen keuangan syariah masih diperdebatkan dan baru sedikit dipergunakan.
    3. Indonesia
    Perkembangan perbankan syariah di Indonesia dapat dibagi menjadi fase, yaitu: fase sebelum tahun 1998, dan fase setelah tahun 1998. Fase pertama ini diawali dengan berdirinya Bank Muamalat tahun 1992, namun jauh sebelum berdirinya bank muamalat konsep perbankan syariah ini sudah merupakan bahan diskusi ulama, cendekiawan islam, pada wal tahun 1980. Fase kedua setelah dikeluarkannya UU No. 10 tahun 1998, dimana pemerintah semakin menunjukkan komitmennya kepada perbankan syariah dengan memberikan landasan hukum yang kuat dengan mengijinkan perbankan konvensional untuk membuka unit usaha syariah.
    a. Peran bank Indonesia
    BI memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan perbankan syariah di Indonesia sejak diberi amanah dalam pengaturan perbankan dan moneter syariah yang tertuanag dalam UU NO. 23 tahun 1999.
    b. Komposisi pembiayaan
    Porsi pembiayaan bagi hasil sejak tahun 2000 menunjukkan kecenderungan yang terus menurun dan baru mulai meningkat lagi di tahun 2003. Sementara itu, porsi murabahah menunjukkan kecenderungan porsi yang terus meningkat.

    Berbagai Penyebab Rendahnya Pembiayaan Bagi hasil
    Dari berbagai pendapat para pakar, penyebab rendahnya pembiayaan bagi hasi adalah dapat dilihat dari 4 sisi, yaitu:
    a. Internal bank syariah
    1. Kualitas sumber daya insani (SDI) yang belum memadai untuk menangani, memproses, memonitor, menyelia, dan mengaudit berbagi proyek bagi hasil,
    2. Bank syariah belum dapat menanggung resiko besar, karena belum memiliki bentuk keahlian yang dibutuhkan untuk memproses, memonitor, menyelia, dan mengaudit berbagai proyek bagi resiko,
    3. Berkurangnya fleksibilitas dalam penggunaan dana, karena pembiayaan bagi hasil bersifat full-equity based invesment,
    4. Adverse selection, karena pengusaha yang menjalankan usaha yang menguntungkan enggan untuk berbagi keuntungannya yang besar dengan bank syariah ketika pembiayaan dengan bungan masih memungkinkan.
    b. Nasabah Bank Syariah
    1. Sebagian nasabah penyimpan/peminjam bersifat risk averse, karena belum terbiasa dengan kemungkinan rugi dan sudah terbiasa dengan sistem bunga,
    2. Moral hazard, karena pengusaha enggan menyampaikan lapotran keuangan/ keuntungan yang sebenarnya untuk menghindar pajak dan untuk menyembunyikan keuntungan yang sebenarnya.
    3. Permintaan pembiayaan bagi hasil masih kecil dari nasabah.
    c. Regulasi
    1. Kurangnya dukungan dari regulator, karena tidak melakukan inisiatif-inisiatif untuk mengadakan perubahan-perubahan peraturan dan institusional yang diperlukan untuk mendukung bekerjanya sistem perbankan syariah dengan baik,
    2. Tidak adanya institusi pendukung untuk mendorong penggunaan bagi hasil, dan
    3. Tidak adanya prosedur operasional yang seragam.
    d. Pemerintah dan Institusi lain
    1. Tidak ada kebijakan pendukung yang mendorong penggunaan bagi hasil untuk proyek-proyek pemerintah,
    2. Perlakuan pajak yang tidak adil, yang memperlakukan keuntungan sebagai proyek pajak sedangkan bunga bebas dari pajak,
    3. Pasar sekunder instrumen keuangan syariah belum ada, sehingga menyulitkan bank untuk menyalurkan atau mendapatkan akses likuiditas sesuai syariah,
    4. Hak kepemilikan yang tidak jelas, karena pembiayaan bagi hasil memerlukan adanya hak kepemilikan yang jelas dan berlaku efisien, dan
    5. Tidak adanya satu kata dalam aturan-aturan syariah.

    Kesimpulan
    Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah domonasi pembiayaan non bagi hasil atau rendahnya pembiayaan bagi hasil di perbankan seyogyanya dilihat secara proporsional kaeran beberapa hal:
    1. Masalah ini hanyalah satu dari sekian banyak yang saling mengaitkan yang dihadapi oleh perbankan syariah. Namun demikian, masalah ini juga harus mendapat perhatian yang serius karena masalah ini juga dapat mendatangkan reputation risk sebagai akibat label syariah yang menempel pada lembaga keuangan ini.
    2. Kedua, masalah ini sebenarnya bukanlah masalah yang sifatnya esensial, namun sifatnya cabang, karena pembiayaan bagi hasil dan non bagi hasil sama-sama diperbolehkan secara syariah.
    3. Ketiga, masalah dominasi non bagi hasil, khususnya murabahah merupakan masalah yang menyertai perkembangan suatu bank syariah, karena pada tahap awal pertumbuhan, bank syariah harus mengahadapi berbagai masalah lain yang menyertai pertumbuhan, khususnya, membangun SDI dengan paradigma baru yang sesuai dengan tuntutan syariah.
    4. Keempat, masalah rendahnya pembiayaan bagi hasil merupakan fenomena global yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di negara-negara lain yang menerapkan dual banking sistem maupun fully islamic banking.
    5. Masalah rendahnya pembiayaan bagi hasil, dalam penelitian ini pada akhirnya mengerucut pada dua masalah pokok dari aspek internal perbankan dan regulasi, yaitu masalah kurangnya pemahaman dan kualitas SDI perbankan syariah dan masalah kurangnya regulasi yang mendukung.

  4. Posted by Titin Nurfaizah & Dwi Safriani on Mei 7, 2010 at 6:48 pm

    Nama : Titin Nurfaizah 0702010005
    Dwi Safriani 0702010022

    Judul : PERBEDAAN BANK SYARIAH DENGAN BANK KONVENSIONAL
    Jurnal βετA Volume 7, No.2, Maret 2009 oleh Sri Langgeng Ratnasari
    Isi Jurnal
    A. PENDAHULUAN
    Bank Konvensional menggunakan instrumen bunga atau jasa, dimana sistem itu selalau menjadi problem dikalangan para ulama cendekiawan. Bank syariah juga mempunyai beberapa prinsip selain bagi hasil, keseluruhanya tanpa adanya unsur bunga. Dari hal itu dapat dirumuskan bahwa, apakah bunga konvensional identik dengan jenis ribayang diharamkan atau apakah letak perbedaan antara instrumen bunga bank konvensional dengan prinsip bai hasil yang merupakan nilai tambah bagi bank syariah.
    B. PROBLEM INSTRUMEN BUNGA BANK
    Larangan riba” Hai orang-oramg yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda” (QS,3;130) (QS, 30:39) (QS, 4:29) dan Hadist2 yang memperkuat Qur’an.
    Melihat bahaya besar atau dampak negatif dari praktek riba itulah, maka nabi Muhammad SAW membuat perjanjian dengan kelompok Yahudi, bahwa mereka tidak dibenarkan menjalankan praktek riba. Seirama dengan ketentuan itu maka perbankan syariah teah menarik garis pembatas secara tegas untuk tidak mempergunakan sistem yang identik dengan unsur yang dilarang tersebut.
    Menurut Mahmoud Syalthout ada empat jenis riba yaitu, Riba fadli, riba yard, riba qardhi dan riba nasi’ah. Yang telah disepakati keharamannya adalah nasi’ah.
    C. DEWAN PENGAWAS SYARIAH
    Tugas DPS
    • Mengawasi produk-produk perbankan
    • Memberikan pedoman atau advis, baik pada pengerahan maupun penyaluran dana serta keg. Perbankan lainya
    Disamping DPS diperlukan penyalur antara DPS dengan Dewan Direksi yaitu Liason yariah yang menguasai fiqih muamalat secara mendalam.
    D. PERATURAN DAN PRINSIP PERBANKAN SYARIAH
    • UU No. 7 Tahun 1992 yang disempurnakan oleh UU No. 10 Tahun 1998 tentan perbankan dan UU No. 23 tahun 1999 jo tentang Bank Indonesia, UU No. 3 tahun 2004
    • Sebagai Peraturan Pelaksana Uu No. 7 thn 1992 yaitu PP No. 72 thn 1992 tentang Bank berdasarkan prinsip bagi hasil sebagaimana telah dihapus oleh PP No. 30 thn 1999
    • Selain ketentuan-ketentuan itu bank islam juga mendasarkan pd prinsip-prinsip sebagai berikut: “Orang-orang yang makan (mengambilriba) tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila” (QS,2:275), (QS, 2;179), (QS,3:130), (QS,30:39). Hadist yang melarang riba antara lain: Abu Hurairoh,ra. Nabi Muhammad SAW, “ Ada empat golongan yang pasti Alloh SWT tidak memasukan mereka ke dalam surga, dan tdk merasakan mereka akan nikmatnya . pemabuk khamar, pemakan riba, pemakan harta anak yatim tanpa hak, dan penduhaka terhadap ibu bapak.
    • Salah satu keagungan islam adalah diakuinya persamaan hak bagi seluruh umat manusia/ keadilan hakiki dl islam.

    E. PRODUK-PRODUK PERBANKAN SYARIAH
    • Simpanan, deposito dan tabungan
    • Jasa-jasa anta lain Pembiayaan Al A-Mudharabbah dan Al Husyarakah yang menyangkut investasi.
    • Perdagangan yaitu Al Murabahah dan Al Baiu Bithaman Ajil, dlm hal ini bank memperoleh margin keuntungan (mark up).
    Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional

    Bank Konvensional
     Penentuan bunga dibuat pada waktu akad tanpa berpedoman pada untung rugi

     Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah royek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi
     Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat, sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming
     Eksistensi bunga diragukan oeh semua agama termasuk islam
     Investasi yang halal dan haram tidak terdapat dewan pengawas syariah

    Bank Syariah
     Penentuan besarnya ratio bagi hasil di buat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi
     Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Sekiranya rugi akan ditanggung bersama oleh kedua pihak.
     Jumlah pembayaran laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan

     Tidak ada yang meragukan keabsahan keuntungan bagi hasil
     Melaksanakan investasi yang halal saja. Pengerahan dan penyaluran dana sesuai pendapat melalui dewan pengawas syariah

    F. KESIMPULAN

    • Bank Syariah merupakan suatu lembaga yang berasaskan antara lain, keadilan, kemitraan, transparasi, dan unuvesal serta melakukan kegiatan usaha perbankan berdasarkan prinsip-prinsi perekonomian islam
    • Kegiatan usaha perbankan ini mempunyai ciri khas antara lain menharamkan riba, konsep uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas dan tidak diperkenankan melakukan kegiatan spekulasi dlm berbagai bentuknya.
    • Prinsip syariah dapat bertahan ditengah gejolaknya nilai tukar dan ingkat suku bunga yang tingi.
    • Unsur-unsur moralitas menjadi faktor penting dlm seluruh tindakan bank.

  5. Posted by Yuni Astuti & Nur Rohmiyati on Mei 11, 2010 at 3:05 am

    PERBANKAN SYARIAH DAN PERBANKAN BERDASARKAN BUNGA MANAKAH YANG LEBIH OPTIMAL ?

    I. PENDAHULUAN
    Perbankan syariah terus berkembang, baik di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Tingkat pertumbuhannya yang tinggi menjadi perhatian banyak pihak. Meskipun demikian, pangsa pasar perbankan syariah masih relatif kedl, bahkan di beberapa negara yang mayoritas penduduknya muslim. Di Indonesia per Desember 2004 total asset-nya baru mencapai sekitar 1,26% dari total asset perbankan, yang relatif kedl jika dibandingkan asset perbankan yang menggunakan instrumen bunga (untuk selanjutnya disebut “perbankan berdasarkan bunga”). Di samping pangsa pasar yang relatif kecil tersebut, banyak pihak mengkritik operasional perbankan syariah yang lebih banyak didominasi oleh pembiayaan non bagi hasil dengan skema debt-like financing. Per Desember 2004 porsi pembiayaan non bagi hasil perbankan syariah di Indonesia mencapai 70,99%, sedangkan pembiayaan dengan instrumen bagi hasil hanya sebesar 29,01 %. –
    Berdasarkan fakta-fakta tersebut, akan dilakukan pengujian dan analisis atas perbankan syariah dan perbankan berdasarkan bunga. selanjutnya kedua sistem perbankan tersebut dibandingkan dan ditentukan mana dari kedua sistem perbankan tersebut yang lebih optimal, baik dari sisi wealth pemegang saham bank maupun dari sisi welfare entrepreneur dan welfare depositor.
    Studi ini diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan tentang pengaruh skema pembiayaan yang digunakan perbankan terhadap kinerjanya, karakteristik return dan risiko dari skema pembiayaan, kaitan antara sisi pendanaan dan pembiayaan, perilaku bank dalam memaksimisasi labanya, asimetri informasi dan risiko-risiko yang dihadapi oleh kedua sistem perbankan tersebut serta pengaruhnya terhadap kinerja perbankan, dan rnanakah yang lebih optimal, baik dari sisi wealth pemegang saham bank, welfare entrepreneur, maupun welfare depositor, perbankan syariah ataukah perbankan berdasarkan bunga, serta hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan optimalitas kedua sistem perbankan tersebut.
    Tujuan studi/penelitian ini meliputi hal-hal sebagai berikut: memberikan gambaran mengenai skema-skema pembiayaan dan keterkaitannya dengan sisi pendanaan, menyusun model komprehensif perilaku perbankan syariah dan perbankan berdasarkan bunga dalam memaksimisasi labanya, menganalisis asimetri informasi dan risiko-risiko yang dihadapi oleh kedua sistem perbankan tersebut dan pengaruhnya terhadap kinerjanya, menyusun kerangka teori dan analisis empiris atas manakah, yang lebih optimal bagi pemegang saham bank, entrepreneur, dan depositor, perbankan syariah ataukah perbankan berdasarkan bunga, dan memberikan gambaran mengenai hubungan di antara variabel-variabelnya.
    Pada bagian II akan diuraikan berbagai literatur yang terkait dengan sistem operasi perbankan syariah dan perbankan berdasarkan bunga. Selain itu, bab ini juga berupaya membangun kerangka teori perbankan syariah dan perbankan berdasarkan bunga serta pemodelan optimalitas sistem perbankan. Bagian III berisi metode dan prosedur yang digunakan dalam pengukuran dan pengujian model optimalitas sistem perbankan. Analisis dan pembahasan disampaikan pada bagian IV, di mana dilakukan pengujian dan pernbandingan optimalitas, baik dari sisi wealth pemegang saham bank, welfare entrepreneur, maupun welfare depositor. Bagian V berisi kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan dari studi/penelitian ini.

    11.2. Model V
    Model yang akan dibangun untuk menguji optimalitas sistem perbankan meliputi seluruh aspek, baik sisi pembiayaan, pendanaan, inter-relasinya, dan biaya operasional, Berta adanya asimetri informasi dan risiko-risiko yang dihadapi oleh perbankan. Tahap pertama adalah membangun model untuk menguji optimalitas sistem perbankan dilihat dari sisi fungsi tujuan bank untuk memaksimisasi wealth pemegang saham bank. Tahap berikutnya berupa membangun model untuk menguji optimalitas dilihat dari sisi sosial welfare-nya, baik dari sisi entrepreneur maupun depositor.
    A. Fungsi Tujuan Bank
    Bank sebagai suatu badan usaha mempunyai tujuan untuk memaksimisasi wealth pemegang sahamnya melalui maksimisasi laba bank.

    B. Pembiayaan
    Dalam hal ini diasumsikan hanya ada tiga skema pembiayaan yang digunakan oleh bank, yaitu debt financing dengan instrumen bunga, debt-like financingdengan instrumen mark-up, dan equity financing dengan instrumen bagi hasil. Diasumsikan pula bahwa bank berdasarkan bunga sepenuhnya melakukan pembiayaan dengan debt financing, sedangkan bank syariah dapat melakukan pembiayaan dengan equity financing dan debt-like financing.
    Return dari suatu proyek yang membutuhkan pembiayaan adalah sebesar y, sementara itu expected return dari pembiayaan tersebut sebesar E[rf]. Kemampuan entrepreneur untuk membayar bunga, mark-up, atau bagi hasil sangat ditentukan oleh besarnya return proyek pada periode berjalan. Hal ini dapat diartikan bahwa expected return pembiayaan pada periode t, E[rft] conditional terhadap besarnya return proyek pada periode t, yt. sementara itu besarnya pembiayaan yang dapat disalurkan bank akan ditentukan oleh tingkat suku bunga kredit, mark-up, atau marjin bagi hasil yang ditawarkan bank kepada – entrepreneurnya.

    C. Pendanaan
    Dalam hal ini diasumsikan bahwa bank berdasarkan bunga sepenuhnya menggunakan instrumen bunga, sedangkan bank syariah sepenuhnya menggunakan instrumen revenue sharing, dan tidak ada skema penjaminan simpanan. Terdapat perbedaan karakteristik yang sangat mendasar antara kedua sistem perbankan tersebut. Pada bank berdasarkan bunga, tidak terdapat risk sharing antara bank dan depositornya, mengingat bank harus membayar jumlah bunga yang telah ditetapkan tanpa harus memperhitungkan return dan risiko dari aktivitas pembiayaannya. Sementara itu pada bank syariah terdapat risk sharing antara bank dan depositornya, di mana risiko yang timbul dari aktivitas pembiayaan bank sebagian ditransmisikan ke depositornya melalui prenggunaan instrumen bagi hasil pada simpanannya.
    Besarnya cost of fund bank pada suatu periode, rDt, ditentukan dengan memperhatikan permintaan tingkat return depositor bank, yang di samping mempertimbangkan tingkat inflasi juga level kompetitifnya dibandingkan yang ditawarkan bank lain. Sementara itu, besarnya simpanan masyarakat yang dapat dikumpulkan oleh bank pada suatu periode akan sangat ,ditentukan oleh tingkat return yang ditawarkan oleh bank tersebut.
    Pembiayaan berhubungan erat dengan pendanaannya. Hubunqan antara pembiayaan dan pendanaan pada bank syariah lebih kompleks lagi mengingat bank syariah menggunakan instrumen revenue sharing pada sisi pendanaannya, di mana return yang diperoleh dari pembiayaan (dan resiko yang menyertainya) akan dibagihasilkan dengan depositor bank syariah.

    Perbankan Berdasarkan Bunga
    Pada bank berdasarkan bunga, besarnya pembiayaan yang disalurkan di samping tergantung pada tingkat suku bunga kredit juga tergantung pada ketersediaan dana. Sementara itu besarnya pendanaan yang dihimpun bank tergantung pada tingkat suku bunga simpanan. Tingkat suku bunga simpanan yang ditawarkan bank akan tergantung pula pada besarnya tingkat suku bunga kredit, demikian pula sebaliknya; keduanya ditetapkan secara simultan.

    Perbankan Syariah
    Pada bank syariah besarnya pembiayaan yang disalurkan di samping tergantung pada marjin bagi hasil dengan entrepreneur dan mark-up juga tergantung pada ketersediaan dana. Besarnya pendanaan yang dihimpun bank tergantung pada marjin bagi hasil dengan depositor ,yang ditawarkan oleh bank dan besarnya pendapatan operasional ban ada periode —sebelumnya, yang menunjukkan expected return yang akan diterima depositor.

    D. Risiko yang dihadapi Bank
    1) Credit Risk
    Credit risk di samping disebabkan adanya asimetri informasi juga disebabkan oleh kemampuan entrepreneur yang kurang memadai, lingkungan usaha yang tidak kondusif, dan mekanisme pasar pada umumnya.
    2) Inflation Risk
    Bank juga dihadapkan pada inflation risk yang akan mempengaruhi besarnya real return, yang diterima bank.
    3) Liquidity Risk_
    Jjka dilihat dari sisi datangnya simpanan masyarakat dan penarikannya yang sifatnya stokastik, maka bank berdasarkan bunga dan bank syariah menghadapi liquidity risk yang sama.
    4) Market Risk
    Market risk, atau disebut juga interest rate risk, sesuai dengan namanya hanya terjadi di bank berdasarkan bunga.

    II. METODOLOGI PENELITIAN
    A. Spesifikasi Model
    Model optimalitas sistem perbankan, balk dari sisi wealth pemegang saham bank, welfare entrepreneur, maupun welfare depositor, masing-masing terdiri dari dua model, yaitu model untuk perbankan berdasarkan bunga dan perbankan syariah, yang spesifikasi modelnya sebagaimana disebutkan di muka.

    B. Pengumpulan dan Pengolahan Data
    Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari publikasi Bank Indonesia, berupa Data Perbankan Indonesia, Statistik Perbankan Syariah, dan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia ecisi 2000 – 2004. Di samping itu data juga berasal dari beberapa sumber yang tidak dipublikasikan, seperti Laporan Laba/Rugi Bank Syariah tahun 2000 – 2004. Data-data tersebut berupa data bulanan. Untuk data perbankan syariah digunakan data seluruh bank syariah di Indonesia, sedangkan untuk data perbankan berdasarkan bunga digunakan data seluruh bank umum di Indonesia, termasuk bank syariah.
    Beberapa data yang tersedia, yang akan digunakan dalam pembentukan variabel-variabel model optimalitas sistem perbankan meliputi:
    a. Model Wealth Pemeqang Sahara Bank:
    b. Model Welfare Entrepreneur:.
    c. Model Welfare Depositor

    C. Regresi Model Ekonometrika
    Metode ekonometrika dalam hal ini digunakan untuk melihat hubungan di antara beberapa variabel yang turut menentukan tingkat optimalitas kedua sistem perbankan tersebut. Dengan demikian diharapkan dapat memperkuat hasil pengujian optimalitas sistem perbankan tersebut serta dapat memberikan gambaran mengenai bentuk hubungan di antara variabel-¬variabelnya. Dalam hal ini digunakan model Vector Autoregression (VAR).

    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

    A. Kesimpulan
    Dari uraian di muka, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
    1. Optimalitas suatu sistem perbankan harus dilihat bukan hanya dari sisi wealth pemegang saham bank, melainkan juga dari sisi welfare entrepreneur dan welfare depositor.
    2. Terdapat perbedaan mendasar model wealth pemegang saham bank pada perbankan berdasarkan bunga dan perbankan syariah, yang berimplikasi pada perbedaan model welfare entrepreneur can welfare depositor.
    3. Beberapa variabel di luar sistem perbankan turut menentukan besaran indikator-indikator optimalitas sistem perbankan.
    4. Tinggi rendahnya tingkat suku bunga, balk tingkat suku bunga kredit maupun suku bunga simpanan, sangat menentukan hasil peng.jian atas sistem perbankan many yang lebih optimal.

    B. Rekomendasi Kebijakan
    Berdasarkan pembahasan di atas, diajukan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
    1. Studi lebih lanjut yang menginternalisasi variabel-variabel di luar sistem perbankan kedalam model, perlu dilakukan.
    2. Upaya pengembangan sisi asset perbankan syariah di Indonesia, yang ditujukan untuk meningkatkan porsi pembiayaan dengan instrumen bagi hasil berupa mudharabah dan musyarakah, perlu dilakukan.
    3. Perbankan syariah, dengan instrumen bagi hasilnya, memiliki properties yang unik, yakni cost of fund bank syariah selalu lebih kecil daripada pendapatan operasionalnya dan adanya risk sharing dengan depositornya atas berbagai risiko yang dihadapi bank dalam aktivitas pembiayaannya. Hal tersebut bisa dilihat dari komponen pada model optimalitas sistem perbankan. Dua hal tersebut merupakan properties yang sangat berharga guna optimalitas fungsi intermediasi perbankan dan stabilitas keuangan. Oleb karena itu perlu dilakukan peneiitian lebih lanjut mengenai hal tersebut.

    DAFTAR PUSTAKA

    Aggarwal, Rajesh K. dan Yousef, Tarik. “Islamic Banks and Investment Financing.” Journal of Money, Credit and Banking, Februari 2Q00, 32(1), 93-120.

    Antonio, Muhammad Syafi’i. Bank Syariah: Suatu Pengenalan Umum. Jakarta: Tazkia Institute, 2000.

    Bank Indonesia. Laporan Perkembangan Perbankan Syariah Tahun 2004. Jakarta: Direktorat Perbankan Syariah – Bank Indonesia, 2005.

    Brigham, Eugene F. dan Gapenski, Louis C. Financial Management: Theory and Practice. Edisi ke-8. Florida: The Dryden Press, 1997.

    Chapra, M. Umer. Sistem Moneter Islam. Jakarta: Gema Insani Press, 2000.

    Chapra, M. Umer. The Future of Economics: An Islamic Perspective. Jakarta: Shari’ah Economics and Banking Institute, 2001.

  6. Posted by Yuni Astuti Nur Rohmiyati on Mei 11, 2010 at 3:39 am

    Nama kelompok:
    1. Yuni Astuti (0702010050)
    2. Nur Rohmiyati (0702010018)
    3. Yusriatun (0702010034)
    PERBANKAN SYARIAH DAN PERBANKAN BERDASARKAN BUNGA MANAKAH YANG LEBIH OPTIMAL ?

    I. PENDAHULUAN
    Perbankan syariah terus berkembang, baik di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Tingkat pertumbuhannya yang tinggi menjadi perhatian banyak pihak. Meskipun demikian, pangsa pasar perbankan syariah masih relatif kedl, bahkan di beberapa negara yang mayoritas penduduknya muslim. Di Indonesia per Desember 2004 total asset-nya baru mencapai sekitar 1,26% dari total asset perbankan, yang relatif kedl jika dibandingkan asset perbankan yang menggunakan instrumen bunga (untuk selanjutnya disebut “perbankan berdasarkan bunga”). Di samping pangsa pasar yang relatif kecil tersebut, banyak pihak mengkritik operasional perbankan syariah yang lebih banyak didominasi oleh pembiayaan non bagi hasil dengan skema debt-like financing. Per Desember 2004 porsi pembiayaan non bagi hasil perbankan syariah di Indonesia mencapai 70,99%, sedangkan pembiayaan dengan instrumen bagi hasil hanya sebesar 29,01 %. –
    Berdasarkan fakta-fakta tersebut, akan dilakukan pengujian dan analisis atas perbankan syariah dan perbankan berdasarkan bunga. selanjutnya kedua sistem perbankan tersebut dibandingkan dan ditentukan mana dari kedua sistem perbankan tersebut yang lebih optimal, baik dari sisi wealth pemegang saham bank maupun dari sisi welfare entrepreneur dan welfare depositor.
    Studi ini diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan tentang pengaruh skema pembiayaan yang digunakan perbankan terhadap kinerjanya, karakteristik return dan risiko dari skema pembiayaan, kaitan antara sisi pendanaan dan pembiayaan, perilaku bank dalam memaksimisasi labanya, asimetri informasi dan risiko-risiko yang dihadapi oleh kedua sistem perbankan tersebut serta pengaruhnya terhadap kinerja perbankan, dan rnanakah yang lebih optimal, baik dari sisi wealth pemegang saham bank, welfare entrepreneur, maupun welfare depositor, perbankan syariah ataukah perbankan berdasarkan bunga, serta hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan optimalitas kedua sistem perbankan tersebut.
    Tujuan studi/penelitian ini meliputi hal-hal sebagai berikut: memberikan gambaran mengenai skema-skema pembiayaan dan keterkaitannya dengan sisi pendanaan, menyusun model komprehensif perilaku perbankan syariah dan perbankan berdasarkan bunga dalam memaksimisasi labanya, menganalisis asimetri informasi dan risiko-risiko yang dihadapi oleh kedua sistem perbankan tersebut dan pengaruhnya terhadap kinerjanya, menyusun kerangka teori dan analisis empiris atas manakah, yang lebih optimal bagi pemegang saham bank, entrepreneur, dan depositor, perbankan syariah ataukah perbankan berdasarkan bunga, dan memberikan gambaran mengenai hubungan di antara variabel-variabelnya.
    Pada bagian II akan diuraikan berbagai literatur yang terkait dengan sistem operasi perbankan syariah dan perbankan berdasarkan bunga. Selain itu, bab ini juga berupaya membangun kerangka teori perbankan syariah dan perbankan berdasarkan bunga serta pemodelan optimalitas sistem perbankan. Bagian III berisi metode dan prosedur yang digunakan dalam pengukuran dan pengujian model optimalitas sistem perbankan. Analisis dan pembahasan disampaikan pada bagian IV, di mana dilakukan pengujian dan pernbandingan optimalitas, baik dari sisi wealth pemegang saham bank, welfare entrepreneur, maupun welfare depositor. Bagian V berisi kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan dari studi/penelitian ini.

    11.2. Model V
    Model yang akan dibangun untuk menguji optimalitas sistem perbankan meliputi seluruh aspek, baik sisi pembiayaan, pendanaan, inter-relasinya, dan biaya operasional, Berta adanya asimetri informasi dan risiko-risiko yang dihadapi oleh perbankan. Tahap pertama adalah membangun model untuk menguji optimalitas sistem perbankan dilihat dari sisi fungsi tujuan bank untuk memaksimisasi wealth pemegang saham bank. Tahap berikutnya berupa membangun model untuk menguji optimalitas dilihat dari sisi sosial welfare-nya, baik dari sisi entrepreneur maupun depositor.
    A. Fungsi Tujuan Bank
    Bank sebagai suatu badan usaha mempunyai tujuan untuk memaksimisasi wealth pemegang sahamnya melalui maksimisasi laba bank.

    B. Pembiayaan
    Dalam hal ini diasumsikan hanya ada tiga skema pembiayaan yang digunakan oleh bank, yaitu debt financing dengan instrumen bunga, debt-like financingdengan instrumen mark-up, dan equity financing dengan instrumen bagi hasil. Diasumsikan pula bahwa bank berdasarkan bunga sepenuhnya melakukan pembiayaan dengan debt financing, sedangkan bank syariah dapat melakukan pembiayaan dengan equity financing dan debt-like financing.
    Return dari suatu proyek yang membutuhkan pembiayaan adalah sebesar y, sementara itu expected return dari pembiayaan tersebut sebesar E[rf]. Kemampuan entrepreneur untuk membayar bunga, mark-up, atau bagi hasil sangat ditentukan oleh besarnya return proyek pada periode berjalan. Hal ini dapat diartikan bahwa expected return pembiayaan pada periode t, E[rft] conditional terhadap besarnya return proyek pada periode t, yt. sementara itu besarnya pembiayaan yang dapat disalurkan bank akan ditentukan oleh tingkat suku bunga kredit, mark-up, atau marjin bagi hasil yang ditawarkan bank kepada – entrepreneurnya.

    C. Pendanaan
    Dalam hal ini diasumsikan bahwa bank berdasarkan bunga sepenuhnya menggunakan instrumen bunga, sedangkan bank syariah sepenuhnya menggunakan instrumen revenue sharing, dan tidak ada skema penjaminan simpanan. Terdapat perbedaan karakteristik yang sangat mendasar antara kedua sistem perbankan tersebut. Pada bank berdasarkan bunga, tidak terdapat risk sharing antara bank dan depositornya, mengingat bank harus membayar jumlah bunga yang telah ditetapkan tanpa harus memperhitungkan return dan risiko dari aktivitas pembiayaannya. Sementara itu pada bank syariah terdapat risk sharing antara bank dan depositornya, di mana risiko yang timbul dari aktivitas pembiayaan bank sebagian ditransmisikan ke depositornya melalui prenggunaan instrumen bagi hasil pada simpanannya.
    Besarnya cost of fund bank pada suatu periode, rDt, ditentukan dengan memperhatikan permintaan tingkat return depositor bank, yang di samping mempertimbangkan tingkat inflasi juga level kompetitifnya dibandingkan yang ditawarkan bank lain. Sementara itu, besarnya simpanan masyarakat yang dapat dikumpulkan oleh bank pada suatu periode akan sangat ,ditentukan oleh tingkat return yang ditawarkan oleh bank tersebut.
    Pembiayaan berhubungan erat dengan pendanaannya. Hubunqan antara pembiayaan dan pendanaan pada bank syariah lebih kompleks lagi mengingat bank syariah menggunakan instrumen revenue sharing pada sisi pendanaannya, di mana return yang diperoleh dari pembiayaan (dan resiko yang menyertainya) akan dibagihasilkan dengan depositor bank syariah.

    Perbankan Berdasarkan Bunga
    Pada bank berdasarkan bunga, besarnya pembiayaan yang disalurkan di samping tergantung pada tingkat suku bunga kredit juga tergantung pada ketersediaan dana. Sementara itu besarnya pendanaan yang dihimpun bank tergantung pada tingkat suku bunga simpanan. Tingkat suku bunga simpanan yang ditawarkan bank akan tergantung pula pada besarnya tingkat suku bunga kredit, demikian pula sebaliknya; keduanya ditetapkan secara simultan.

    Perbankan Syariah
    Pada bank syariah besarnya pembiayaan yang disalurkan di samping tergantung pada marjin bagi hasil dengan entrepreneur dan mark-up juga tergantung pada ketersediaan dana. Besarnya pendanaan yang dihimpun bank tergantung pada marjin bagi hasil dengan depositor ,yang ditawarkan oleh bank dan besarnya pendapatan operasional ban ada periode —sebelumnya, yang menunjukkan expected return yang akan diterima depositor.

    D. Risiko yang dihadapi Bank
    1) Credit Risk
    Credit risk di samping disebabkan adanya asimetri informasi juga disebabkan oleh kemampuan entrepreneur yang kurang memadai, lingkungan usaha yang tidak kondusif, dan mekanisme pasar pada umumnya.
    2) Inflation Risk
    Bank juga dihadapkan pada inflation risk yang akan mempengaruhi besarnya real return, yang diterima bank.
    3) Liquidity Risk_
    Jjka dilihat dari sisi datangnya simpanan masyarakat dan penarikannya yang sifatnya stokastik, maka bank berdasarkan bunga dan bank syariah menghadapi liquidity risk yang sama.
    4) Market Risk
    Market risk, atau disebut juga interest rate risk, sesuai dengan namanya hanya terjadi di bank berdasarkan bunga.

    II. METODOLOGI PENELITIAN
    A. Spesifikasi Model
    Model optimalitas sistem perbankan, balk dari sisi wealth pemegang saham bank, welfare entrepreneur, maupun welfare depositor, masing-masing terdiri dari dua model, yaitu model untuk perbankan berdasarkan bunga dan perbankan syariah, yang spesifikasi modelnya sebagaimana disebutkan di muka.

    B. Pengumpulan dan Pengolahan Data
    Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari publikasi Bank Indonesia, berupa Data Perbankan Indonesia, Statistik Perbankan Syariah, dan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia ecisi 2000 – 2004. Di samping itu data juga berasal dari beberapa sumber yang tidak dipublikasikan, seperti Laporan Laba/Rugi Bank Syariah tahun 2000 – 2004. Data-data tersebut berupa data bulanan. Untuk data perbankan syariah digunakan data seluruh bank syariah di Indonesia, sedangkan untuk data perbankan berdasarkan bunga digunakan data seluruh bank umum di Indonesia, termasuk bank syariah.
    Beberapa data yang tersedia, yang akan digunakan dalam pembentukan variabel-variabel model optimalitas sistem perbankan meliputi:
    a. Model Wealth Pemeqang Sahara Bank:
    b. Model Welfare Entrepreneur:.
    c. Model Welfare Depositor

    C. Regresi Model Ekonometrika
    Metode ekonometrika dalam hal ini digunakan untuk melihat hubungan di antara beberapa variabel yang turut menentukan tingkat optimalitas kedua sistem perbankan tersebut. Dengan demikian diharapkan dapat memperkuat hasil pengujian optimalitas sistem perbankan tersebut serta dapat memberikan gambaran mengenai bentuk hubungan di antara variabel-¬variabelnya. Dalam hal ini digunakan model Vector Autoregression (VAR).

    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

    A. Kesimpulan
    Dari uraian di muka, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
    1. Optimalitas suatu sistem perbankan harus dilihat bukan hanya dari sisi wealth pemegang saham bank, melainkan juga dari sisi welfare entrepreneur dan welfare depositor.
    2. Terdapat perbedaan mendasar model wealth pemegang saham bank pada perbankan berdasarkan bunga dan perbankan syariah, yang berimplikasi pada perbedaan model welfare entrepreneur can welfare depositor.
    3. Beberapa variabel di luar sistem perbankan turut menentukan besaran indikator-indikator optimalitas sistem perbankan.
    4. Tinggi rendahnya tingkat suku bunga, balk tingkat suku bunga kredit maupun suku bunga simpanan, sangat menentukan hasil peng.jian atas sistem perbankan many yang lebih optimal.

    B. Rekomendasi Kebijakan
    Berdasarkan pembahasan di atas, diajukan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
    1. Studi lebih lanjut yang menginternalisasi variabel-variabel di luar sistem perbankan kedalam model, perlu dilakukan.
    2. Upaya pengembangan sisi asset perbankan syariah di Indonesia, yang ditujukan untuk meningkatkan porsi pembiayaan dengan instrumen bagi hasil berupa mudharabah dan musyarakah, perlu dilakukan.
    3. Perbankan syariah, dengan instrumen bagi hasilnya, memiliki properties yang unik, yakni cost of fund bank syariah selalu lebih kecil daripada pendapatan operasionalnya dan adanya risk sharing dengan depositornya atas berbagai risiko yang dihadapi bank dalam aktivitas pembiayaannya. Hal tersebut bisa dilihat dari komponen pada model optimalitas sistem perbankan. Dua hal tersebut merupakan properties yang sangat berharga guna optimalitas fungsi intermediasi perbankan dan stabilitas keuangan. Oleb karena itu perlu dilakukan peneiitian lebih lanjut mengenai hal tersebut.

    DAFTAR PUSTAKA

    Aggarwal, Rajesh K. dan Yousef, Tarik. “Islamic Banks and Investment Financing.” Journal of Money, Credit and Banking, Februari 2Q00, 32(1), 93-120.

    Antonio, Muhammad Syafi’i. Bank Syariah: Suatu Pengenalan Umum. Jakarta: Tazkia Institute, 2000.

    Bank Indonesia. Laporan Perkembangan Perbankan Syariah Tahun 2004. Jakarta: Direktorat Perbankan Syariah – Bank Indonesia, 2005.

    Brigham, Eugene F. dan Gapenski, Louis C. Financial Management: Theory and Practice. Edisi ke-8. Florida: The Dryden Press, 1997.

    Chapra, M. Umer. Sistem Moneter Islam. Jakarta: Gema Insani Press, 2000.

    Chapra, M. Umer. The Future of Economics: An Islamic Perspective. Jakarta: Shari’ah Economics and Banking Institute, 2001.

  7. Posted by nandang yudi permana on Mei 23, 2010 at 2:12 pm

    nama kelompok: 1. nandang yudi permana (0702010021)
    2. nanda agung aditya (0602010004

    judul: Islamisasi Model al-Faruqi dan Penerapannya dalam Ilmu Ekonomi Islam di Indonesia
    (Suatu Kritik Epistemik)
    Oleh: Yusdani

    I. Pendahuluan
    Prestasi terbesar Barat adalah keberhasilannya dalam mengembangkan
    ilmu pengetahuan dan teknologi secara positif dapat memberikan kemudahan
    hidup bagi umat manusia dan bisa dinikmati manfaatnya oleh umat manusia
    saat ini. Namun, diakui juga bahwa dampak negatif keberhasilan iptek ini dapat
    mendatangkan malapetaka kemanusiaan terbesar seperti Perang Dunia Kedua.
    * Yusdani adalah dosen tetap FIAI Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, email:
    yusdani_msi@yahoo.com

    Karena dengan kemajuan iptek dapat dikembangkan juga senjata pemusnah berat
    dan bertolak belakang dengan rasa keadilan umat manusia jika dipergunakan
    untuk merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan semua makhluk hidup
    ciptaan Tuhan, hal ini sudah tentu bertentangan dengan nilai-nilai agama.1
    Dalam konteks ini, munculnya wacana Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang ramai
    diperbincangkan pada tahun 1970-an oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai
    disiplin ilmu, dapat dibaca sebagai sebuah kontra-hegemoni ataupun diskursus
    perlawanan.
    Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang dikemukakan oleh para sarjana
    muslim sekalipun terdapat titik-titik persamaan, juga ada garis perbedaan di antara
    mereka. Misalnya antara Alatas2 dan al-Faruqi.3 Al-Faruqi tampaknya lebih bisa
    1 Chairil Anwar (2000), Islam dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI, ( Yogyakarta:
    Pustaka Pelajar), p.1 dan 16; R.H.A. Sahirul Alim (1999), Menguak Keterpaduan Sains,
    Teknologi dan Islam (Yogyakarta: Titian Ilahi Press), p.67-68.
    2 Konsep dasar Islamisasi Ilmu Pengetahuan ala Alatas bisa dibaca misalnya dalam
    bukunya Islam & Secularism. Bagi Alatas misalnya, Islamisasi Ilmu Pengetahuan mengacu
    kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk
    kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Tercakup
    dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik,
    doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani
    sekaligus penguasaan terhadapnya. Setelah proses ini dilalui, langkah berikutnya adalah
    menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman. Sehingga dengan demikian
    akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan
    sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi,
    makna serta ungkapan sekuler Lihat: Syed Farid Alatas (1994), “Agama dan Ilmu-ilmu
    Sosial”, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an No. 2 Vol. 5 Tahun 1994.
    3 Isma’il Raji al Faruqi, “Islamization of Knowledge: Principles, and Prospective”,
    dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International
    􀀪􀁏􀁔􀁕􀁊􀁕􀁖􀁕􀁆􀀁 􀁐􀁇􀀁 􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀁊􀁄􀀁 􀉨􀁐􀁖􀁈􀁉􀁕􀀍􀀁 􀀒􀀚􀀙􀀙􀀏􀀁 􀀮􀁆􀁏􀁖􀁓􀁖􀁕􀀁 􀀪􀁔􀁎􀁂􀁊􀁍􀀁 􀁂􀁍􀀁 􀀧􀁂􀁓􀁖􀁒􀁊􀀍􀀁 􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀁊􀁔􀁂􀁔􀁊􀀁 􀀪􀁍􀁎􀁖􀀁
    Pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern
    dengan khazanah warisan Islam. Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan
    menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan
    mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya. Setelah prasyarat ini dipenuhi,
    tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang
    dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan
    nilai-nilai yang tercakup di dalamnya. Dalam deskripsi yang lebih jelas, Islamisasi Ilmu
    Pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam
    metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya,
    tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.” Terkait dengan ini setiap disiplin ilmu mesti
    dirumuskan sejak awal dengan mengkaitkan Islam sebagai kesatuan yang membentuk
    tauhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan dan kesatuan sejarah. Ia
    tujuan-tujuannya dinilai dan dipikir ulang dalam bentuk yang dikehendaki Islam Syed
    Farid Alatas.
    menerima konstruk ilmu pengetahuan modern, yang penting baginya adalah
    penguasaan terhadap prinsip-prinsip Islam yang dengannya sarjana Muslim bisa
    membaca dan menafsirkan konstruk ilmu pengetahuan modern tersebut dengan
    cara yang berbeda.
    kuat, antara lain dengan gagasan digunakannya takwil dalam kerangka Islamisasi
    Ilmu Pengetahuannya, juga lebih menekankan pada dikedepankannya genuitas
    yang digali dari tradisi lokal. Dalam pandangan Alatas, peradaban Islam klasik
    telah cukup lama berinteraksi dengan peradaban lain, sehingga umat Islam sudah
    memiliki kapasitas untuk mengembangkan bangunan ilmu pengetahuan sendiri.
    Tanpa bantuan ilmu pengetahuan Barat modern, diyakini dengan merujuk
    pada khazanahnya sendiri umat Islam akan mampu menciptakan kebangkitan
    peradaban. Sepertinya, perbedaan semacam ini, di samping faktor-faktor personal,
    yang membuat keduanya memilih mengembangkan gagasannya di lembaga yang
    berbeda. Jika Alatas kemudian berkutat di ISTAC yang berbasis di Malaysia dan
    kini diberitakan bubar, al-Faruqi menyebarkan gagasannya lewat International
    Pokok bahasan tulisan ini, lebih terfokus pada gagasan yang dikembangkan
    Ismail Raji al-Faruqi dengan para koleganya di IIIT. Model Islamisasi ala Faruqi
    dan IIIT tampaknya dapat dipandang sebagai arus dominan dalam khazanah
    Islamisasi Ilmu Pengetahuan dewasa ini, khususnya di Indonesia. Terlebih,
    model ini pulalah yang bisa dirujuk jika kita mencoba menganalisis beberapa
    implementasi praktis Islamisasi Ilmu Pengetahuan dalam bidang ekonomi, yaitu
    dalam bentuk institusi-institusi keuangan berlabel Islam, seperti Bank Islam,
    Asuransi Islam dan Pasar Modal Islam. Sedikit telaah juga akan dilakukan melalui
    institusi-institusi tersebut.
    4 Selain Alatas dan al-Faruqi, tentu ada beberapa nama lain yang bisa disebutkan,
    semisal Seyyed Hosein Nasr, yang dengan kerangka perenialisnya tentu memiliki
    gagasan berbeda untuk isu sejenis. Demikian pula dengan Timur Kuran, ekonom asal
    Turki yang juga berdiam di Amerika Serikat dan dikenal memiliki pendekatan berbeda.
    in Muslim Economic Grievances” menyatakan: “Regardless of their faith or creed,
    the world’s intellectuals can also help out by abandoning the relativist strains of modern
    much that is valuable and instructive, they are not equally successful at producing viable
    economic solutions. In particular, whatever other comforts Islamism gives its adherents,
    it is clearly an inferior instrument of economic development. In fact, some of its variants,
    including that of the Taliban, have proven to be positively harmful, even hostile, to material
    ends, and dangers where they are noticed.” .
    II. Latar Sosiologis Islamisasi Ilmu Pengetahuan
    Gagasan atau gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan merupakan salah satu
    upaya menjawab tantangan modernitas yang melanda umat Islam. Ada semacam
    guncangan di kalangan umat Islam, menyaksikan realitas yang menempatkan
    diri mereka pada sudut buram sejarah. Di balik kemegahan peradaban Barat
    yang terus melaju pasca Renaissance, sebagian besar dunia Islam secara kontras
    justru termegap-megap dalam sesuatu yang dalam visi modern disebut perangkap
    kemunduran dan keterbelakangan. Terlebih, masih segar dalam ingatan kolektif
    umat Islam bahwa beberapa abad lampau mereka pernah memegang supremasi
    peradaban dengan dominasi yang kukuh pada ranah kebudayaan, politik maupun
    ekonomi. Dengan simbol kekuasaan politik Kekhalifahan Abbassiyah di Bagdad,
    Kekhalifahan Umayyah di Cordova, mereka pernah berada pada posisi superior
    dibandingkan masyarakat Eropa yang pada masa itu justru terkungkungi masamasa
    sejarah yang gelap.
    Membaca realitas di atas, Abdul Hamid Abu Sulayman misalnya
    mengemukakan betapa krisis dengan dimensi yang kompleks memang melanda
    Umat Islam. Ia mendata beberapa isu terkait dengan krisis ini adalah kemunduran
    Umat, kelemahan Umat, stagnasi Intelektual di kalangan Umat, absennya Ijtihad
    di kalangan Umat, tiadanya kemajuan kultural di kalangan Umat, umat telah
    bergeser dan menjadi terasing dari norma-norma dasar peradaban Islam.5
    Sementara itu, Ismail Raji al Faruqi mengungkapkan apa yang dia
    namakan “malaise of the Ummah”. Dengan kegetiran ia menyatakan, tidak ada
    masyarakat lain yang tertaklukkan dan begitu dihinakan sebagaimana umat
    Islam. Kaum Muslim telah dikalahkan, dibunuh secara massal, dirampok tanah
    dan kekayaannya, juga dirampas hidup dan harapannya. Mereka terjajah dan
    terksploitasi. Bahkan juga tersekularisasi, terbaratkan dan dideislamisasi baik
    oleh agen internal maupun eksternal musuh-musuh mereka. Mereka adalah
    korban ketidakadilan dan agresi. Tak hanya itu, mereka juga dinisbati stereotypestereotype
    yang menyakitkan: agresif, destruktif, tak kenal hukum, teroris, tidak
    beradab, fanatik, fundamentalis, kolot dan ketinggalan zaman.6
    Akibat malaise di atas, umat Islam secara politik kemudian terpecah
    belah menjadi puluhan negara bangsa yang saling berbenturan. Bahkan
    5 Abdul Hamid Abu Sulayman (1998), “Islamization of Knowledge: A New
    Approach Toward Reform of Contemporary Knowledge”, dalam Islam: Source and
    Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International Institute of Islamic
    􀉨􀁐􀁖􀁈􀁉􀁕􀀍􀀁 􀁑􀀏􀀁 􀀚􀀔􀀏􀀁􀀁 􀀥􀁂􀁍􀁂􀁎􀀁 􀁃􀁖􀁌􀁖􀁏􀁚􀁂􀀁 Crisis in the Muslim Mind, Abu Sulayman juga
    menyatakan hal senada, “􀀯􀁐􀀁􀁐􀁏􀁆􀀁􀁔􀁕􀁖􀁅􀁚􀁊􀁏􀁈􀀁􀁕􀁉􀁆􀀁􀁖􀁎􀁎􀁂􀁉􀀁􀁘􀁊􀁍􀁍􀀁􀁉􀁂􀁗􀁆􀀁􀁅􀁊􀄆􀁄􀁖􀁍􀁕􀁚􀀁􀁊􀁏􀀁􀁅􀁊􀁔􀁄􀁆􀁓􀁏􀁊􀁏􀁈􀀁
    􀁕􀁉􀁆􀀁􀁑􀁓􀁆􀁔􀁆􀁏􀁕􀀁􀁃􀁂􀁄􀁌􀁘􀁂􀁓􀁅􀁏􀁆􀁔􀁔􀀁􀁐􀁇􀀁􀁊􀁕􀁔􀀁􀁄􀁖􀁍􀁕􀁖􀁓􀁆􀀍􀀁􀁊􀁕􀁔􀀁􀁑􀁐􀁍􀁊􀁕􀁊􀁄􀁂􀁍􀀁􀁅􀁆􀁈􀁓􀁆􀁅􀁂􀁕􀁊􀁐􀁏􀀍􀀁􀁂􀁏􀁅􀀁􀁊􀁕􀁔􀀁􀁉􀁖􀁎􀁂􀁏􀀁􀁔􀁖􀄅􀁆􀁓􀁊􀁏􀁈􀀍􀀁
    regardless of its human and material resources and inspite of its value and principles.” Lihat
    Abdul Hamid Abu Sulayman (1993), Crisis in the Muslim Mind, (Herndon, VA: IIIT,
    1993), p. 1.
    6 Ismail Raji al Faruqi, Islamization…. . p. 18.
    81
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    secara internal, di setiap negara tersebut dipecah belah lagi menjadi berbagai
    kelompok, kelompok-kelompok tertentu diarahkan oleh kaum kolonialis
    untuk menghegemoni kelompok llainnya. Lebih tragis, kaum kolonialis juga
    menanamkan pemerintah yang “asing” ke dalam tubuh umat Islam sehingga
    energi mereka teralihkan dari upaya rekonstruksi. Sebaliknya mereka diarahkan
    pada pergolakan yang sia-sia.7
    Secara ekonomi, umat Islam juga terjebak dalam keterbelakangan sebagai
    negara yang belum berkembang. Sejumlah besar penduduk di negeri-negeri
    Muslim berada dalam keadaan buta huruf. Produksi barang dan jasa mereka
    tak mencukupi, karenanya mereka mesti mengimpor barang jadi dari negaranegara
    yang dulu menjadi kelompok kolonialis. Demikian pula, sekalipun
    banyak di antara negeri-negeri Muslim yang dikarunia kekayaan sumber daya
    alam, kekayaan tersebut tak bisa dimanfaatkan untuk membangun kemampuan
    potensia mereka.8
    Sementara pada ranah budaya dan agama, beragam persoalan muncul
    sebagai akibat kebodohan dan keterbelakangan umat Islam. Rata-rata umat
    Islam menjerumuskan diri mereka pada ketenangan iman yang buta. Mereka
    memilih terperangkap pada literalisme dan legalisme, atau menundukkan jiwa
    mereka kepada syaikh mereka. Umat Islam juga kemudian menjadi terasing
    dari warisan sejarahnya, terutama ketika sistem pendidikan modern yang
    sekuler mulai diberlakukan di banyak negeri Muslim. Pembaratan benar-benar
    merajalela. Moral kaum Muslimin termasuk kalangan wanitanya memasuki
    tahap degradasi.9
    􀀣􀁆􀁓􀁂􀁏􀁈􀁌􀁂􀁕􀀁􀁅􀁂􀁓􀁊􀀁􀁌􀁆􀁔􀁂􀁅􀁂􀁓􀁂􀁏􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁊􀁅􀁆􀁏􀁕􀁊􀁭􀁌􀁂􀁔􀁊􀀁􀁕􀁆􀁓􀁉􀁂􀁅􀁂􀁑􀀁􀁃􀁆􀁓􀁂􀁈􀁂􀁎􀀁􀁑􀁆􀁓􀁔􀁐􀁂􀁍􀁂􀁏􀀁􀁅􀁊􀀁􀁂􀁕􀁂􀁔􀀍􀀁
    sarjana Muslim seperti al Faruqi dan Abdul Hamid Abu Sulayman mengajukan
    tesis, bahwa persoalan mendasarnya terletak pada krisis pemikiran yang
    menjangkiti kaum Muslimin. Dalam pandangan al Faruqi, krisis multidimensi
    yang melanda umat Islam, bisa dirujukkan pada sistem pendidikan sekuler yang
    diadopsi oleh berbagai negeri Muslim, akibatnya sekularisasi dan westernisasi
    merebak dengan cepat di kalangan umat Islam, lebih lanjutnya, fenomena
    de-Islamisasi terkikisnya nilai-nilai Islam dari kalangan Muslim – menjadi tak
    terelakkan. Persoalan kedua, umat Islam pun pada akhirnya kehilangan visi masa
    depan yang selaras dengan norma-norma agama mereka.
    Sementara menurut analisis Abu Sulayman, krisis umat Islam berawal saat
    perimbangan kekuatan bergeser ke Barat, mereka tak bisa menunjukkan semangat
    berkorban dan keihklasan yang akan membuat mereka sanggup mempertahankan
    bukan hanya tanah melainkan juga nilai-nilai yang mereka anut. Hilangnya
    kepercayaan kepada nilai-nilai moral dan spiritual mereka sendiri, membuat
    upaya melawan agresi Barat hanya berujung pada pertumpahan darah, kekacauan
    7 Ibid, p. 19.
    8 Ibid, p. 20.
    9 Ibid, p. 21-22.
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    82
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    ekonomi dan kemerosotan di segenap sisi kehidupan.10
    Umat Islam menurut Abu Sulayman seiring dengan perjalanan waktu, mulai
    mengalami kemerosotan pengetahuan dan karakter. Hal ini kemudian diiringi
    dengan kemunduran pada wilayah kebudayaan dan intelektual. Kualitas dan
    nilai-nilai moral semacam kompetensi, energi, inisiatif, keseriusan, kreativitas
    dan kebijaksanaan, menghilang.11
    Mengapa semua ini terjadi? Abu Sulayman menjawab, penyebabnya
    adalah terpecahnya kepemimpinan dan munculnya krisis dalam pemikiran Islam.
    Menyangkut yang terakhir, Abu Sulayman menyebutkan bahwa masalahnya
    terletak pada ketidakmampuan para pemikir Muslim untuk memahami hakikat
    perubahan yang terkandung dalam pengetahuan, kebudayaan dan peradaban
    dunia modern. Mereka juga gagal memposisikan secara tepat kekuatan sumbersumber
    pengetahuan Islam dan belajar dari masa lalu.12
    Kiranya, pada konteks inilah gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan kemudian
    dimunculkan. Ia kurang lebih diarahkan pada pembersihan pemikiran umat Islam
    dari racun-racun modernisme dan sekularisme yang disebarkan melalui lembaga
    pendidikan ala Barat. Sebuah bangunan keilmuan yang lebih selaras dengan
    norma dasar agama dan nilai-nilai keimanan, perlu ditata setahap demi setahap
    dan dijadikan pilihan bagi para sarjana Muslim.13 Dengan demikian, diandaikan
    integritas sebagai umat akan kembali terwujud. Karakter moral dan intelektual
    yang dulu runtuh akan bangkit kembali. Pada akhirnya, umat Islampun bisa
    kembali membangun peradaban yang segemilang dan sesuperior di masa lalu.14
    10 Abdul Hamid Abu Sulayman, Islamization …. p.95.
    11 Ibid, p. 95.
    12 Ibid, p.98. Menyangkut hal ini, perlu ditegaskan bahwa Abu Sulayman meyakini
    bahwa kembali para orisinalitas Islam merupakan satu-satunya solusi. Ia menyatakan, “
    As its name indicates, this is an approach based on Islam in terms of objectives, beliefs, values,
    there is no way to motivate it if this basic truth about its personality, hidden strength, and
    motives is ignored.” Abdul Hamid Abu Sulayman, Crisis in the Muslim Mind, p. 17-18.
    13 Abu Sulayman menyatakan, “the crisis of ummah is not one of capabilities and
    principles, but rather o long-standing crisis of thought and methodology brought on by change
    in the ummah’s political foundations and the resultant distancing the intellectual leadership
    from any sort of societal responsibility.” Ibid, p. 35.
    14 Dalam pandangan M.A. Kazi misalnya, kejayaan umat Islam ini berlangsung
    pada 5 abad pertama sejarah umat Islam yang diawali peristiwa hijrah, kemudian
    hadir lagi pada abad 8 – 12. Dalam pandangan M.A. Kazi, pada masa inilah umat
    Islam mengalami kebangkitan secara fenomenal dan pencapaian luar biasa di bidang
    pemikiran. Lihat M.A. Kazi (1988), Islamization of Modern Science and Technology
    dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, (Herndon, Virginia, USA: International
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    Ketertindasan secara politik, keterbelakangan secara ekonomi, dan degradasi
    secara budaya dan agama bisa diatasi. Dalam bahasa teologis, kedudukan umat
    Islam sebagai “khoiro ummah” (ummat terbaik) dan “ummatan wasathon” (ummat
    penengah) bisa benar-benar direalisasikan di muka bumi.
    III. Kasus Islamisasi Ilmu Ekonomi di Indonesia
    Ikhtiar meng-Islam-kan ilmu pengetahuan, kiranya menjadi bagian penting
    tradisi intelektual kaum Muslim modern. Khususnya di kalangan generasi muda
    yang bersekolah dan mempelajari berbagai teori ilmu pengetahuan Barat modern
    di lembaga-lembaga pendidikan sekuler di Indonesia maupun di luar negeri.
    Seiring dengan gerakan “kembali ke Islam” yang marak di kampus-kampus
    semenjak tahun 1980-an, gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan menjadi semacam
    cermin kerinduan para intelektual dan ilmuan Muslim modern terhadap sesuatu
    yang “khas” milik mereka. Gerakan ini juga menggambarkan tekad mereka untuk
    menerapkan ajaran Islam yang diyakini kaafah, syaamil dan kaamil, sempurna
    dan mencakup segalanya. Dan tentu saja, kesadaran akan “kejayaan umat Islam
    di masa lalu” menjadi bagian inheren dari gerakan ini.
    Pada tingkat disiplin ilmu, agaknya ekonomilah15 yang paling banyak
    dijadikan lahan untuk mengujicoba model Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Tokohtokoh
    dalam bidang ekonomi, beberapa nama yang cukup populer adalah M.
    􀀢􀁎􀁊􀁏􀀁􀀢􀁛􀁊􀁛􀀍􀀁􀀮􀀏􀀁􀀴􀁚􀁂􀁭􀀈􀁊􀀁􀀢􀁏􀁕􀁐􀁏􀁊􀁐􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀀢􀁅􀁊􀁘􀁂􀁓􀁎􀁂􀁏􀀁􀀬􀁂􀁓􀁊􀁎􀀏
    Kasus Islamisasi Ilmu Pengetahuan pada disiplin ekonomi, cukup menarik
    untuk diamati. Sebab ia tak hanya berhenti pada tataran akademis dan perdebatan
    metodologis, melainkan juga masuk ke wilayah praktis. Kita tahu misalnya,
    bahwa sistem perbankan non-bunga yang dilandaskan pada konsep Ekonomi
    􀀴􀁚􀁂􀁓􀁊􀀈􀁂􀁉􀀁􀁂􀁕􀁂􀁖􀀁􀀦􀁌􀁐􀁏􀁐􀁎􀁊􀀁􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀀁􀁔􀁆􀁃􀁂􀁈􀁂􀁊􀁎􀁂􀁏􀁂􀀁􀁚􀁂􀁏􀁈􀀁􀁅􀁊􀁈􀁂􀁈􀁂􀁔􀁌􀁂􀁏􀀁􀀢􀁎􀁊􀁏􀀁􀀢􀁛􀁊􀁛􀀍􀀁􀀴􀁚􀁂􀁭􀀈􀁊􀀁
    Antonio dan Adiwarman Karim, kini secara sah diakui sebagai bagian dari sistem
    perbankan nasional Indonesia. Terkait dengan ini, ada biro khusus di Bank
    Indonesia yang menangani perbankan tanpa bunga.
    Di samping itu, marak bermunculan institusi-institusi ekonomi lain yang
    berlabelkan Islam atau Syari’ah: Asuransi Syari’ah, Multilevel Marketing (MLM)
    Syari’ah bahkan juga perusahaan percetakan dan toko swalayan Islam. Ada satu
    kesamaan mendasar dari kesemua institusi di atas. Mereka coba menerapkan
    sistem ekonomi yang diyakini sesuai dengan ajaran Islam. Tujuan mereka
    􀁅􀁊􀁏􀁚􀁂􀁕􀁂􀁌􀁂􀁏􀀁􀁕􀁂􀁌􀀁􀁉􀁂􀁏􀁚􀁂􀀁􀁖􀁏􀁕􀁖􀁌􀀁􀁎􀁆􀁓􀁂􀁊􀁉􀀁􀁌􀁆􀁖􀁏􀁕􀁖􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁭􀁏􀁂􀁏􀁔􀁊􀁂􀁍􀀍􀀁􀁎􀁆􀁍􀁂􀁊􀁏􀁌􀁂􀁏􀀁􀁋􀁖􀁈􀁂􀀁􀁖􀁏􀁕􀁖􀁌􀀁
    berdakwah dan meraih ridhlo Allah.
    Pada titik ini, kita sebetulnya bisa melihat semacam kesenjangan.
    Jika gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan pada level akademis sebagaimana
    15 Di lapangan psikologi dapat dikenal nama-nama seperti Hanna Djumhana
    Bustaman, Jamaludin Ancok maupun Zakiyah Darajat dan lain-lain.
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    84
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    dikembangkan IIIT bersifat relatif terbuka dengan memberi ruang pada berbagai
    ujicoba pemikiran atau ijtihad, pada bidang yang lebih praktis, segala sesuatunya
    dirancang sedemikian rupa seolah telah jelas sejelas-jelasnya. Menjadi bagian
    dari promosi, bahwa perbankan Islam adalah perbankan berbasis sistem bagi
    hasil, bukan perbankan berbasis bunga yang dinilai “melanggar ajaran Islam”
    yang menyebabkan pelaku maupun nasabahnya menanggung konsekuensi dosa.
    Demikian pula, produk asuransi yang sesuai dengan ajaran Islam adalah yang
    dikeluarkan perusahaan yang berlabelkan Islam. Selain itu, jatuh pada keharaman
    karena di dalamnya ada praktik garar (ketidakjelasan pengelolaan dana) dan
    semacamnya. Begitu juga, perusahaan MLM yang sesuai dengan ajaran Islam
    adalah perusahaan MLM Syari’ah. Perusahaan MLM lain yang didirikan oleh
    non-Muslim atau Muslim yang tidak menunjukkan jatidiri syari’ahnya dinyatakan
    sebagai “tidak sesuai dengan ajaran Islam”.
    Realitas pasar seperti di atas pada akhirnya menyeret Islamiasi Ilmu
    Ekonomi ke arah yang sangat pragmatis. Pendidikan Ekonomi Islam yang mulai
    diajarkan – baik lewat lembaga pendidikan spesialis Ekonomi Islam maupun
    lewat universitas “sekuler” yang membuka program pendidikan Ekonomi Islam
    – diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli di “perusahaan-perusahaan
    Islami”: perbankan, asuransi dan lainnya yang berlabel syari’ah itu. Pendekatan
    yang digunakan, bisa diduga, bukan lagi pendekatan ilmiah yang memberi
    ruang bagi penelaahan berbagai teori dan konsep secara terbuka, melainkan
    “pendekatan pasar”. Para mahasiswa dididik untuk memahami, menguasai
    dan bisa mempraktekkan ilmu Ekonomi Islam yang bentuknya dianggap telah
    jelas dan baku. Mereka tidak dididik untuk bertanya secara kritis, menggali
    sekian banyak teori secara terbuka, kemudian memutuskan teori mana yang
    akan dipegang secara praktis atau bahkan merumuskan teori baru berdasarkan
    percobaan dan penelitian empirik mereka.
    Nuansa hegemonikpun menjadi demikian jelas terlihat. Gerakan Islamisasi
    Ilmu Ekonomi, pada akhirnya diarahkan oleh kepentingan politik-ekonomi
    tertentu. Ia bergeser ke arah perjuangan politik-ekonomi sektarian; Ekonomi
    Islam dibangun dan dikembangkan demi kepentingan “umat Islam”. Bukan lagi
    murni sebagai gerakan intelektual yang memihak kepada kebenaran itu sendiri
    ataupun untuk mengabdi pada kemanusiaan secara lebih luas. Barangkali kita
    memberi permakluman dengan mengetengahkan realitas umat Islam yang terpuruk
    secara ekonomi yang karenanya membutuhkan “gerakan kebangkitan”.
    Pengembangan Ilmu Ekonomi Islam dan beragam institusi ekonomi
    Islam di atas, merupakan upaya untuk mengatasi masalah dimaksud. Tentu
    argumen seperti ini sah-sah saja. Akan tetapi perlu diingat, bahwa keterpurukan
    ekonomi maupun kemiskinan adalah persoalan kemanusiaan tanpa memandang
    agama dan ideologi; pada kasus Indonesia, ia di alami oleh warga negara Muslim
    seperti di Jakarta yang terdesak oleh konglomerasi dan praktik bisnis curang,
    maupun oleh warga negara non-Muslim di Irian Jaya yang termiskinkan oleh
    85
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    sistem eksploitatif yang tak ramah adat dan lingkungan. Sektarianisme yang
    mengatasnamakan penguatan identitas keagamaan, jelas bukan pilihan bijak.
    Terlebih, secara mendasar Islam memesankan semangat universalis, semangat
    menjadi “rahmat bagi semesta”.
    Persoalan lainnya adalah, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “umat
    Islam”? Agaknya, pada kasus ini, seringkali yang dimaksud dengan umat Islam
    adalah para pemilik modal yang membutuhkan trik-trik tertentu supaya produk
    mereka bisa laku, bisnis mereka berkembang dan akumulasi modal mereka
    semakin membukit. Lewat baju perusahaan-perusahaan Islami, sentimentalitas,
    fanatisme dan gairah keagamaan masyarakat Islam tampaknya memang cukup
    mudah untuk dimanfaatkan demi tujuan ini. Secara pedas mungkin bisa
    dikatakan, inilah “kapitalisme yang bertopengkan Islam”.
    Secara kritis, meminjam istilah Michael Foucault16, tokoh post modernisme
    asal Perancis yang mengembangkan kritik nalar politik, dari sisi-sisi tertentu,
    kasus pengembangan ekonomi Islam di Indonesia dapat dibaca sebagai fenomena
    penggunaan kekuasaan dalam membangun pengetahuan, untuk kepentingan
    kekuasaan tersebut. Sekelompok orang yang mengatasnamakan umat Islam,
    menempatkan diri sebagai rezim-rezim produksi kebenaran, menuju docility/
    utility (penundukan/ pemanfaatan) masyarakat lain. Baik karena motif
    egoisme murni demi akumulasi kekayaan, maupun karena kesadaran untuk
    memperjuangkan dominasi umat Islam atas umat lainnya.
    IV. Menilai Peradaban dan Ilmu Pengetahuan Barat
    Peradaban dan ilmu pengetahuan Barat modern, di satu sisi, semestinya
    tidak dianggap sebagai sesuatu yang “khas” dan “orisinal” Barat, mengiringi
    keberhasilan Renaissance di Perancis dan Revolusi Industri di Inggris. Sebaliknya,
    pandangan yang jernih akan menyatakan, ia adalah sejenis percampuran aneka
    warisan sejarah. Di dalamnya ada kontribusi kebudayaan Yunani, baik dalam
    Juga ada pengaruh Kristen, dalam bentuknya yang paling spiritualis ala gnostisisme
    Katholik hingga etika Protestan ala Calvinis – Max Weber menyebutnya sebagai
    85
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    16 Michel Foucault adalah seorang pemikir besar Perancis abad ke-20, lahir di
    Direktur Departemen Filsafat di University of Clermont-Ferrand dan University of
    Vincennes (1960). Ia juga pernah menjadi professor bidang Sejarah Sistem Pemikiran di
    College de France. Juga pernah mengajar selama bertahun-tahun di negara Arab Maghrib
    terutama Tunisia). Pada 25 Juni 1984, Ia meninggal dunia di Paris. Peter Beilharz
    2002), Teori-Teori Sosial Observasi Kritis Terhadap Para Filosuf Terkemuka terjemahan
    Sigit Jatmiko dari judul asli( Yogyakarta:
    Pustaka Pelajar ), p.127-136.
    akar kapitalisme, dan kapitalisme inilah yang menggiring peradaban Barat pada
    keberlimpahan materi. Dan tak layak dilupakan, kontribusi peradaban Islam
    yang menjadi jembatan antara peradaban Barat modern dengan khazanah Yunani,
    􀁌􀁉􀁖􀁔􀁖􀁔􀁏􀁚􀁂􀀁􀁍􀁆􀁘􀁂􀁕􀀁􀁑􀁊􀁌􀁊􀁓􀁂􀁏􀀎􀁑􀁊􀁌􀁊􀁓􀁂􀁏􀀁􀁑􀁂􀁓􀁂􀀁􀁭􀁍􀁐􀁔􀁐􀁇􀀁􀁔􀁆􀁎􀁂􀁄􀁂􀁎􀀁􀀪􀁃􀁏􀁖􀀁􀀳􀁖􀁔􀁚􀁅􀀏􀀁􀀁􀀮􀁆􀁎􀁊􀁏􀁋􀁂􀁎􀀁
    istilah Goenawan Muhammad, peradaban Barat – sebagaimana juga peradaban
    Islam – lebih tepat disebut sebagai “sebuah agregat besar”.
    Di sisi lain, perlu juga ditegaskan bahwa peradaban Barat bukanlah sesuatu
    yang telah selesai dalam keseragaman ataupun berakhir dalam wujud yang jelassejelasnya.
    Sebaliknya, peradaban Barat adalah wilayah dimana dialektika terus
    berlangsung. Ia adalah tempat dimana pergulatan antar berbagai pemikiran tak
    henti berkecamuk. Sepanjang sejarahnya, dua hal berlawanan senantiasa saling
    􀁎􀁆􀁏􀁈􀁈􀁖􀁈􀁂􀁕􀀛􀀁􀀭􀁐􀁈􀁐􀁔􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀀮􀁊􀁕􀁐􀁔􀀍􀀁􀁂􀁈􀁂􀁎􀁂􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁭􀁍􀁔􀁂􀁇􀁂􀁕􀀍􀀁􀁓􀁂􀁔􀁊􀁐􀁏􀁂􀁍􀁊􀁔􀁎􀁆􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁆􀁎􀁑􀁊􀁓􀁊􀁔􀁊􀁔􀁎􀁆􀀍􀀁
    idealisme dan materialisme, obyektivisme dan subyektivisme, bahkan juga
    fundamentalisme dan perenialisme.
    Pada titik-titik tertentu, peradaban Barat memang cukup sering terseret ke
    lorong sejarah yang penuh tragedi. Ketika agama dan gereja demikian berkuasa
    – di suatu masa yang dikenal sebagai “the middle dark age”, akal budi manusia
    tak henti dinistakan. Atas nama Tuhan, sesuatu yang berbeda disingkirkan dan
    dihabisi: agama dan pemeluk agama lain, maupun ilmu pengetahuan dan ilmuan
    yang “membangkang”. Inkuisisi dan ekskomunikasi menjadi kata kunci yang
    merindingkan bulu kuduk. Demikian pula, ketika peradaban Barat memasuki
    tahapan modern; suatu fase dimana ia begitu superior dibandingkan peradaban
    manapun. Apa yang dulu dicengkeram agama kini justru teramat berkuasa:
    logos, rasionalitas, ilmu pengetahuan, sains. Maka agamapun dicerca, spiritualitas
    dilecehkan, etika dan estetika – seperti disebutkan Richard I. Bernstein17 dianggap
    􀁔􀁆􀁌􀁂􀁅􀁂􀁓􀀁􀁊􀁍􀁖􀁔􀁊􀀍􀀁􀁭􀁌􀁔􀁊􀀍􀀁􀁑􀁓􀁂􀁔􀁂􀁏􀁈􀁌􀁂􀀍􀀁􀁇􀁂􀁏􀁕􀁂􀁔􀁊􀀍􀀁􀁊􀁎􀁂􀁋􀁊􀁏􀁂􀁔􀁊􀀍􀀁􀁔􀁖􀁑􀁆􀁓􀁔􀁕􀁊􀁔􀁊􀀁􀁯􀀁􀁅􀁆􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁌􀁂􀁕􀁂􀀁􀁍􀁂􀁊􀁏􀀍􀀁
    bukan kebenaran.
    Ketika proyek Pencerahan mulai digulirkan dengan sains (baca: ilmu
    pengetahuan modern) sebagai tulang punggung, ada banyak janji seperti
    dituliskan Marquis de Condorcet dalam karyanya yang dianggap sebagai manifesto
    “janji-janji Pencerahan Perancis, bahwa penyebaran kekuatan-kekuatan dalam
    masyarakat akan membawa kemajuan yang tidak sekadar berupa pertumbuhan
    ekonomi dan pembangunan material, namun terwujudnya tujuan sejarah,
    yakni kesempurnaan tak terbatas umat manusia yang juga bersifat etis. Lebih
    jauh, di masa depan rasio yang berwujud dalam sains akan menghancurkan
    ketimpangan-ketimpangan kultural, politis, dan ekonomis di antara berbagai
    bangsa, menyempurnakan kemampuan manusia, mewujudkan kebahagiaan
    pribadi dan kesejahteraan umum, menyingkirkan diskriminasi seksual, dan
    menghapus perang dari muka bumi.18
    17 F. Budi Hardiman (1994), “Ilmu-ilmu Sosial dalam Diskursus Modernisme dan
    Pasca-Modernisme”, dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an No. 1 Vol. 5,
    Jakarta: LSAF, Tahun 1994
    18 Ibid.
    87
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    Pada kenyataannya, di balik kemegahan material yang memang berhasil
    diwujudkan proyek rasionalisme, ada sederet cerita kelabu. Mulai dari fasisme
    di Italia, barbarisme Nazi dengan proyek Holocaust-nya, tirani Leninisme yang
    menyengsarakan jutaan rakyat Rusia dan negeri-negeri satelitnya, pemboman di
    Nagasaki dan Hiroshima, hingga yang mutakhir: perang babak I Irak-Amerika
    Serikat dan sekutunya, pembersihan etnis di Bosnia dan perang babak II Irak-
    Amerika Serikat dan sekutunya. Belum lagi menghitung rangkaian krisis spiritual
    dan kehampaan makna hidup, yang pada titik ekstrim memicu kemunculan
    sekte-sekte yang terkenal dengan bunuh diri massalnya semacam kelompok David
    Koresh. Bahkan ketika ideologi yang sama-sama lahir dari proyek rasionalisme
    -kapitalisme di satu pihak dan komunisme di seberangnya – coba dipindahkan
    ke wilayah dan ruang peradaban lain, berbagai kejadian tragis juga terjadi. Di
    Kamboja, dimana komunisme sempat merajalela, sepertiga penduduk negeri
    itu tewas terbantai. Di Brazil, sebagaimana digambarkan Peter L. Berger lewat
    Piramida Kemiskinannya, sekian banyak orang terperangkap dalam kemiskinan
    kronis akibat ujicoba kapitalisme oleh rejim lokal dukungan negara-negara Barat.
    Di Cina yang mengujicoba komunisme, jutaan orang tewas oleh teror. Tak
    luput, di negeri-negeri Islam dimana proyek rasionalisme juga coba diterapkan,
    muncul beragam masalah. Di satu sisi, negeri-negeri itu tak kunjung modern
    sebagaimana negeri-negeri Barat. Alam merekapun malah mengalami kerusakan
    parah yang mengancam keberlangsungan hidup generasi selanjutnya. Sementara
    di sisi lain, kebanyakan anggota masyarakat yang seolah mengalami keterasingan
    dan ketercerabutan dari akar kebudayaannya. Sesuatu yang kemudian memicu
    􀁌􀁐􀁏􀁮􀁊􀁌􀀁􀁃􀁆􀁓􀁌􀁆􀁑􀁂􀁏􀁋􀁂􀁏􀁈􀁂􀁏􀀍􀀁􀁂􀁏􀁕􀁂􀁓􀁂􀀁􀁑􀁆􀁏􀁅􀁖􀁌􀁖􀁏􀁈􀀁􀁓􀁂􀁔􀁊􀁐􀁏􀁂􀁍􀁊􀁔􀁎􀁆􀀁􀁎􀁐􀁅􀁆􀁓􀁏􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁑􀁆􀁏􀁅􀁖􀁌􀁖􀁏􀁈􀀁
    gerakan kembali pada identitas lama, yaitu identitas Islam.
    Jelas, ilmu pengetahuan Barat, atau sains modern yang berbasis
    rasionalisme yang seringkali mengobsesikan kemutlakan, keserbamencakupan
    dan keuniversalan, patut untuk dipermasalahkan. Artinya, pada titik ini, kritik
    para penggagas Islamisasi Ilmu Pengetahuan memiliki kebenaran. Namun,
    sebagaimana disebut dimuka, peradaban Barat adalah sebuah ruang dimana
    dialektika pemikiran tak pernah berkesudahan. Ia memiliki mekanisme kritik
    diri. Selalu ada upaya memperbaharui dan menyempurnakan apa yang dianggap
    cacat. Maka pada titik ini, para penggagas Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang
    merekomendasikan semacam pemisahan antara yang Islam dan Bukan Islam,
    jelas keliru. Mereka, dengan begitu, mendindingi masyarakat Muslim dari
    kearifan dan sekian nilai positif peradaban dan ilmu pengetahuan Barat yang
    muncul dari mekanisme kritik dan dialektika penyempurnaan diri. Padahal,
    􀁔􀁊􀁌􀁂􀁑􀀁􀁔􀁆􀁑􀁆􀁓􀁕􀁊􀀁􀁊􀁏􀁊􀀁􀁋􀁆􀁍􀁂􀁔􀀁􀁃􀁆􀁓􀁕􀁆􀁏􀁕􀁂􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁅􀁆􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁆􀁕􀁐􀁔􀀁􀁑􀁂􀁓􀁂􀀁􀁭􀁍􀁐􀁔􀁐􀁇􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁊􀁍􀁎􀁖􀁂􀁏􀀁􀀮􀁖􀁔􀁍􀁊􀁎􀀁
    klasik yang konsisten membuka diri, dengan penuh hormat pada kebenaran dari
    manapun datangnya.
    Sebagai misal, dalam diskursus intelektual Barat muncul gerakan postmodernisme
    yang mencoba mempertanyakan dan menggugat rasionalisme dan
    modernisme dalam segala seginya, sebagaimana dirintis Friederich Nietzsche
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    88
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    dan kemudian dilanjutkan oleh intelektual semacam Jacques Derrida, Michael
    􀀧􀁐􀁖􀁄􀁂􀁖􀁍􀁕􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁍􀁂􀁊􀁏􀁏􀁚􀁂􀀏􀀁􀀁􀀬􀁊􀁕􀁂􀀁􀁎􀁊􀁔􀁂􀁍􀁏􀁚􀁂􀀁􀁋􀁖􀁈􀁂􀀁􀁎􀁆􀁍􀁊􀁉􀁂􀁕􀀁􀁊􀁅􀁆􀁏􀁕􀁊􀁭􀁌􀁂􀁔􀁊􀀁􀀧􀀏􀀁􀀣􀁖􀁅􀁊􀀁􀀩􀁂􀁓􀁅􀁊􀁎􀁂􀁏􀀁
    mengenai beberapa arus pemikiran dalam ilmu-ilmu sosial yang mencoba
    memperbaiki cacat-cacat modernisme dengan proyek rasionalismenya. Arusarus
    pemikiran tersebut, di antaranya adalah Teori Tindakan yang digagaskan
    Weber. Melalui teori ini, sekalipun Weber tak berhasil menghindar sepenuhnya
    dari tendensi saintisme, ia bisa menghadirkan ruang bagi ekspresi fenomenal dari
    makna-makna, semacam “keselamatan abadi”, “kebaikan hati” dan “kerendahan
    hati”. Artinya, subyektivisme kembali mendapatkan ruang. Kemudian, ada pula
    Teori Fenomenologi yang digagaskan tokoh semacam Husserl dan Alfred Schutz.
    Teori ini menolak obyektivisme saintisme, yang salah satu implementasinya
    adalah sikap natural yang naif. Sebaliknya, teori ini menegaskan bahwa model
    pengembalian obyektivitas pada dunia penghayatan langsung para pelaku sosial.
    􀀴􀁊􀁏􀁈􀁌􀁂􀁕􀀁􀁌􀁂􀁕􀁂􀀍􀀁􀁍􀁆􀁘􀁂􀁕􀀁􀁇􀁆􀁏􀁐􀁎􀁆􀁏􀁐􀁍􀁐􀁈􀁊􀀁􀁑􀁆􀁓􀁔􀁐􀁂􀁍􀁂􀁏􀀁􀁎􀁂􀁌􀁏􀁂􀀍􀀁􀁔􀁖􀁃􀁚􀁆􀁌􀁕􀁊􀁗􀁊􀁔􀁎􀁆􀀍􀀁􀁓􀁆􀁮􀁆􀁌􀁔􀁊􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁
    self-questioning mendapat tempat dalam tradisi ilmiah. Teori-teori lainnya adalah
    Teori Kritis yang dipelopori Jurgen Habermas dengan Mazhab Frankfurt-nya,
    juga oleh Antonio Gramsci yang mengurai konstruk hegemoni, ataupun Michael
    Foucault yang mendeskripsikan nalar politik dan menguraikan keterkaitan antara
    power dan knowledge.19
    Sementara dalam lapangan ilmu alam, apa yang dilakukan oleh ilmuan
    􀁔􀁆􀁑􀁆􀁓􀁕􀁊􀀁􀀧􀁓􀁊􀁕􀁄􀁉􀁐􀁇􀀁􀀤􀁂􀁑􀁓􀁂􀀁􀁚􀁂􀁏􀁈􀀁􀁎􀁆􀁎􀁃􀁂􀁘􀁂􀀁􀁔􀁑􀁊􀁓􀁊􀁕􀁖􀁂􀁍􀁊􀁕􀁂􀁔􀀁􀀵􀁊􀁎􀁖􀁓􀀁􀁌􀁆􀀁􀁅􀁂􀁍􀁂􀁎􀀁􀁭􀁔􀁊􀁌􀁂􀀍􀀁􀁑􀁂􀁕􀁖􀁕􀀁
    diapresiasi. Demikian pula dengan kemunculan mazhab psikologi transpersonal
    yang diusung oleh Carl Gustav Jung. Mazhab psikologi ini, kita tahu, memberi
    tempat kepada ruh manusia yang bersifat non-material ke dalam perdebatan
    ilmiah.
    V. Seputar Alternatif
    Agaknya, kita bisa bersepakat bahwa sebagai bagian dari umat Islam, kita
    memiliki kewajiban untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di tingkat internal
    umat Islam. Sebagaimana kita sebagai bagian dari umat manusia juga memiliki
    tanggung jawab untuk turut mengatasi persoalan-persoalan peradaban, khususnya
    yang diakibatkan oleh penerapan ilmu pengetahuan Barat modern. Kita juga
    agaknya bisa sepakat, bahwa salah satu persoalan mendasar di kalangan umat
    Islam – seperti diungkapkan Abdul Hamid Abu Sulayman – adalah persoalan
    sistem berpikir. Sehingga, salah satu langkah strategis yang mesti diambil adalah
    semacam rekonstruksi pemikiran. Persoalannya adalah, pilihan apakah yang
    mesti diambil?
    Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang dikemukakan al Faruqi dan
    19 Michel Foucault (1980), Power/Knowledge:Selected Interviews and Other Writings
    1772-1977, Collin Gordon (ed.). ( New York: Pantheon Books),,p.176; Haryatmoko
    (2003), Etika Politik dan Kekuasaan (Jakarta: Penerbit Buku Kompas), p.227.
    89
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    para koleganya, sebagaimana ditelusuri di atas, banyak memiliki sisi problematik.
    Menengok pada berbagai pemikiran pokok yang sering dikemukakan, seperti
    kembali kepada Islam, Islam mencakup segalanya, Al Qur’an dan As Sunnah
    harus selalu dijadikan rujukan dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan, tak
    ada pertentangan antara akal dan wahyu, nalar epistemologis yang digunakan
    􀁑􀁂􀁓􀁂􀀁􀁑􀁆􀁏􀁈􀁖􀁔􀁖􀁏􀁈􀀁􀁊􀁅􀁆􀀁􀁊􀁏􀁊􀀁􀁯􀀁􀁎􀁆􀁎􀁊􀁏􀁋􀁂􀁎􀀁􀁌􀁍􀁂􀁔􀁊􀁭􀁌􀁂􀁔􀁊􀀁􀁚􀁂􀁏􀁈􀀁􀁅􀁊􀁃􀁖􀁂􀁕􀀁􀀮􀁖􀁉􀁂􀁎􀁎􀁂􀁅􀀁􀀢􀁃􀁊􀁅􀀁
    al Jabiri – adalah nalar bayani.20 Berdasar nalar bayani ini, pilihan metodologis
    yang diambil akan berkecenderungan serba mengedepankan teks.
    Sisi problematik tersebut muncul dari ketidakjelasan inheren yang
    terkandung dalam pikiran-pikiran pokok yang diungkapkan di atas. Misalnya,
    apakah yang dimaksud kembali kepada pada Islam? Apakah maksudnya kita
    kembali pada tradisi berpikir yang selama ini dikembangkan para pemikir Muslim
    klasik? Kalau jawabannya iya, kepada tradisi pemikir Muslim klasik yang mana
    kita mesti kembali? Demikian pula, apa yang dimaksud dengan pernyataan Islam
    mencakup segalanya dan “Al Qur’an dan As Sunnah harus selalu dijadikan rujukan
    dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan”? Apakah itu berarti teori-teori ilmu
    pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu seperti Fisika, Ekonomi dan Sosiologi
    telah dinyatakan di dalam Al Qur’an sehingga kita tinggal mengambilnya saja?
    Jika kita menjawab iya, apakah kita berarti mengatakan Al Qur’an merupakan
    Kitab Fisika, Kitab Ekonomi dan Kitab Sosiologi? Juga, apa yang dimaksud
    dengan “tidak ada pertentangan antara akal dan wahyu”? Apakah itu berarti apa
    yang dibenarkan oleh akal pasti akan dibenarkan oleh wahyu? Atau sebaliknya,
    apa yang secara tersurat dinyatakan oleh wahyu, pasti bisa dibenarkan oleh akal?
    Kalau begitu maksudnya, rasanya tidak akan mungkin ada pertentangan antara
    􀁌􀁂􀁍􀁂􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁇􀁖􀁒􀁐􀁉􀁂􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁌􀁂􀁍􀁂􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁭􀁍􀁐􀁔􀁐􀁇􀀍􀀁􀁌􀁂􀁓􀁆􀁏􀁂􀀁􀁕􀁐􀁉􀀁􀁌􀁆􀁅􀁖􀁂􀁏􀁚􀁂􀀁􀁂􀁌􀁂􀁏􀀁􀁃􀁆􀁓􀁋􀁖􀁎􀁑􀁂􀀁􀁑􀁂􀁅􀁂􀀁
    titik kebenaran yang sama. Atau justru maksud pernyataan tersebut adalah
    akal tidak boleh menyalahi apa yang tersurat dalam wahyu? Dan jika ada
    perbedaan antara produk akal manusia dengan yang tersurat dalam wahyu, maka
    sesungguhnya akal manusialah yang salah berpikir baik karena terselubungi oleh
    hawa nafsu maupun digelincirkan oleh setan?
    Problema tersebut akan menjadi semakin kompleks, ketika nalar bayani,
    pada praktiknya, tak bisa dilepaskan dari nalar politik yang mengarahkan
    masyarakat Muslim agar tunduk dan taat kepada penguasa yang merupakan
    “wakil Tuhan di muka bumi”, seotoriter dan sezalim apapun dia. Peletakan teks
    yang diasumsikan absolut dan mencakup segalanya pada posisi sentral dalam
    sistem berpikir masyarakat Muslim, pada akhirnya akan menggiring masyarakat
    Muslim pada ikatan dan batasan-batasan yang dibuat oleh teks itu, dalam setiap
    ruang kehidupannya. Sementara pada saat bersamaan, yang memiliki otoritas
    untuk membuat batasan dan ikatan itu adalah para “ulama” dan “ulul amr”;
    20 Muhammad Abid al-Jabiri (1992), Bunyah al-Aql al-Arabi: Dirasah Tahliliyah
    􀁍􀁊􀀁􀀯􀁖􀁛􀁉􀁖􀁎􀀁􀁂􀁍􀀎􀀮􀁂􀀈􀁓􀁊􀁇􀁂􀁉􀀁􀁭􀀁􀀴􀁂􀁒􀁂􀁇􀁂􀁉􀀁􀁂􀁍􀀎􀀢􀁓􀁂􀁃􀁊􀁚􀁂􀁉 ( Beirut: Markuz Dirasah al-Wihdah al-
    Arabiyah).
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    90
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    dua kelompok elit di kalangan masyarakat Muslim yang sering berkoalisi demi
    melanggengkan struktur kekuasaan.
    Oleh karena itu, Islamisasi Ilmu Pengetahuan berdasarkan nalar bayani yang
    cenderung dimaknai sebagai penaklukan “cara memproduksi dan mengembangkan
    ilmu pengetahuan” kepada teks yang otoritas penafsirannya berada di tangan
    “ulama” dan “ulul amr”, akan menggiring wilayah ilmu pengetahuan tersebut
    kepada kooptasi negara. Dan sebagaimana masa kegelapan Eropa di masa lalu,
    ketika buah pemikiran Galileo Galilei dinilai salah dan benar oleh penguasa agama
    yang mengatasnamakan Tuhan – dan bukannya oleh pengujian ilmiah yang jujur
    dan jernih – seperti itu pulalah yang membayang di depan mata kita.
    Semestinya, rekonstruksi pemikiran di kalangan masyarakat Muslim tidak
    diarahkan untuk mewujudkan umat yang superior dan dominatif secara politik
    dan ekonomi – sekalipun itu merujuk pada masa lalu yang dipandang sebagai
    “masa kejayaan dan kegemilangan Islam”. Persoalannya, logika superioritas dan
    dominasi adalah logika kekuasaan, logika politisi. Karena ketika logika seperti ini
    yang menjadi arus utama, maka sesungguhnya yang paling banyak diuntungkan
    adalah pihak-pihak yang ada di puncak kekuasaan. Yaitu para cerdik pandai yang
    lihai menyiasati jalur-jalur politik demi obsesi pribadi dan kelompok. Sementara
    mayoritas masyarakat Muslim, sekalipun mereka tidak ditindas oleh “kekuatan
    asing”, mereka akan ditindas oleh “saudara seiman yang berkuasa”.
    Sebaliknya, rekonstruksi itu mesti mengarah pada ideal-ideal Islam yang
    sejatinya bersifat universal, semisal terwujudnya keadilan, tersebarnya kedamaian
    dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia, juga terciptanya kesetaraan,
    kebersamaan, tolong menolong dan penghormatan hak asasi antar umat manusia.
    Lebih tegas, rekonstruksi pemikiran di kalangan kaum Muslimin, mesti mengarah
    pada pengembangan model berpikir yang berbasis akal sehat dan berorientasi pada
    semangat menghadirkan rahmat kepada semesta alam. Bukan model pemikiran
    yang membawa umat Islam kian eksklusif, dengan kesadaran “mesti terpisah dari
    peradaban umat manusia yang jahiliyah”, dan berbasis ketundukkan kepada “para
    ulama dan penguasa yang mengatasnamakan Tuhan”.
    Terkait dengan ide di atas, menjadi penting bagi kita – sekalipun bisa jadi
    jargonnya sama-sama kembali kepada Islam – tetapi yang kita lakukan adalah
    secara jernih dan lapang dada menggali kerak-kerak sejarah peradaban kita.
    Menggali dan menghidupkan kembali kearifan-kearifan yang pernah menjadi
    bagian dari tradisi umat Islam klasik, sekaligus membuang “kegelapan-kegelapan
    sejarah” yang merupakan sejenis “kegagalan dalam mengimplementasikan Islam
    yang ideal ke dalam titik koordinat ruang dan waktu tertentu”. Memang teramat
    􀁔􀁖􀁍􀁊􀁕􀀍􀀁􀁌􀁂􀁓􀁆􀁏􀁂􀀁􀁍􀁂􀁈􀁊􀀎􀁍􀁂􀁈􀁊􀀁􀁑􀁆􀁏􀁅􀁆􀁭􀁏􀁊􀁔􀁊􀁂􀁏􀀁􀁩􀁌􀁆􀁂􀁓􀁊􀁇􀁂􀁏􀁷􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁩􀁌􀁆􀁈􀁆􀁍􀁂􀁑􀁂􀁏􀀁􀁔􀁆􀁋􀁂􀁓􀁂􀁉􀁷􀀁􀁂􀁌􀁂􀁏􀀁􀁔􀁂􀁏􀁈􀁂􀁕􀀁
    tergantung pada subyektivitas kita. Sebab itu, kerendahan hati dan sikap terbuka
    menjadi prasyarat mutlak bagi keberhasilan upaya ini.
    Selanjutnya, perlu dikemukakan jalan lain rekonstruksi pemikiran, yang
    dibangun berdasarkan beberapa asumsi-asumsi dasar berikut:
    91
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    A. Teks (nas) itu terbatas. Ada wilayah yang tidak diatur oleh teks, dan itu
    menjadi wilayah kerja akal budi manusia. Abu Ishaq al Syathibi juga
    menyatakan bahwa agama itu adalah sebatas apa yang dikemukakan. Yang
    tidak dikemukakan, tidak bisa dimasukkan begitu saja kepada wilayah agama.
    Karena itu, wilayah ilmu pengetahuan tidak bisa dikaitkan langsung kepada
    teks. Ia mesti dimasukkan ke dalam wilayah non-agama, yang menjadi ruang
    kerja akal budi manusia.
    B. Hubungan akal dan wahyu adalah hubungan yang sinergis, saling melengkapi.
    Ada wilayah yang merupakan otoritas teks, ada pula yang merupakan otoritas
    akal.
    C. Teks pada dasarnya memiliki substansi. Substansi teks ini bisa juga disebutkan
    sebagai komitmen Tuhan bagi kemaslahatan manusia, atau nilai-nilai
    kebajikan yang universal.21
    D. Akal manusia memiliki kemampuan untuk menangkap komitmen Tuhan
    maupun nilai-nilai universal di balik teks. Akal juga memiliki kemampuan
    untuk merumuskan sistem etika berbasis substansi teks.
    E. Alam ini adalah ayat Tuhan yang lain di luar Teks Suci. Di dalamnya terbangun
    hukum kausalitas yang batas-batas dan hakikatnya hanya Tuhan yang Tahu.
    􀀬􀁆􀁕􀁊􀁅􀁂􀁌􀁕􀁆􀁓􀁃􀁂􀁕􀁂􀁔􀁂􀁏􀀁􀁊􀁏􀁊􀀁􀁑􀁂􀁅􀁂􀀁􀁅􀁂􀁔􀁂􀁓􀁏􀁚􀁂􀀁􀁎􀁆􀁓􀁆􀁮􀁆􀁌􀁔􀁊􀁌􀁂􀁏􀀁􀁌􀁆􀁕􀁂􀁌􀁕􀁆􀁓􀁋􀁂􀁏􀁈􀁌􀁂􀁖􀁂􀁏􀀁􀁘􀁖􀁋􀁖􀁅􀀁
    Tuhan oleh akal budi manusia. Apa yang berhasil dikuakkan manusia dari
    􀁂􀁍􀁂􀁎􀀁 􀁯􀀁 􀁂􀁕􀁂􀁖􀀁 􀁅􀁂􀁍􀁂􀁎􀀁 􀁃􀁂􀁉􀁂􀁔􀁂􀀁 􀁍􀁂􀁊􀁏􀀍􀀁 􀁌􀁂􀁖􀁔􀁂􀁍􀁊􀁕􀁂􀁔􀀁 􀁚􀁂􀁏􀁈􀀁 􀁕􀁆􀁓􀁊􀁅􀁆􀁏􀁕􀁊􀁭􀁌􀁂􀁔􀁊􀀁 􀁌􀁆􀁎􀁖􀁅􀁊􀁂􀁏􀀁
    disistematisasi oleh akal manusia – adalah “ilmu pengetahuan”. Batas
    wilayah kerja akal manusia adalah puncak tertinggi dari kemampuan akalnya;
    sesuatu yang hanya diketahui Tuhan sendiri. Manusia memiliki hak untuk
    mengaktualisasikan potensi akalnya sedalam dan seluas mungkin, untuk
    menguak rahasia alam sebanyak-banyaknya demi kemaslahatan manusia.
    F. Hubungan Teks dengan ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut: Teks Suci
    merupakan sumber inspirasi bagi Sistem Etika yang dirumuskan oleh akal,
    dan Sistem Etika inilah yang kemudian menjadi basis pengembangan Ilmu
    Pengetahuan, sehingga pada tingkat praktis, Ilmu Pengetahuan bisa selaras
    dengan komitmen Tuhan dan nilai-nilai kebajikan universal. Filsafat, pada
    titik ini, menjadi semacam basis metodologis. Dalam artian, model berpikir
    yang rasional mesti mewarnai proses pengembangan ilmu pengetahuan.
    G. Sistem Etika ini sangat mungkin menjadi wilayah pertemuan antar berbagai
    umat beragama dan sistem kebudayaan yang berbeda-beda. Dalam bahasa
    perenialis, inilah “wilayah esoteris yang menjadi titik temu antar agamaagama”.
    H. Ilmu Pengetahuan, dengan demikian, dikembangkan berlandaskan Sistem
    Etika ini. Umat Islam bisa mengambil ilmu pengetahuan dari mana saja,
    21 Al-Syatibi (Tanpa Tahun), 􀀢􀁍􀀎􀀮􀁖􀁘􀁂􀁇􀁂􀁒􀁂􀁕􀀁􀁭􀀁􀀶􀁔􀁖􀁍􀀁􀁂􀁍􀀎􀀴􀁚􀁂􀁓􀁊􀀈􀁂􀁉􀀁(Kairo: Maktabah
    al-Tijariyah), II: 4-5.
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    92
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    kebudayaan dan peradaban apapun, sejauh selaras dengan Sistem Etika yang
    tersebut. Pada titik ini, ilmu pengetahuan yang diproduksi umat Islampun
    menjadi sesuatu yang terbuka untuk dimanfaatkan oleh kebudayaan dan
    peradaban lain.
    Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, tawaran alternatif terhadap model
    Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang cenderung legalistik dan sektarianistik, adalah
    rekonstruksi Ilmu pengetahuan berbasis etika.22 Agak mirip dengan spiritualisasi
    ilmu pengetahuan yang kini mulai berkembang di dunia Barat, dengan tokoh
    semacam Fritchof Capra dalam Fisika dan Carl Gustav Jung dalam psikologi.
    Letak perbedaannya, sistem etika yang di kembangkan ini, mengacu pada tradisi
    intelektual Islam klasik Sekalipun hasilnya bisa sama dengan sistem etika yang
    dikembangkan para pemikir Barat, proses perumusan sistem etika tersebut
    secara historis mengikuti jalur yang khas Islam, seperti dengan memanfaatkan
    􀁕􀁓􀁂􀁅􀁊􀁔􀁊􀀁􀁕􀁂􀁇􀁔􀁊􀁓􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁖􀁔􀁉􀁖􀁍􀀁􀁭􀁒􀁉􀀏􀀁􀀁􀀵􀁆􀁏􀁕􀁖􀀁􀁔􀁂􀁋􀁂􀀍􀀁􀁑􀁆􀁓􀁍􀁖􀀁􀁅􀁊􀁕􀁆􀁈􀁂􀁔􀁌􀁂􀁏􀀁􀁃􀁂􀁉􀁘􀁂􀀍􀀁pertama, tradisi
    klasik yang diambil adalah tradisi klasik yang telah direvitalisasi. Unsur-unsur
    􀁐􀁕􀁐􀁓􀁊􀁕􀁂􀁓􀁊􀁂􀁏􀁊􀁔􀁕􀁊􀁌􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁌􀁆􀁃􀁆􀁌􀁖􀁂􀁏􀀁􀁅􀁂􀁍􀁂􀁎􀀁􀁅􀁊􀁔􀁊􀁑􀁍􀁊􀁏􀀁􀁕􀁂􀁇􀁔􀁊􀁓􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁖􀁔􀁉􀁖􀁍􀀁􀁭􀁒􀁉􀀍􀀁􀁑􀁆􀁓􀁍􀁖􀀁􀁅􀁊􀁔􀁊􀁔􀁊􀁉􀁌􀁂􀁏􀀏􀀁􀀁
    Sehingga hasilnya adalah bangunan sistem etika yang emansipatif, liberatif dan
    berorientasi pada maslahat manusia secara universal. Kedua, perlu juga diciptakan
    ruang bagi pengayaan dari kearifan yang dihadirkan tradisi dan peradaban lain,
    semacam hermeneutika.
    Dengan model tersebut, rekonstruksi ilmu pengetahuan berbasis etika
    akan menjadi sebuah kerja lintas peradaban, dengan sifat yang terbuka dan
    dialogis. Ilmu pengetahuan yang dihasilkanpun akan menjadi milik bersama
    antarperadaban, yang dapat dan bebas dimanfaatkan oleh siapa saja, demi
    kemaslahatan bersama.
    VI. Penutup
    Satu hal yang kiranya perlu tetap disadari, adalah bahwa setiap hasil
    pemikiran manusia, selalu bersifat historis: terikat dengan ruang dan waktu
    yang melingkungi sang pemikir. Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, tentulah
    memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai dengan bingkai ruang dan
    waktunya. Ia, betapapun merupakan sebuah upaya solusi terhadap berbagai
    problema keumatan yang memang nyata keberadaannya.
    Menjadi penting bagi umat Islam masa kini, pada satu sisi, mengapresiasi
    dan membuka ruang dialog bagi gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, sebagai
    suatu sumbangan sekelompok sarjana Muslim terhadap peradaban umat manusia.
    Pada sisi lain, menjaga agar gerakan tersebut berada pada bingkai kerja ilmiah,
    22 Ian G. Barbour (2002), Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, terjemahan
    E.R. Muhammad dari judul asli When Science Meets Religion, Strangers or Partners (
    Bandung: Mizan), p.82-100.
    93
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    yang ukuran kebenarannya adalah sejauh mana ia bisa konsisten terhadap premis-
    􀁑􀁓􀁆􀁎􀁊􀁔􀀁􀀁􀁅􀁂􀁔􀁂􀁓􀀁􀁚􀁂􀁏􀁈􀀁􀁅􀁊􀁃􀁂􀁏􀁈􀁖􀁏􀁏􀁚􀁂􀀏􀀁􀀁􀀫􀁖􀁈􀁂􀀁􀁔􀁆􀁋􀁂􀁖􀁉􀀁􀁎􀁂􀁏􀁂􀀁􀁊􀁂􀀁􀁃􀁊􀁔􀁂􀀁􀁎􀁆􀁏􀁈􀁂􀁕􀁂􀁔􀁊􀀁􀁗􀁆􀁓􀁊􀁭􀁌􀁂􀁔􀁊􀀁
    ilmiah dari para pengkritiknya.Tentu saja, seberapa jauh ia bisa memberi maslahat
    bagi umat manusia; setidaknya memecahkan persoalan-persoalan yang dijadikan
    isu utama. Sangat naif, jika kemudian terjadi penggeseran orientasi gerakan ini,
    dari yang sifatnya ilmiah menjadi politis dan ideologis. Sehingga gagasan tersebut
    􀁎􀁆􀁏􀁋􀁂􀁅􀁊􀀁􀁈􀁂􀁈􀁂􀁔􀁂􀁏􀀁􀁚􀁂􀁏􀁈􀀁􀁕􀁆􀁓􀁕􀁖􀁕􀁖􀁑􀀁􀁌􀁂􀁓􀁆􀁏􀁂􀀁􀁅􀁊􀁂􀁏􀁈􀁈􀁂􀁑􀀁􀁭􀁏􀁂􀁍􀀁􀁌􀁆􀁃􀁆􀁏􀁂􀁓􀁂􀁏􀁏􀁚􀁂􀀁􀁂􀁕􀁂􀁖􀀁􀁃􀁂􀁉􀁌􀁂􀁏􀀁
    diyakini tidak bisa salah karena berasal dari Tuhan Yang Maha Benar.
    DAFTAR PUSTAKA
    Alatas,Syed Farid (1994). “Agama dan Ilmu-ilmu Sosial”, dalam Jurnal Ilmu dan
    Kebudayaan Ulumul Qur’an No. 2 Vol. 5 Tahun 1994.
    Alim, R.H.A. Sahirul (1999). Menguak Keterpaduan Sains, Teknologi dan Islam.
    Yogyakarta: Titian Ilahi Press.
    Anwar, Chairil (2000). Islam dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI . Yogyakarta:
    Pustaka Pelajar.
    Barbour, Ian G. (2002). Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, terjemahan
    E.R. Muhammad dari judul asli When Science Meets Religion, Strangers or
    Partners. Bandung: Mizan.
    Beilharz, Peter (2002). Teori-Teori Sosial Observasi Kritis Terhadap Para Filosuf
    Terkemuka terjemahan Sigit Jatmiko dari judul asli Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
    Brohi,A.K. (1988).“Islamization of Knowledge: A First Step to Integrate and
    Develope the Muslim Personality and Outlook”, dalam Islam: Source and
    Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International Institute of
    Dewantoro, Setyo Hajar (2003). “Tuhan dan Agama, Diskursus Filsafat Barat”,
    Jurnal Fikih Rakyat No. 1 Vol. I, Cirebon: Fahmina Institute, tahun
    2003.
    Dewantoro, Setyo Hajar. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Suatu Tinjauan Kritis
    dikutip dari http://www.fahmina.org/telaah%20ut1.htm, accessed 6
    Februari 2007.
    Elmessiry, Abdelwahab M. (1997). “Modernity, Immanence and Deconstruction”,
    dalam Volume 14 No. 1,
    IIIT.
    Faruqi,Isma’il Raji al- (1988).“Islamization of Knowledge: Principles, and Prospective”, dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, Herndon,
    􀀷􀁊􀁓􀁈􀁊􀁏􀁊􀁂􀀍􀀁􀀶􀀴􀀢􀀛􀀁􀀪􀁏􀁕􀁆􀁓􀁏􀁂􀁕􀁊􀁐􀁏􀁂􀁍􀀁􀀪􀁏􀁔􀁕􀁊􀁕􀁖􀁕􀁆􀀁􀁐􀁇􀀁􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀁊􀁄􀀁􀉨􀁐􀁖􀁈􀁉􀁕􀀏
    Foucault, Michel (1980). Power/Knowledge:Selected Interviews and Other Writings
    1772-1977, Collin Gordon (ed.). New York: Pantheon Books.
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    94
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    Hardiman, F. Budi (1994). “Ilmu-ilmu Sosial dalam Diskursus Modernisme dan
    Pasca-Modernisme”, dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an
    No. 1 Vol. 5, Jakarta: LSAF, Tahun 1994
    Haryatmoko (2003). Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: Penerbit Buku
    Kompas.
    Jabiri, Muhammad Abid al- (1992). Bunyah al-Aql al-Arabi: Dirasah Tahliliyah
    􀁍􀁊􀀁􀀯􀁖􀁛􀁉􀁖􀁎􀀁􀁂􀁍􀀎􀀮􀁂􀀈􀁓􀁊􀁇􀁂􀁉􀀁􀁭􀀁􀀴􀁂􀁒􀁂􀁇􀁂􀁉􀀁􀁂􀁍􀀎􀀢􀁓􀁂􀁃􀁊􀁚􀁂􀁉􀀏 Beirut: Markuz Dirasah al-
    Wihdah al-Arabiyah.
    Kazi,M.A. (1988). Islamization of Modern Science and Technology dalam Islam:
    Source and Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International
    􀀪􀁏􀁔􀁕􀁊􀁕􀁖􀁕􀁆􀀁􀁐􀁇􀀁􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀁊􀁄􀀁􀉨􀁐􀁖􀁈􀁉􀁕􀀏
    Keraf, A. Sonny (1995).” Pasar Bebas, Keadilan dan Peran Pemerintah, Telaah
    atas Etika Politik Ekonomi Adam Smith”, Majalah Prisma No. 9, Jakarta:
    LP3ES, September 1995
    􀀬􀁉􀁂􀁏􀀍􀀁􀀮􀁖􀁉􀁂􀁎􀁎􀁂􀁅􀀁􀀢􀁌􀁓􀁂􀁎􀀍􀀁􀁩􀉨􀁆􀀁􀀳􀁐􀁍􀁆􀀁􀁐􀁇􀀁􀀨􀁐􀁗􀁆􀁓􀁏􀁎􀁆􀁏􀁕􀀁􀁊􀁏􀀁􀉨􀁆􀀁􀀦􀁄􀁐􀁏􀁐􀁎􀁚􀁷􀀍􀀁􀁅􀁂􀁍􀁂􀁎􀀁
    􀇲􀁆􀀁􀀢􀁎􀁆􀁓􀁊􀁄􀁂􀁏􀀁􀀫􀁐􀁖􀁓􀁏􀁂􀁍􀀁􀁐􀁇􀀁􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀁊􀁄􀀁􀀴􀁐􀁄􀁊􀁂􀁍􀀁􀀴􀁄􀁊􀁆􀁏􀁄􀁆􀁔 Volume 14 Nomor 2.
    Markam, Roekmono (1980). “Ekonomi Post Robbins”, Majalah Prisma No. 1
    Edisi Januari 1980. Jakarta: LP3ES.
    Nasr, Seyyed Hosein (1994). Menjelajah Dunia Modern Bimbingan untuk Kaum
    Muda Muslim. Bandung: Penerbit Mizan.
    Shadr, Muhammad Baqr ash- (1991). Falsafatuna., Bandung: Penerbit Mizan.
    Sulayman, Abdul Hamid Abu (1993). Crisis in the Muslim Mind, Herndon,
    VA:IIIT.
    Sulayman, Abdul Hamid Abu (1988). “Islamization of Knowledge: A New
    Approach Toward Reform of Contemporary Knowledge”, dalam Islam:
    Source and Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International
    Suseno, Franz Magnis (1999). Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke
    Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Penerbit Gramedia.
    Syatibi, Al- (tt). Kairo: Maktabah al-
    Tijariyah.
    Prospective”, dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, Herndon,
    Foucault, Michel (1980). Power/Knowledge:Selected Interviews and Other Writings
    1772-1977, Collin Gordon (ed.). New York: Pantheon Books.

  8. Posted by nandang yudi permana on Mei 23, 2010 at 2:15 pm

    nama kelompok: 1. nandang yudi permana (0702010021)
    2. nanda agung aditya (0602010004

    judul: Islamisasi Model al-Faruqi dan Penerapannya dalam Ilmu Ekonomi Islam di Indonesia
    (Suatu Kritik Epistemik)
    Oleh: Yusdani

    I. Pendahuluan
    Prestasi terbesar Barat adalah keberhasilannya dalam mengembangkan
    ilmu pengetahuan dan teknologi secara positif dapat memberikan kemudahan
    hidup bagi umat manusia dan bisa dinikmati manfaatnya oleh umat manusia
    saat ini. Namun, diakui juga bahwa dampak negatif keberhasilan iptek ini dapat
    mendatangkan malapetaka kemanusiaan terbesar seperti Perang Dunia Kedua.
    * Yusdani adalah dosen tetap FIAI Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, email:
    yusdani_msi@yahoo.com

    Karena dengan kemajuan iptek dapat dikembangkan juga senjata pemusnah berat
    dan bertolak belakang dengan rasa keadilan umat manusia jika dipergunakan
    untuk merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan semua makhluk hidup
    ciptaan Tuhan, hal ini sudah tentu bertentangan dengan nilai-nilai agama.1
    Dalam konteks ini, munculnya wacana Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang ramai
    diperbincangkan pada tahun 1970-an oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai
    disiplin ilmu, dapat dibaca sebagai sebuah kontra-hegemoni ataupun diskursus
    perlawanan.
    Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang dikemukakan oleh para sarjana
    muslim sekalipun terdapat titik-titik persamaan, juga ada garis perbedaan di antara
    mereka. Misalnya antara Alatas2 dan al-Faruqi.3 Al-Faruqi tampaknya lebih bisa
    1 Chairil Anwar (2000), Islam dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI, ( Yogyakarta:
    Pustaka Pelajar), p.1 dan 16; R.H.A. Sahirul Alim (1999), Menguak Keterpaduan Sains,
    Teknologi dan Islam (Yogyakarta: Titian Ilahi Press), p.67-68.
    2 Konsep dasar Islamisasi Ilmu Pengetahuan ala Alatas bisa dibaca misalnya dalam
    bukunya Islam & Secularism. Bagi Alatas misalnya, Islamisasi Ilmu Pengetahuan mengacu
    kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk
    kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Tercakup
    dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik,
    doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani
    sekaligus penguasaan terhadapnya. Setelah proses ini dilalui, langkah berikutnya adalah
    menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman. Sehingga dengan demikian
    akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan
    sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi,
    makna serta ungkapan sekuler Lihat: Syed Farid Alatas (1994), “Agama dan Ilmu-ilmu
    Sosial”, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an No. 2 Vol. 5 Tahun 1994.
    3 Isma’il Raji al Faruqi, “Islamization of Knowledge: Principles, and Prospective”,
    dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International
    Pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern
    dengan khazanah warisan Islam. Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan
    menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan
    mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya. Setelah prasyarat ini dipenuhi,
    tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang
    dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan
    nilai-nilai yang tercakup di dalamnya. Dalam deskripsi yang lebih jelas, Islamisasi Ilmu
    Pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam
    metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya,
    tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.” Terkait dengan ini setiap disiplin ilmu mesti
    dirumuskan sejak awal dengan mengkaitkan Islam sebagai kesatuan yang membentuk
    tauhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan dan kesatuan sejarah. Ia
    tujuan-tujuannya dinilai dan dipikir ulang dalam bentuk yang dikehendaki Islam Syed
    Farid Alatas.
    menerima konstruk ilmu pengetahuan modern, yang penting baginya adalah
    penguasaan terhadap prinsip-prinsip Islam yang dengannya sarjana Muslim bisa
    membaca dan menafsirkan konstruk ilmu pengetahuan modern tersebut dengan
    cara yang berbeda.
    kuat, antara lain dengan gagasan digunakannya takwil dalam kerangka Islamisasi
    Ilmu Pengetahuannya, juga lebih menekankan pada dikedepankannya genuitas
    yang digali dari tradisi lokal. Dalam pandangan Alatas, peradaban Islam klasik
    telah cukup lama berinteraksi dengan peradaban lain, sehingga umat Islam sudah
    memiliki kapasitas untuk mengembangkan bangunan ilmu pengetahuan sendiri.
    Tanpa bantuan ilmu pengetahuan Barat modern, diyakini dengan merujuk
    pada khazanahnya sendiri umat Islam akan mampu menciptakan kebangkitan
    peradaban. Sepertinya, perbedaan semacam ini, di samping faktor-faktor personal,
    yang membuat keduanya memilih mengembangkan gagasannya di lembaga yang
    berbeda. Jika Alatas kemudian berkutat di ISTAC yang berbasis di Malaysia dan
    kini diberitakan bubar, al-Faruqi menyebarkan gagasannya lewat International
    Pokok bahasan tulisan ini, lebih terfokus pada gagasan yang dikembangkan
    Ismail Raji al-Faruqi dengan para koleganya di IIIT. Model Islamisasi ala Faruqi
    dan IIIT tampaknya dapat dipandang sebagai arus dominan dalam khazanah
    Islamisasi Ilmu Pengetahuan dewasa ini, khususnya di Indonesia. Terlebih,
    model ini pulalah yang bisa dirujuk jika kita mencoba menganalisis beberapa
    implementasi praktis Islamisasi Ilmu Pengetahuan dalam bidang ekonomi, yaitu
    dalam bentuk institusi-institusi keuangan berlabel Islam, seperti Bank Islam,
    Asuransi Islam dan Pasar Modal Islam. Sedikit telaah juga akan dilakukan melalui
    institusi-institusi tersebut.
    4 Selain Alatas dan al-Faruqi, tentu ada beberapa nama lain yang bisa disebutkan,
    semisal Seyyed Hosein Nasr, yang dengan kerangka perenialisnya tentu memiliki
    gagasan berbeda untuk isu sejenis. Demikian pula dengan Timur Kuran, ekonom asal
    Turki yang juga berdiam di Amerika Serikat dan dikenal memiliki pendekatan berbeda.
    in Muslim Economic Grievances” menyatakan: “Regardless of their faith or creed,
    the world’s intellectuals can also help out by abandoning the relativist strains of modern
    much that is valuable and instructive, they are not equally successful at producing viable
    economic solutions. In particular, whatever other comforts Islamism gives its adherents,
    it is clearly an inferior instrument of economic development. In fact, some of its variants,
    including that of the Taliban, have proven to be positively harmful, even hostile, to material
    ends, and dangers where they are noticed.” .
    II. Latar Sosiologis Islamisasi Ilmu Pengetahuan
    Gagasan atau gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan merupakan salah satu
    upaya menjawab tantangan modernitas yang melanda umat Islam. Ada semacam
    guncangan di kalangan umat Islam, menyaksikan realitas yang menempatkan
    diri mereka pada sudut buram sejarah. Di balik kemegahan peradaban Barat
    yang terus melaju pasca Renaissance, sebagian besar dunia Islam secara kontras
    justru termegap-megap dalam sesuatu yang dalam visi modern disebut perangkap
    kemunduran dan keterbelakangan. Terlebih, masih segar dalam ingatan kolektif
    umat Islam bahwa beberapa abad lampau mereka pernah memegang supremasi
    peradaban dengan dominasi yang kukuh pada ranah kebudayaan, politik maupun
    ekonomi. Dengan simbol kekuasaan politik Kekhalifahan Abbassiyah di Bagdad,
    Kekhalifahan Umayyah di Cordova, mereka pernah berada pada posisi superior
    dibandingkan masyarakat Eropa yang pada masa itu justru terkungkungi masamasa
    sejarah yang gelap.
    Membaca realitas di atas, Abdul Hamid Abu Sulayman misalnya
    mengemukakan betapa krisis dengan dimensi yang kompleks memang melanda
    Umat Islam. Ia mendata beberapa isu terkait dengan krisis ini adalah kemunduran
    Umat, kelemahan Umat, stagnasi Intelektual di kalangan Umat, absennya Ijtihad
    di kalangan Umat, tiadanya kemajuan kultural di kalangan Umat, umat telah
    bergeser dan menjadi terasing dari norma-norma dasar peradaban Islam.5
    Sementara itu, Ismail Raji al Faruqi mengungkapkan apa yang dia
    namakan “malaise of the Ummah”. Dengan kegetiran ia menyatakan, tidak ada
    masyarakat lain yang tertaklukkan dan begitu dihinakan sebagaimana umat
    Islam. Kaum Muslim telah dikalahkan, dibunuh secara massal, dirampok tanah
    dan kekayaannya, juga dirampas hidup dan harapannya. Mereka terjajah dan
    terksploitasi. Bahkan juga tersekularisasi, terbaratkan dan dideislamisasi baik
    oleh agen internal maupun eksternal musuh-musuh mereka. Mereka adalah
    korban ketidakadilan dan agresi. Tak hanya itu, mereka juga dinisbati stereotypestereotype
    yang menyakitkan: agresif, destruktif, tak kenal hukum, teroris, tidak
    beradab, fanatik, fundamentalis, kolot dan ketinggalan zaman.6
    Akibat malaise di atas, umat Islam secara politik kemudian terpecah
    belah menjadi puluhan negara bangsa yang saling berbenturan. Bahkan
    5 Abdul Hamid Abu Sulayman (1998), “Islamization of Knowledge: A New
    Approach Toward Reform of Contemporary Knowledge”, dalam Islam: Source and
    Crisis in the Muslim Mind, Abu Sulayman juga
    regardless of its human and material resources and inspite of its value and principles.” Lihat
    Abdul Hamid Abu Sulayman (1993), Crisis in the Muslim Mind, (Herndon, VA: IIIT,
    1993), p. 1.
    6 Ismail Raji al Faruqi, Islamization…. . p. 18.
    81
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    secara internal, di setiap negara tersebut dipecah belah lagi menjadi berbagai
    kelompok, kelompok-kelompok tertentu diarahkan oleh kaum kolonialis
    untuk menghegemoni kelompok llainnya. Lebih tragis, kaum kolonialis juga
    menanamkan pemerintah yang “asing” ke dalam tubuh umat Islam sehingga
    energi mereka teralihkan dari upaya rekonstruksi. Sebaliknya mereka diarahkan
    pada pergolakan yang sia-sia.7
    Secara ekonomi, umat Islam juga terjebak dalam keterbelakangan sebagai
    negara yang belum berkembang. Sejumlah besar penduduk di negeri-negeri
    Muslim berada dalam keadaan buta huruf. Produksi barang dan jasa mereka
    tak mencukupi, karenanya mereka mesti mengimpor barang jadi dari negaranegara
    yang dulu menjadi kelompok kolonialis. Demikian pula, sekalipun
    banyak di antara negeri-negeri Muslim yang dikarunia kekayaan sumber daya
    alam, kekayaan tersebut tak bisa dimanfaatkan untuk membangun kemampuan
    potensia mereka.8
    Sementara pada ranah budaya dan agama, beragam persoalan muncul
    sebagai akibat kebodohan dan keterbelakangan umat Islam. Rata-rata umat
    Islam menjerumuskan diri mereka pada ketenangan iman yang buta. Mereka
    memilih terperangkap pada literalisme dan legalisme, atau menundukkan jiwa
    mereka kepada syaikh mereka. Umat Islam juga kemudian menjadi terasing
    dari warisan sejarahnya, terutama ketika sistem pendidikan modern yang
    sekuler mulai diberlakukan di banyak negeri Muslim. Pembaratan benar-benar
    merajalela. Moral kaum Muslimin termasuk kalangan wanitanya memasuki
    sarjana Muslim seperti al Faruqi dan Abdul Hamid Abu Sulayman mengajukan
    tesis, bahwa persoalan mendasarnya terletak pada krisis pemikiran yang
    menjangkiti kaum Muslimin. Dalam pandangan al Faruqi, krisis multidimensi
    yang melanda umat Islam, bisa dirujukkan pada sistem pendidikan sekuler yang
    diadopsi oleh berbagai negeri Muslim, akibatnya sekularisasi dan westernisasi
    merebak dengan cepat di kalangan umat Islam, lebih lanjutnya, fenomena
    de-Islamisasi terkikisnya nilai-nilai Islam dari kalangan Muslim – menjadi tak
    terelakkan. Persoalan kedua, umat Islam pun pada akhirnya kehilangan visi masa
    depan yang selaras dengan norma-norma agama mereka.
    Sementara menurut analisis Abu Sulayman, krisis umat Islam berawal saat
    perimbangan kekuatan bergeser ke Barat, mereka tak bisa menunjukkan semangat
    berkorban dan keihklasan yang akan membuat mereka sanggup mempertahankan
    bukan hanya tanah melainkan juga nilai-nilai yang mereka anut. Hilangnya
    kepercayaan kepada nilai-nilai moral dan spiritual mereka sendiri, membuat
    upaya melawan agresi Barat hanya berujung pada pertumpahan darah, kekacauan
    7 Ibid, p. 19.
    8 Ibid, p. 20.
    9 Ibid, p. 21-22.
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    82
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    ekonomi dan kemerosotan di segenap sisi kehidupan.10
    Umat Islam menurut Abu Sulayman seiring dengan perjalanan waktu, mulai
    mengalami kemerosotan pengetahuan dan karakter. Hal ini kemudian diiringi
    dengan kemunduran pada wilayah kebudayaan dan intelektual. Kualitas dan
    nilai-nilai moral semacam kompetensi, energi, inisiatif, keseriusan, kreativitas
    dan kebijaksanaan, menghilang.11
    Mengapa semua ini terjadi? Abu Sulayman menjawab, penyebabnya
    adalah terpecahnya kepemimpinan dan munculnya krisis dalam pemikiran Islam.
    Menyangkut yang terakhir, Abu Sulayman menyebutkan bahwa masalahnya
    terletak pada ketidakmampuan para pemikir Muslim untuk memahami hakikat
    perubahan yang terkandung dalam pengetahuan, kebudayaan dan peradaban
    dunia modern. Mereka juga gagal memposisikan secara tepat kekuatan sumbersumber
    pengetahuan Islam dan belajar dari masa lalu.12
    Kiranya, pada konteks inilah gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan kemudian
    dimunculkan. Ia kurang lebih diarahkan pada pembersihan pemikiran umat Islam
    dari racun-racun modernisme dan sekularisme yang disebarkan melalui lembaga
    pendidikan ala Barat. Sebuah bangunan keilmuan yang lebih selaras dengan
    norma dasar agama dan nilai-nilai keimanan, perlu ditata setahap demi setahap
    dan dijadikan pilihan bagi para sarjana Muslim.13 Dengan demikian, diandaikan
    integritas sebagai umat akan kembali terwujud. Karakter moral dan intelektual
    yang dulu runtuh akan bangkit kembali. Pada akhirnya, umat Islampun bisa
    kembali membangun peradaban yang segemilang dan sesuperior di masa lalu.14
    10 Abdul Hamid Abu Sulayman, Islamization …. p.95.
    11 Ibid, p. 95.
    12 Ibid, p.98. Menyangkut hal ini, perlu ditegaskan bahwa Abu Sulayman meyakini
    bahwa kembali para orisinalitas Islam merupakan satu-satunya solusi. Ia menyatakan, “
    As its name indicates, this is an approach based on Islam in terms of objectives, beliefs, values,
    there is no way to motivate it if this basic truth about its personality, hidden strength, and
    motives is ignored.” Abdul Hamid Abu Sulayman, Crisis in the Muslim Mind, p. 17-18.
    13 Abu Sulayman menyatakan, “the crisis of ummah is not one of capabilities and
    principles, but rather o long-standing crisis of thought and methodology brought on by change
    in the ummah’s political foundations and the resultant distancing the intellectual leadership
    from any sort of societal responsibility.” Ibid, p. 35.
    14 Dalam pandangan M.A. Kazi misalnya, kejayaan umat Islam ini berlangsung
    pada 5 abad pertama sejarah umat Islam yang diawali peristiwa hijrah, kemudian
    hadir lagi pada abad 8 – 12. Dalam pandangan M.A. Kazi, pada masa inilah umat
    Islam mengalami kebangkitan secara fenomenal dan pencapaian luar biasa di bidang
    pemikiran. Lihat M.A. Kazi (1988), Islamization of Modern Science and Technology
    dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, (Herndon, Virginia, USA: International
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    Ketertindasan secara politik, keterbelakangan secara ekonomi, dan degradasi
    secara budaya dan agama bisa diatasi. Dalam bahasa teologis, kedudukan umat
    Islam sebagai “khoiro ummah” (ummat terbaik) dan “ummatan wasathon” (ummat
    penengah) bisa benar-benar direalisasikan di muka bumi.
    III. Kasus Islamisasi Ilmu Ekonomi di Indonesia
    Ikhtiar meng-Islam-kan ilmu pengetahuan, kiranya menjadi bagian penting
    tradisi intelektual kaum Muslim modern. Khususnya di kalangan generasi muda
    yang bersekolah dan mempelajari berbagai teori ilmu pengetahuan Barat modern
    di lembaga-lembaga pendidikan sekuler di Indonesia maupun di luar negeri.
    Seiring dengan gerakan “kembali ke Islam” yang marak di kampus-kampus
    semenjak tahun 1980-an, gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan menjadi semacam
    cermin kerinduan para intelektual dan ilmuan Muslim modern terhadap sesuatu
    yang “khas” milik mereka. Gerakan ini juga menggambarkan tekad mereka untuk
    menerapkan ajaran Islam yang diyakini kaafah, syaamil dan kaamil, sempurna
    dan mencakup segalanya. Dan tentu saja, kesadaran akan “kejayaan umat Islam
    di masa lalu” menjadi bagian inheren dari gerakan ini.
    Pada tingkat disiplin ilmu, agaknya ekonomilah15 yang paling banyak
    dijadikan lahan untuk mengujicoba model Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Tokohtokoh
    dalam bidang ekonomi, beberapa nama yang cukup populer adalah M.
    Kasus Islamisasi Ilmu Pengetahuan pada disiplin ekonomi, cukup menarik
    untuk diamati. Sebab ia tak hanya berhenti pada tataran akademis dan perdebatan
    metodologis, melainkan juga masuk ke wilayah praktis. Kita tahu misalnya,
    bahwa sistem perbankan non-bunga yang dilandaskan pada konsep Ekonomi
    Antonio dan Adiwarman Karim, kini secara sah diakui sebagai bagian dari sistem
    perbankan nasional Indonesia. Terkait dengan ini, ada biro khusus di Bank
    Indonesia yang menangani perbankan tanpa bunga.
    Di samping itu, marak bermunculan institusi-institusi ekonomi lain yang
    berlabelkan Islam atau Syari’ah: Asuransi Syari’ah, Multilevel Marketing (MLM)
    Syari’ah bahkan juga perusahaan percetakan dan toko swalayan Islam. Ada satu
    kesamaan mendasar dari kesemua institusi di atas. Mereka coba menerapkan
    sistem ekonomi yang diyakini sesuai dengan ajaran Islam. Tujuan mereka
    berdakwah dan meraih ridhlo Allah.
    Pada titik ini, kita sebetulnya bisa melihat semacam kesenjangan.
    Jika gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan pada level akademis sebagaimana
    15 Di lapangan psikologi dapat dikenal nama-nama seperti Hanna Djumhana
    Bustaman, Jamaludin Ancok maupun Zakiyah Darajat dan lain-lain.
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    84
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    dikembangkan IIIT bersifat relatif terbuka dengan memberi ruang pada berbagai
    ujicoba pemikiran atau ijtihad, pada bidang yang lebih praktis, segala sesuatunya
    dirancang sedemikian rupa seolah telah jelas sejelas-jelasnya. Menjadi bagian
    dari promosi, bahwa perbankan Islam adalah perbankan berbasis sistem bagi
    hasil, bukan perbankan berbasis bunga yang dinilai “melanggar ajaran Islam”
    yang menyebabkan pelaku maupun nasabahnya menanggung konsekuensi dosa.
    Demikian pula, produk asuransi yang sesuai dengan ajaran Islam adalah yang
    dikeluarkan perusahaan yang berlabelkan Islam. Selain itu, jatuh pada keharaman
    karena di dalamnya ada praktik garar (ketidakjelasan pengelolaan dana) dan
    semacamnya. Begitu juga, perusahaan MLM yang sesuai dengan ajaran Islam
    adalah perusahaan MLM Syari’ah. Perusahaan MLM lain yang didirikan oleh
    non-Muslim atau Muslim yang tidak menunjukkan jatidiri syari’ahnya dinyatakan
    sebagai “tidak sesuai dengan ajaran Islam”.
    Realitas pasar seperti di atas pada akhirnya menyeret Islamiasi Ilmu
    Ekonomi ke arah yang sangat pragmatis. Pendidikan Ekonomi Islam yang mulai
    diajarkan – baik lewat lembaga pendidikan spesialis Ekonomi Islam maupun
    lewat universitas “sekuler” yang membuka program pendidikan Ekonomi Islam
    – diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli di “perusahaan-perusahaan
    Islami”: perbankan, asuransi dan lainnya yang berlabel syari’ah itu. Pendekatan
    yang digunakan, bisa diduga, bukan lagi pendekatan ilmiah yang memberi
    ruang bagi penelaahan berbagai teori dan konsep secara terbuka, melainkan
    “pendekatan pasar”. Para mahasiswa dididik untuk memahami, menguasai
    dan bisa mempraktekkan ilmu Ekonomi Islam yang bentuknya dianggap telah
    jelas dan baku. Mereka tidak dididik untuk bertanya secara kritis, menggali
    sekian banyak teori secara terbuka, kemudian memutuskan teori mana yang
    akan dipegang secara praktis atau bahkan merumuskan teori baru berdasarkan
    percobaan dan penelitian empirik mereka.
    Nuansa hegemonikpun menjadi demikian jelas terlihat. Gerakan Islamisasi
    Ilmu Ekonomi, pada akhirnya diarahkan oleh kepentingan politik-ekonomi
    tertentu. Ia bergeser ke arah perjuangan politik-ekonomi sektarian; Ekonomi
    Islam dibangun dan dikembangkan demi kepentingan “umat Islam”. Bukan lagi
    murni sebagai gerakan intelektual yang memihak kepada kebenaran itu sendiri
    ataupun untuk mengabdi pada kemanusiaan secara lebih luas. Barangkali kita
    memberi permakluman dengan mengetengahkan realitas umat Islam yang terpuruk
    secara ekonomi yang karenanya membutuhkan “gerakan kebangkitan”.
    Pengembangan Ilmu Ekonomi Islam dan beragam institusi ekonomi
    Islam di atas, merupakan upaya untuk mengatasi masalah dimaksud. Tentu
    argumen seperti ini sah-sah saja. Akan tetapi perlu diingat, bahwa keterpurukan
    ekonomi maupun kemiskinan adalah persoalan kemanusiaan tanpa memandang
    agama dan ideologi; pada kasus Indonesia, ia di alami oleh warga negara Muslim
    seperti di Jakarta yang terdesak oleh konglomerasi dan praktik bisnis curang,
    maupun oleh warga negara non-Muslim di Irian Jaya yang termiskinkan oleh
    85
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    sistem eksploitatif yang tak ramah adat dan lingkungan. Sektarianisme yang
    mengatasnamakan penguatan identitas keagamaan, jelas bukan pilihan bijak.
    Terlebih, secara mendasar Islam memesankan semangat universalis, semangat
    menjadi “rahmat bagi semesta”.
    Persoalan lainnya adalah, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “umat
    Islam”? Agaknya, pada kasus ini, seringkali yang dimaksud dengan umat Islam
    adalah para pemilik modal yang membutuhkan trik-trik tertentu supaya produk
    mereka bisa laku, bisnis mereka berkembang dan akumulasi modal mereka
    semakin membukit. Lewat baju perusahaan-perusahaan Islami, sentimentalitas,
    fanatisme dan gairah keagamaan masyarakat Islam tampaknya memang cukup
    mudah untuk dimanfaatkan demi tujuan ini. Secara pedas mungkin bisa
    dikatakan, inilah “kapitalisme yang bertopengkan Islam”.
    Secara kritis, meminjam istilah Michael Foucault16, tokoh post modernisme
    asal Perancis yang mengembangkan kritik nalar politik, dari sisi-sisi tertentu,
    kasus pengembangan ekonomi Islam di Indonesia dapat dibaca sebagai fenomena
    penggunaan kekuasaan dalam membangun pengetahuan, untuk kepentingan
    kekuasaan tersebut. Sekelompok orang yang mengatasnamakan umat Islam,
    menempatkan diri sebagai rezim-rezim produksi kebenaran, menuju docility/
    utility (penundukan/ pemanfaatan) masyarakat lain. Baik karena motif
    egoisme murni demi akumulasi kekayaan, maupun karena kesadaran untuk
    memperjuangkan dominasi umat Islam atas umat lainnya.
    IV. Menilai Peradaban dan Ilmu Pengetahuan Barat
    Peradaban dan ilmu pengetahuan Barat modern, di satu sisi, semestinya
    tidak dianggap sebagai sesuatu yang “khas” dan “orisinal” Barat, mengiringi
    keberhasilan Renaissance di Perancis dan Revolusi Industri di Inggris. Sebaliknya,
    pandangan yang jernih akan menyatakan, ia adalah sejenis percampuran aneka
    warisan sejarah. Di dalamnya ada kontribusi kebudayaan Yunani, baik dalam
    Juga ada pengaruh Kristen, dalam bentuknya yang paling spiritualis ala gnostisisme
    Katholik hingga etika Protestan ala Calvinis – Max Weber menyebutnya sebagai
    85
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    16 Michel Foucault adalah seorang pemikir besar Perancis abad ke-20, lahir di
    Direktur Departemen Filsafat di University of Clermont-Ferrand dan University of
    Vincennes (1960). Ia juga pernah menjadi professor bidang Sejarah Sistem Pemikiran di
    College de France. Juga pernah mengajar selama bertahun-tahun di negara Arab Maghrib
    terutama Tunisia). Pada 25 Juni 1984, Ia meninggal dunia di Paris. Peter Beilharz
    2002), Teori-Teori Sosial Observasi Kritis Terhadap Para Filosuf Terkemuka terjemahan
    Sigit Jatmiko dari judul asli( Yogyakarta:
    Pustaka Pelajar ), p.127-136.
    akar kapitalisme, dan kapitalisme inilah yang menggiring peradaban Barat pada
    keberlimpahan materi. Dan tak layak dilupakan, kontribusi peradaban Islam
    yang menjadi jembatan antara peradaban Barat modern dengan khazanah Yunani,
    􀁌􀁉􀁖􀁔􀁖􀁔􀁏􀁚􀁂􀀁􀁍􀁆􀁘􀁂􀁕􀀁􀁑􀁊􀁌􀁊􀁓􀁂􀁏􀀎􀁑􀁊􀁌􀁊􀁓􀁂􀁏􀀁􀁑􀁂􀁓􀁂􀀁􀁭􀁍􀁐􀁔􀁐􀁇􀀁􀁔􀁆􀁎􀁂􀁄􀁂􀁎􀀁􀀪􀁃􀁏􀁖􀀁􀀳􀁖􀁔􀁚􀁅􀀏􀀁􀀁􀀮􀁆􀁎􀁊􀁏􀁋􀁂􀁎􀀁
    istilah Goenawan Muhammad, peradaban Barat – sebagaimana juga peradaban
    Islam – lebih tepat disebut sebagai “sebuah agregat besar”.
    Di sisi lain, perlu juga ditegaskan bahwa peradaban Barat bukanlah sesuatu
    yang telah selesai dalam keseragaman ataupun berakhir dalam wujud yang jelassejelasnya.
    Sebaliknya, peradaban Barat adalah wilayah dimana dialektika terus
    berlangsung. Ia adalah tempat dimana pergulatan antar berbagai pemikiran tak
    henti berkecamuk. Sepanjang sejarahnya, dua hal berlawanan senantiasa saling
    idealisme dan materialisme, obyektivisme dan subyektivisme, bahkan juga
    fundamentalisme dan perenialisme.
    Pada titik-titik tertentu, peradaban Barat memang cukup sering terseret ke
    lorong sejarah yang penuh tragedi. Ketika agama dan gereja demikian berkuasa
    – di suatu masa yang dikenal sebagai “the middle dark age”, akal budi manusia
    tak henti dinistakan. Atas nama Tuhan, sesuatu yang berbeda disingkirkan dan
    dihabisi: agama dan pemeluk agama lain, maupun ilmu pengetahuan dan ilmuan
    yang “membangkang”. Inkuisisi dan ekskomunikasi menjadi kata kunci yang
    merindingkan bulu kuduk. Demikian pula, ketika peradaban Barat memasuki
    tahapan modern; suatu fase dimana ia begitu superior dibandingkan peradaban
    manapun. Apa yang dulu dicengkeram agama kini justru teramat berkuasa:
    logos, rasionalitas, ilmu pengetahuan, sains. Maka agamapun dicerca, spiritualitas
    dilecehkan, etika dan estetika – seperti disebutkan Richard I. Bernstein17 dianggap
    􀁔􀁆􀁌􀁂􀁅􀁂􀁓􀀁􀁊􀁍􀁖􀁔􀁊􀀍􀀁􀁭􀁌􀁔􀁊􀀍􀀁􀁑􀁓􀁂􀁔􀁂􀁏􀁈􀁌􀁂􀀍􀀁􀁇􀁂􀁏􀁕􀁂􀁔􀁊􀀍􀀁􀁊􀁎􀁂􀁋􀁊􀁏􀁂􀁔􀁊􀀍􀀁􀁔􀁖􀁑􀁆􀁓􀁔􀁕􀁊􀁔􀁊􀀁􀁯􀀁􀁅􀁆􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁌􀁂􀁕􀁂􀀁􀁍􀁂􀁊􀁏􀀍􀀁
    bukan kebenaran.
    Ketika proyek Pencerahan mulai digulirkan dengan sains (baca: ilmu
    pengetahuan modern) sebagai tulang punggung, ada banyak janji seperti
    dituliskan Marquis de Condorcet dalam karyanya yang dianggap sebagai manifesto
    “janji-janji Pencerahan Perancis, bahwa penyebaran kekuatan-kekuatan dalam
    masyarakat akan membawa kemajuan yang tidak sekadar berupa pertumbuhan
    ekonomi dan pembangunan material, namun terwujudnya tujuan sejarah,
    yakni kesempurnaan tak terbatas umat manusia yang juga bersifat etis. Lebih
    jauh, di masa depan rasio yang berwujud dalam sains akan menghancurkan
    ketimpangan-ketimpangan kultural, politis, dan ekonomis di antara berbagai
    bangsa, menyempurnakan kemampuan manusia, mewujudkan kebahagiaan
    pribadi dan kesejahteraan umum, menyingkirkan diskriminasi seksual, dan
    menghapus perang dari muka bumi.18
    17 F. Budi Hardiman (1994), “Ilmu-ilmu Sosial dalam Diskursus Modernisme dan
    Pasca-Modernisme”, dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an No. 1 Vol. 5,
    Jakarta: LSAF, Tahun 1994
    18 Ibid.
    87
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    Pada kenyataannya, di balik kemegahan material yang memang berhasil
    diwujudkan proyek rasionalisme, ada sederet cerita kelabu. Mulai dari fasisme
    di Italia, barbarisme Nazi dengan proyek Holocaust-nya, tirani Leninisme yang
    menyengsarakan jutaan rakyat Rusia dan negeri-negeri satelitnya, pemboman di
    Nagasaki dan Hiroshima, hingga yang mutakhir: perang babak I Irak-Amerika
    Serikat dan sekutunya, pembersihan etnis di Bosnia dan perang babak II Irak-
    Amerika Serikat dan sekutunya. Belum lagi menghitung rangkaian krisis spiritual
    dan kehampaan makna hidup, yang pada titik ekstrim memicu kemunculan
    sekte-sekte yang terkenal dengan bunuh diri massalnya semacam kelompok David
    Koresh. Bahkan ketika ideologi yang sama-sama lahir dari proyek rasionalisme
    -kapitalisme di satu pihak dan komunisme di seberangnya – coba dipindahkan
    ke wilayah dan ruang peradaban lain, berbagai kejadian tragis juga terjadi. Di
    Kamboja, dimana komunisme sempat merajalela, sepertiga penduduk negeri
    itu tewas terbantai. Di Brazil, sebagaimana digambarkan Peter L. Berger lewat
    Piramida Kemiskinannya, sekian banyak orang terperangkap dalam kemiskinan
    kronis akibat ujicoba kapitalisme oleh rejim lokal dukungan negara-negara Barat.
    Di Cina yang mengujicoba komunisme, jutaan orang tewas oleh teror. Tak
    luput, di negeri-negeri Islam dimana proyek rasionalisme juga coba diterapkan,
    muncul beragam masalah. Di satu sisi, negeri-negeri itu tak kunjung modern
    sebagaimana negeri-negeri Barat. Alam merekapun malah mengalami kerusakan
    parah yang mengancam keberlangsungan hidup generasi selanjutnya. Sementara
    di sisi lain, kebanyakan anggota masyarakat yang seolah mengalami keterasingan
    dan ketercerabutan dari akar kebudayaannya. Sesuatu yang kemudian memicu
    􀁌􀁐􀁏􀁮􀁊􀁌􀀁􀁃􀁆􀁓􀁌􀁆􀁑􀁂􀁏􀁋􀁂􀁏􀁈􀁂􀁏􀀍􀀁􀁂􀁏􀁕􀁂􀁓􀁂􀀁􀁑􀁆􀁏􀁅􀁖􀁌􀁖􀁏􀁈􀀁􀁓􀁂􀁔􀁊􀁐􀁏􀁂􀁍􀁊􀁔􀁎􀁆􀀁􀁎􀁐􀁅􀁆􀁓􀁏􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁑􀁆􀁏􀁅􀁖􀁌􀁖􀁏􀁈􀀁
    gerakan kembali pada identitas lama, yaitu identitas Islam.
    Jelas, ilmu pengetahuan Barat, atau sains modern yang berbasis
    rasionalisme yang seringkali mengobsesikan kemutlakan, keserbamencakupan
    dan keuniversalan, patut untuk dipermasalahkan. Artinya, pada titik ini, kritik
    para penggagas Islamisasi Ilmu Pengetahuan memiliki kebenaran. Namun,
    sebagaimana disebut dimuka, peradaban Barat adalah sebuah ruang dimana
    dialektika pemikiran tak pernah berkesudahan. Ia memiliki mekanisme kritik
    diri. Selalu ada upaya memperbaharui dan menyempurnakan apa yang dianggap
    cacat. Maka pada titik ini, para penggagas Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang
    merekomendasikan semacam pemisahan antara yang Islam dan Bukan Islam,
    jelas keliru. Mereka, dengan begitu, mendindingi masyarakat Muslim dari
    kearifan dan sekian nilai positif peradaban dan ilmu pengetahuan Barat yang
    muncul dari mekanisme kritik dan dialektika penyempurnaan diri. Padahal,
    􀁔􀁊􀁌􀁂􀁑􀀁􀁔􀁆􀁑􀁆􀁓􀁕􀁊􀀁􀁊􀁏􀁊􀀁􀁋􀁆􀁍􀁂􀁔􀀁􀁃􀁆􀁓􀁕􀁆􀁏􀁕􀁂􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁅􀁆􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁆􀁕􀁐􀁔􀀁􀁑􀁂􀁓􀁂􀀁􀁭􀁍􀁐􀁔􀁐􀁇􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁊􀁍􀁎􀁖􀁂􀁏􀀁􀀮􀁖􀁔􀁍􀁊􀁎􀀁
    klasik yang konsisten membuka diri, dengan penuh hormat pada kebenaran dari
    manapun datangnya.
    Sebagai misal, dalam diskursus intelektual Barat muncul gerakan postmodernisme
    yang mencoba mempertanyakan dan menggugat rasionalisme dan
    modernisme dalam segala seginya, sebagaimana dirintis Friederich Nietzsche
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    88
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    dan kemudian dilanjutkan oleh intelektual semacam Jacques Derrida, Michael
    mengenai beberapa arus pemikiran dalam ilmu-ilmu sosial yang mencoba
    memperbaiki cacat-cacat modernisme dengan proyek rasionalismenya. Arusarus
    pemikiran tersebut, di antaranya adalah Teori Tindakan yang digagaskan
    Weber. Melalui teori ini, sekalipun Weber tak berhasil menghindar sepenuhnya
    dari tendensi saintisme, ia bisa menghadirkan ruang bagi ekspresi fenomenal dari
    makna-makna, semacam “keselamatan abadi”, “kebaikan hati” dan “kerendahan
    hati”. Artinya, subyektivisme kembali mendapatkan ruang. Kemudian, ada pula
    Teori Fenomenologi yang digagaskan tokoh semacam Husserl dan Alfred Schutz.
    Teori ini menolak obyektivisme saintisme, yang salah satu implementasinya
    adalah sikap natural yang naif. Sebaliknya, teori ini menegaskan bahwa model
    pengembalian obyektivitas pada dunia penghayatan langsung para pelaku sosial.
    self-questioning mendapat tempat dalam tradisi ilmiah. Teori-teori lainnya adalah
    Teori Kritis yang dipelopori Jurgen Habermas dengan Mazhab Frankfurt-nya,
    juga oleh Antonio Gramsci yang mengurai konstruk hegemoni, ataupun Michael
    Foucault yang mendeskripsikan nalar politik dan menguraikan keterkaitan antara
    power dan knowledge.19
    Sementara dalam lapangan ilmu alam, apa yang dilakukan oleh ilmuan
    diapresiasi. Demikian pula dengan kemunculan mazhab psikologi transpersonal
    yang diusung oleh Carl Gustav Jung. Mazhab psikologi ini, kita tahu, memberi
    tempat kepada ruh manusia yang bersifat non-material ke dalam perdebatan
    ilmiah.
    V. Seputar Alternatif
    Agaknya, kita bisa bersepakat bahwa sebagai bagian dari umat Islam, kita
    memiliki kewajiban untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di tingkat internal
    umat Islam. Sebagaimana kita sebagai bagian dari umat manusia juga memiliki
    tanggung jawab untuk turut mengatasi persoalan-persoalan peradaban, khususnya
    yang diakibatkan oleh penerapan ilmu pengetahuan Barat modern. Kita juga
    agaknya bisa sepakat, bahwa salah satu persoalan mendasar di kalangan umat
    Islam – seperti diungkapkan Abdul Hamid Abu Sulayman – adalah persoalan
    sistem berpikir. Sehingga, salah satu langkah strategis yang mesti diambil adalah
    semacam rekonstruksi pemikiran. Persoalannya adalah, pilihan apakah yang
    mesti diambil?
    Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang dikemukakan al Faruqi dan
    19 Michel Foucault (1980), Power/Knowledge:Selected Interviews and Other Writings
    1772-1977, Collin Gordon (ed.). ( New York: Pantheon Books),,p.176; Haryatmoko
    (2003), Etika Politik dan Kekuasaan (Jakarta: Penerbit Buku Kompas), p.227.
    89
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    para koleganya, sebagaimana ditelusuri di atas, banyak memiliki sisi problematik.
    Menengok pada berbagai pemikiran pokok yang sering dikemukakan, seperti
    kembali kepada Islam, Islam mencakup segalanya, Al Qur’an dan As Sunnah
    harus selalu dijadikan rujukan dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan, tak
    ada pertentangan antara akal dan wahyu, nalar epistemologis yang digunakan
    al Jabiri – adalah nalar bayani.20 Berdasar nalar bayani ini, pilihan metodologis
    yang diambil akan berkecenderungan serba mengedepankan teks.
    Sisi problematik tersebut muncul dari ketidakjelasan inheren yang
    terkandung dalam pikiran-pikiran pokok yang diungkapkan di atas. Misalnya,
    apakah yang dimaksud kembali kepada pada Islam? Apakah maksudnya kita
    kembali pada tradisi berpikir yang selama ini dikembangkan para pemikir Muslim
    klasik? Kalau jawabannya iya, kepada tradisi pemikir Muslim klasik yang mana
    kita mesti kembali? Demikian pula, apa yang dimaksud dengan pernyataan Islam
    mencakup segalanya dan “Al Qur’an dan As Sunnah harus selalu dijadikan rujukan
    dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan”? Apakah itu berarti teori-teori ilmu
    pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu seperti Fisika, Ekonomi dan Sosiologi
    telah dinyatakan di dalam Al Qur’an sehingga kita tinggal mengambilnya saja?
    Jika kita menjawab iya, apakah kita berarti mengatakan Al Qur’an merupakan
    Kitab Fisika, Kitab Ekonomi dan Kitab Sosiologi? Juga, apa yang dimaksud
    dengan “tidak ada pertentangan antara akal dan wahyu”? Apakah itu berarti apa
    yang dibenarkan oleh akal pasti akan dibenarkan oleh wahyu? Atau sebaliknya,
    apa yang secara tersurat dinyatakan oleh wahyu, pasti bisa dibenarkan oleh akal?
    Kalau begitu maksudnya, rasanya tidak akan mungkin ada pertentangan antara
    􀁌􀁂􀁍􀁂􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁇􀁖􀁒􀁐􀁉􀁂􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁌􀁂􀁍􀁂􀁏􀁈􀁂􀁏􀀁􀁭􀁍􀁐􀁔􀁐􀁇􀀍􀀁􀁌􀁂􀁓􀁆􀁏􀁂􀀁􀁕􀁐􀁉􀀁􀁌􀁆􀁅􀁖􀁂􀁏􀁚􀁂􀀁􀁂􀁌􀁂􀁏􀀁􀁃􀁆􀁓􀁋􀁖􀁎􀁑􀁂􀀁􀁑􀁂􀁅􀁂􀀁
    titik kebenaran yang sama. Atau justru maksud pernyataan tersebut adalah
    akal tidak boleh menyalahi apa yang tersurat dalam wahyu? Dan jika ada
    perbedaan antara produk akal manusia dengan yang tersurat dalam wahyu, maka
    sesungguhnya akal manusialah yang salah berpikir baik karena terselubungi oleh
    hawa nafsu maupun digelincirkan oleh setan?
    Problema tersebut akan menjadi semakin kompleks, ketika nalar bayani,
    pada praktiknya, tak bisa dilepaskan dari nalar politik yang mengarahkan
    masyarakat Muslim agar tunduk dan taat kepada penguasa yang merupakan
    “wakil Tuhan di muka bumi”, seotoriter dan sezalim apapun dia. Peletakan teks
    yang diasumsikan absolut dan mencakup segalanya pada posisi sentral dalam
    sistem berpikir masyarakat Muslim, pada akhirnya akan menggiring masyarakat
    Muslim pada ikatan dan batasan-batasan yang dibuat oleh teks itu, dalam setiap
    ruang kehidupannya. Sementara pada saat bersamaan, yang memiliki otoritas
    untuk membuat batasan dan ikatan itu adalah para “ulama” dan “ulul amr”;
    20 Muhammad Abid al-Jabiri (1992), Bunyah al-Aql al-Arabi: Dirasah Tahliliyah
    ( Beirut: Markuz Dirasah al-Wihdah al-
    Arabiyah).
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    90
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    dua kelompok elit di kalangan masyarakat Muslim yang sering berkoalisi demi
    melanggengkan struktur kekuasaan.
    Oleh karena itu, Islamisasi Ilmu Pengetahuan berdasarkan nalar bayani yang
    cenderung dimaknai sebagai penaklukan “cara memproduksi dan mengembangkan
    ilmu pengetahuan” kepada teks yang otoritas penafsirannya berada di tangan
    “ulama” dan “ulul amr”, akan menggiring wilayah ilmu pengetahuan tersebut
    kepada kooptasi negara. Dan sebagaimana masa kegelapan Eropa di masa lalu,
    ketika buah pemikiran Galileo Galilei dinilai salah dan benar oleh penguasa agama
    yang mengatasnamakan Tuhan – dan bukannya oleh pengujian ilmiah yang jujur
    dan jernih – seperti itu pulalah yang membayang di depan mata kita.
    Semestinya, rekonstruksi pemikiran di kalangan masyarakat Muslim tidak
    diarahkan untuk mewujudkan umat yang superior dan dominatif secara politik
    dan ekonomi – sekalipun itu merujuk pada masa lalu yang dipandang sebagai
    “masa kejayaan dan kegemilangan Islam”. Persoalannya, logika superioritas dan
    dominasi adalah logika kekuasaan, logika politisi. Karena ketika logika seperti ini
    yang menjadi arus utama, maka sesungguhnya yang paling banyak diuntungkan
    adalah pihak-pihak yang ada di puncak kekuasaan. Yaitu para cerdik pandai yang
    lihai menyiasati jalur-jalur politik demi obsesi pribadi dan kelompok. Sementara
    mayoritas masyarakat Muslim, sekalipun mereka tidak ditindas oleh “kekuatan
    asing”, mereka akan ditindas oleh “saudara seiman yang berkuasa”.
    Sebaliknya, rekonstruksi itu mesti mengarah pada ideal-ideal Islam yang
    sejatinya bersifat universal, semisal terwujudnya keadilan, tersebarnya kedamaian
    dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia, juga terciptanya kesetaraan,
    kebersamaan, tolong menolong dan penghormatan hak asasi antar umat manusia.
    Lebih tegas, rekonstruksi pemikiran di kalangan kaum Muslimin, mesti mengarah
    pada pengembangan model berpikir yang berbasis akal sehat dan berorientasi pada
    semangat menghadirkan rahmat kepada semesta alam. Bukan model pemikiran
    yang membawa umat Islam kian eksklusif, dengan kesadaran “mesti terpisah dari
    peradaban umat manusia yang jahiliyah”, dan berbasis ketundukkan kepada “para
    ulama dan penguasa yang mengatasnamakan Tuhan”.
    Terkait dengan ide di atas, menjadi penting bagi kita – sekalipun bisa jadi
    jargonnya sama-sama kembali kepada Islam – tetapi yang kita lakukan adalah
    secara jernih dan lapang dada menggali kerak-kerak sejarah peradaban kita.
    Menggali dan menghidupkan kembali kearifan-kearifan yang pernah menjadi
    bagian dari tradisi umat Islam klasik, sekaligus membuang “kegelapan-kegelapan
    sejarah” yang merupakan sejenis “kegagalan dalam mengimplementasikan Islam
    yang ideal ke dalam titik koordinat ruang dan waktu tertentu”. Memang teramat
    􀁔􀁖􀁍􀁊􀁕􀀍􀀁􀁌􀁂􀁓􀁆􀁏􀁂􀀁􀁍􀁂􀁈􀁊􀀎􀁍􀁂􀁈􀁊􀀁􀁑􀁆􀁏􀁅􀁆􀁭􀁏􀁊􀁔􀁊􀁂􀁏􀀁􀁩􀁌􀁆􀁂􀁓􀁊􀁇􀁂􀁏􀁷􀀁􀁅􀁂􀁏􀀁􀁩􀁌􀁆􀁈􀁆􀁍􀁂􀁑􀁂􀁏􀀁􀁔􀁆􀁋􀁂􀁓􀁂􀁉􀁷􀀁􀁂􀁌􀁂􀁏􀀁􀁔􀁂􀁏􀁈􀁂􀁕􀀁
    tergantung pada subyektivitas kita. Sebab itu, kerendahan hati dan sikap terbuka
    menjadi prasyarat mutlak bagi keberhasilan upaya ini.
    Selanjutnya, perlu dikemukakan jalan lain rekonstruksi pemikiran, yang
    dibangun berdasarkan beberapa asumsi-asumsi dasar berikut:
    91
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    A. Teks (nas) itu terbatas. Ada wilayah yang tidak diatur oleh teks, dan itu
    menjadi wilayah kerja akal budi manusia. Abu Ishaq al Syathibi juga
    menyatakan bahwa agama itu adalah sebatas apa yang dikemukakan. Yang
    tidak dikemukakan, tidak bisa dimasukkan begitu saja kepada wilayah agama.
    Karena itu, wilayah ilmu pengetahuan tidak bisa dikaitkan langsung kepada
    teks. Ia mesti dimasukkan ke dalam wilayah non-agama, yang menjadi ruang
    kerja akal budi manusia.
    B. Hubungan akal dan wahyu adalah hubungan yang sinergis, saling melengkapi.
    Ada wilayah yang merupakan otoritas teks, ada pula yang merupakan otoritas
    akal.
    C. Teks pada dasarnya memiliki substansi. Substansi teks ini bisa juga disebutkan
    sebagai komitmen Tuhan bagi kemaslahatan manusia, atau nilai-nilai
    kebajikan yang universal.21
    D. Akal manusia memiliki kemampuan untuk menangkap komitmen Tuhan
    maupun nilai-nilai universal di balik teks. Akal juga memiliki kemampuan
    untuk merumuskan sistem etika berbasis substansi teks.
    E. Alam ini adalah ayat Tuhan yang lain di luar Teks Suci. Di dalamnya terbangun
    hukum kausalitas yang batas-batas dan hakikatnya hanya Tuhan yang Tahu.
    Tuhan oleh akal budi manusia. Apa yang berhasil dikuakkan manusia dari
    disistematisasi oleh akal manusia – adalah “ilmu pengetahuan”. Batas
    wilayah kerja akal manusia adalah puncak tertinggi dari kemampuan akalnya;
    sesuatu yang hanya diketahui Tuhan sendiri. Manusia memiliki hak untuk
    mengaktualisasikan potensi akalnya sedalam dan seluas mungkin, untuk
    menguak rahasia alam sebanyak-banyaknya demi kemaslahatan manusia.
    F. Hubungan Teks dengan ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut: Teks Suci
    merupakan sumber inspirasi bagi Sistem Etika yang dirumuskan oleh akal,
    dan Sistem Etika inilah yang kemudian menjadi basis pengembangan Ilmu
    Pengetahuan, sehingga pada tingkat praktis, Ilmu Pengetahuan bisa selaras
    dengan komitmen Tuhan dan nilai-nilai kebajikan universal. Filsafat, pada
    titik ini, menjadi semacam basis metodologis. Dalam artian, model berpikir
    yang rasional mesti mewarnai proses pengembangan ilmu pengetahuan.
    G. Sistem Etika ini sangat mungkin menjadi wilayah pertemuan antar berbagai
    umat beragama dan sistem kebudayaan yang berbeda-beda. Dalam bahasa
    perenialis, inilah “wilayah esoteris yang menjadi titik temu antar agamaagama”.
    H. Ilmu Pengetahuan, dengan demikian, dikembangkan berlandaskan Sistem
    Etika ini. Umat Islam bisa mengambil ilmu pengetahuan dari mana saja,
    21 Al-Syatibi (Tanpa Tahun), (Kairo: Maktabah
    al-Tijariyah), II: 4-5.
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    92
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    kebudayaan dan peradaban apapun, sejauh selaras dengan Sistem Etika yang
    tersebut. Pada titik ini, ilmu pengetahuan yang diproduksi umat Islampun
    menjadi sesuatu yang terbuka untuk dimanfaatkan oleh kebudayaan dan
    peradaban lain.
    Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, tawaran alternatif terhadap model
    Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang cenderung legalistik dan sektarianistik, adalah
    rekonstruksi Ilmu pengetahuan berbasis etika.22 Agak mirip dengan spiritualisasi
    ilmu pengetahuan yang kini mulai berkembang di dunia Barat, dengan tokoh
    semacam Fritchof Capra dalam Fisika dan Carl Gustav Jung dalam psikologi.
    Letak perbedaannya, sistem etika yang di kembangkan ini, mengacu pada tradisi
    intelektual Islam klasik Sekalipun hasilnya bisa sama dengan sistem etika yang
    dikembangkan para pemikir Barat, proses perumusan sistem etika tersebut
    secara historis mengikuti jalur yang khas Islam, seperti dengan memanfaatkan
    pertama, tradisi
    klasik yang diambil adalah tradisi klasik yang telah direvitalisasi. Unsur-unsur
    Sehingga hasilnya adalah bangunan sistem etika yang emansipatif, liberatif dan
    berorientasi pada maslahat manusia secara universal. Kedua, perlu juga diciptakan
    ruang bagi pengayaan dari kearifan yang dihadirkan tradisi dan peradaban lain,
    semacam hermeneutika.
    Dengan model tersebut, rekonstruksi ilmu pengetahuan berbasis etika
    akan menjadi sebuah kerja lintas peradaban, dengan sifat yang terbuka dan
    dialogis. Ilmu pengetahuan yang dihasilkanpun akan menjadi milik bersama
    antarperadaban, yang dapat dan bebas dimanfaatkan oleh siapa saja, demi
    kemaslahatan bersama.
    VI. Penutup
    Satu hal yang kiranya perlu tetap disadari, adalah bahwa setiap hasil
    pemikiran manusia, selalu bersifat historis: terikat dengan ruang dan waktu
    yang melingkungi sang pemikir. Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, tentulah
    memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai dengan bingkai ruang dan
    waktunya. Ia, betapapun merupakan sebuah upaya solusi terhadap berbagai
    problema keumatan yang memang nyata keberadaannya.
    Menjadi penting bagi umat Islam masa kini, pada satu sisi, mengapresiasi
    dan membuka ruang dialog bagi gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, sebagai
    suatu sumbangan sekelompok sarjana Muslim terhadap peradaban umat manusia.
    Pada sisi lain, menjaga agar gerakan tersebut berada pada bingkai kerja ilmiah,
    22 Ian G. Barbour (2002), Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, terjemahan
    E.R. Muhammad dari judul asli When Science Meets Religion, Strangers or Partners (
    Bandung: Mizan), p.82-100.
    93
    Yusdani: Islamisasi Model …
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    yang ukuran kebenarannya adalah sejauh mana ia bisa konsisten terhadap premis-
    􀁑􀁓􀁆􀁎􀁊􀁔􀀁􀀁􀁅􀁂􀁔􀁂􀁓􀀁􀁚􀁂􀁏􀁈􀀁􀁅􀁊􀁃􀁂􀁏􀁈􀁖􀁏􀁏􀁚􀁂􀀏􀀁􀀁􀀫􀁖􀁈􀁂􀀁􀁔􀁆􀁋􀁂􀁖􀁉􀀁􀁎􀁂􀁏􀁂􀀁􀁊􀁂􀀁􀁃􀁊􀁔􀁂􀀁􀁎􀁆􀁏􀁈􀁂􀁕􀁂􀁔􀁊􀀁􀁗􀁆􀁓􀁊􀁭􀁌􀁂􀁔􀁊􀀁
    ilmiah dari para pengkritiknya.Tentu saja, seberapa jauh ia bisa memberi maslahat
    bagi umat manusia; setidaknya memecahkan persoalan-persoalan yang dijadikan
    isu utama. Sangat naif, jika kemudian terjadi penggeseran orientasi gerakan ini,
    dari yang sifatnya ilmiah menjadi politis dan ideologis. Sehingga gagasan tersebut
    􀁎􀁆􀁏􀁋􀁂􀁅􀁊􀀁􀁈􀁂􀁈􀁂􀁔􀁂􀁏􀀁􀁚􀁂􀁏􀁈􀀁􀁕􀁆􀁓􀁕􀁖􀁕􀁖􀁑􀀁􀁌􀁂􀁓􀁆􀁏􀁂􀀁􀁅􀁊􀁂􀁏􀁈􀁈􀁂􀁑􀀁􀁭􀁏􀁂􀁍􀀁􀁌􀁆􀁃􀁆􀁏􀁂􀁓􀁂􀁏􀁏􀁚􀁂􀀁􀁂􀁕􀁂􀁖􀀁􀁃􀁂􀁉􀁌􀁂􀁏􀀁
    diyakini tidak bisa salah karena berasal dari Tuhan Yang Maha Benar.
    DAFTAR PUSTAKA
    Alatas,Syed Farid (1994). “Agama dan Ilmu-ilmu Sosial”, dalam Jurnal Ilmu dan
    Kebudayaan Ulumul Qur’an No. 2 Vol. 5 Tahun 1994.
    Alim, R.H.A. Sahirul (1999). Menguak Keterpaduan Sains, Teknologi dan Islam.
    Yogyakarta: Titian Ilahi Press.
    Anwar, Chairil (2000). Islam dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI . Yogyakarta:
    Pustaka Pelajar.
    Barbour, Ian G. (2002). Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, terjemahan
    E.R. Muhammad dari judul asli When Science Meets Religion, Strangers or
    Partners. Bandung: Mizan.
    Beilharz, Peter (2002). Teori-Teori Sosial Observasi Kritis Terhadap Para Filosuf
    Terkemuka terjemahan Sigit Jatmiko dari judul asli Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
    Brohi,A.K. (1988).“Islamization of Knowledge: A First Step to Integrate and
    Develope the Muslim Personality and Outlook”, dalam Islam: Source and
    Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International Institute of
    Dewantoro, Setyo Hajar (2003). “Tuhan dan Agama, Diskursus Filsafat Barat”,
    Jurnal Fikih Rakyat No. 1 Vol. I, Cirebon: Fahmina Institute, tahun
    2003.
    Dewantoro, Setyo Hajar. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Suatu Tinjauan Kritis
    dikutip dari http://www.fahmina.org/telaah%20ut1.htm, accessed 6
    Februari 2007.
    Elmessiry, Abdelwahab M. (1997). “Modernity, Immanence and Deconstruction”,
    dalam Volume 14 No. 1,
    IIIT.
    Faruqi,Isma’il Raji al- (1988).“Islamization of Knowledge: Principles, and Prospective”, dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, Herndon,
    􀀷􀁊􀁓􀁈􀁊􀁏􀁊􀁂􀀍􀀁􀀶􀀴􀀢􀀛􀀁􀀪􀁏􀁕􀁆􀁓􀁏􀁂􀁕􀁊􀁐􀁏􀁂􀁍􀀁􀀪􀁏􀁔􀁕􀁊􀁕􀁖􀁕􀁆􀀁􀁐􀁇􀀁􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀁊􀁄􀀁􀉨􀁐􀁖􀁈􀁉􀁕􀀏
    Foucault, Michel (1980). Power/Knowledge:Selected Interviews and Other Writings
    1772-1977, Collin Gordon (ed.). New York: Pantheon Books.
    JURNAL EKONOMI ISLAM
    94
    Yusdani: Islamisasi Model …
    Vol. I, No. 1, Juli 2007
    Hardiman, F. Budi (1994). “Ilmu-ilmu Sosial dalam Diskursus Modernisme dan
    Pasca-Modernisme”, dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an
    No. 1 Vol. 5, Jakarta: LSAF, Tahun 1994
    Haryatmoko (2003). Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: Penerbit Buku
    Kompas.
    Jabiri, Muhammad Abid al- (1992). Bunyah al-Aql al-Arabi: Dirasah Tahliliyah
    􀁍􀁊􀀁􀀯􀁖􀁛􀁉􀁖􀁎􀀁􀁂􀁍􀀎􀀮􀁂􀀈􀁓􀁊􀁇􀁂􀁉􀀁􀁭􀀁􀀴􀁂􀁒􀁂􀁇􀁂􀁉􀀁􀁂􀁍􀀎􀀢􀁓􀁂􀁃􀁊􀁚􀁂􀁉􀀏 Beirut: Markuz Dirasah al-
    Wihdah al-Arabiyah.
    Kazi,M.A. (1988). Islamization of Modern Science and Technology dalam Islam:
    Source and Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International
    􀀪􀁏􀁔􀁕􀁊􀁕􀁖􀁕􀁆􀀁􀁐􀁇􀀁􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀁊􀁄􀀁􀉨􀁐􀁖􀁈􀁉􀁕􀀏
    Keraf, A. Sonny (1995).” Pasar Bebas, Keadilan dan Peran Pemerintah, Telaah
    atas Etika Politik Ekonomi Adam Smith”, Majalah Prisma No. 9, Jakarta:
    LP3ES, September 1995
    􀀬􀁉􀁂􀁏􀀍􀀁􀀮􀁖􀁉􀁂􀁎􀁎􀁂􀁅􀀁􀀢􀁌􀁓􀁂􀁎􀀍􀀁􀁩􀉨􀁆􀀁􀀳􀁐􀁍􀁆􀀁􀁐􀁇􀀁􀀨􀁐􀁗􀁆􀁓􀁏􀁎􀁆􀁏􀁕􀀁􀁊􀁏􀀁􀉨􀁆􀀁􀀦􀁄􀁐􀁏􀁐􀁎􀁚􀁷􀀍􀀁􀁅􀁂􀁍􀁂􀁎􀀁
    􀇲􀁆􀀁􀀢􀁎􀁆􀁓􀁊􀁄􀁂􀁏􀀁􀀫􀁐􀁖􀁓􀁏􀁂􀁍􀀁􀁐􀁇􀀁􀀪􀁔􀁍􀁂􀁎􀁊􀁄􀀁􀀴􀁐􀁄􀁊􀁂􀁍􀀁􀀴􀁄􀁊􀁆􀁏􀁄􀁆􀁔 Volume 14 Nomor 2.
    Markam, Roekmono (1980). “Ekonomi Post Robbins”, Majalah Prisma No. 1
    Edisi Januari 1980. Jakarta: LP3ES.
    Nasr, Seyyed Hosein (1994). Menjelajah Dunia Modern Bimbingan untuk Kaum
    Muda Muslim. Bandung: Penerbit Mizan.
    Shadr, Muhammad Baqr ash- (1991). Falsafatuna., Bandung: Penerbit Mizan.
    Sulayman, Abdul Hamid Abu (1993). Crisis in the Muslim Mind, Herndon,
    VA:IIIT.
    Sulayman, Abdul Hamid Abu (1988). “Islamization of Knowledge: A New
    Approach Toward Reform of Contemporary Knowledge”, dalam Islam:
    Source and Purpose of Knowledge, Herndon, Virginia, USA: International
    Suseno, Franz Magnis (1999). Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke
    Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Penerbit Gramedia.
    Syatibi, Al- (tt). Kairo: Maktabah al-
    Tijariyah.
    Prospective”, dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, Herndon,
    Foucault, Michel (1980). Power/Knowledge:Selected Interviews and Other Writings
    1772-1977, Collin Gordon (ed.). New York: Pantheon Books.

  9. Posted by jamaludin on Juni 7, 2010 at 4:27 am

    JUDUL: Islamisasi Model al-Faruqi
    dan Penerapannya dalam
    Ilmu Ekonomi Islam di Indonesia
    jamaludin :0702010030
    M. kharir F. : 0802010003

    (Suatu Kritik Epistemik)
    Oleh: Yusdani\
    Sampel : Asuransi Syari’ah, Multilevel Marketing (MLM)
    Syari’ah
    Populasi : 3 kelompok
    Metode : survey
    Hasil: etika syariah yang benar-benar diaplikasikan pada lembaga syariah
    Kesimpulan : ekonomi syariah menjadi solusi akan sistem ekonomi yang konfensional dan bisa merugikan. Penerapan sistem yang benar akan membantu kemajuan ekonomi dan akhlak negara.

  10. Posted by nuzuliatuz z. on Juni 7, 2010 at 10:01 am

    JUDUL:Peluang dan Kendala Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia
    nama kel:NUZULIATUZ ZAHRO (0702010040) & EKA MARYANI (0702010020)
    Penulis: Drs.Ec.H. Tjuk K Sukiadi
    1.kendala perbankan syariah
    a.permodalan
    b.peraturan bank
    c.sumber daya manusia
    d.pemahaman umat
    e.sosialisasi
    f.piranti moneter
    g.jaringan kantor
    h.pelayanan
    2.keterkaitan institusi pendidikan dalam pengembangan bank syariah
    3.penutup
    pengembangan perbankan syariah pada dasarnya merupakan bagian penting yg tidak terpisahkan dari pengembangan ekonomi islam

  11. Posted by galang anjas s dan teguh nurwantoro on Juni 10, 2010 at 3:27 am

    ANALISA PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PERBANKAN SYARIAH DENGAN PERBANKAN KONVENSIONAL.

    NAMA KEL. : TEGUH NURWANTORO (0702010003) & GALANG ANJAS S (0702010035)

    ABSTRAK
    Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja keuangan antara penbankan syariah, dalam hal ini adalah bank syariah yang telah berdiri lebih dari lima tahun dengan bank umum konvensional yang dipilih untuk dibandingkan dengan bank umum syariah adalah bank konvensional dengan total aset sebanding dengan bank umum syariah. informasi yang digunakan untuk mengukur kinerja bank adalah berdasarkan laporan publikasi keuangan bank selama periode juni 2002 – maret 2008 dengan menggunakan rasio keuangan. rasio keuangan yang digunakan terdiri dari CAR, OPL, ROA, ROE, BOPO, dan LDR.

  12. Posted by supriyasih on Juni 21, 2010 at 8:13 am

    PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA, RASIO PROFITABILITAS, DAN BETA AKUNTANSI TERHADAP BETA SAHAM SYARIAH DI BURSA EFEK JAKARTA

    Di susun oleh:

    Sugeng Riyadi 0602010080
    Supriyasih 0602010015
    Tiyas Puspita Rini 0602010020

    PROGRAM STUDI MANAJEMEN S1
    FAKULTAS EKONOMI
    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
    2010

    PENDAHULUAN

    Pasar modal salah satu instrumentasi sistem keuangan merupakan salah satu tolak ukur perkembangan ekonomi suatu negara. Perkembangan pasar modal di indonesia telah memperlihatkan kemajuan seiring dengan perkembangan ekonomi indonesia. Seiring perkembangan pasar modal, maka dikembangkan pula pasar modal syariah yaitu pasar modal yang menggunakan prinsip, prosedur, asumsi, instrumentasi, dan aplikasi bersumber dari nilai epistemologi islam. Pasar modal, baik pasar modal konvensional maupun pasar modal syariah memperdagangkan beberapa jenis sekuritas yang mempunyai tingkat tesiko yang berbeda.
    Saham merupakan salah satu sekuritas diantara sekuritas-sekuritas lainnya yang mempunyai tingkat risiko yang tinggi. Resiko tinggi tercermin dari ketidakpastian return yang akan diterima oleh investor di masa datang. Hal ini sejalan dengan definisi investasi menurut Sharpe dalam (Tandelilin, 2001), bahwa investasi merupakan komitmen dana dengan jumlah yang pasti untuk mendapatkan return yang tidak pasti di masa depan. Dengan demikian, ada dua aspek yang melekat dalam suatu investasi yaitu tingkat pengembalian (return) yang diharapkan dan risiko tidak tercapainya return yang diharapkan. Risiko yang tinggi pada saham berhubungan dengan kondisi ekonomi makro, seperti resensi ekonomi, gejolak politik, dan lain sebagainya serta industri dan karakteristik perusahaan.
    Risiko dari sekuritas berupa risiko spesifik dan risiko sistematik. Risiko spesifik dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang baik. Risiko sistematik tidak dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang baik., dikarenakan risiko tersebut terjadi di luar perusahaan. Risiko sistematik juga disebut dengan beta karena beta merupakan pengukur dari risiko sistematik. Risiko sistematik dapat terjadi dikarenakan faktor ekonomi makro, industri dan karakteristik perusahaan. Untuk mengukur risiko digunakan koefisien beta. Beta suatu sekuritas merupakan hal yang penting untuk menganalisis sekuritas atau portofolio. Beta suatu sekuritas menunjukkan kepekaan tingkat keuntungan suatu sekuritas terhadap perubahan-perubahan pasar.
    Penelitian untuk mengetahui variabel-variabel ekonomi makro, industri dan karakteristik perusahaan yang mempengaruhi beta syariah merupakan hal yang menarik untuk dilakukan karena sifat dari risiko ini yang akan selalu melekat pada setiap investasi terutama investasi dalam setiap saham, baik saham biasa maupun saham yang sesuai dengan kaidah syariah. Penelitian-penelitian sebelumnya hanya melihat pengaruh variabel makro dan karakteristik perusahaan pada beta saham biasa. Berdasarkan hal tersebut, maka menarik untuk diteliti kembali variabel-variabel ekonomi makro, industri dan penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel makro (kurs rupiah terhadap dollar dan PDB), variabel-variabel industri (nilai akhir yang diharapkan dari industri dan jenis industri) dan variabel-variabel karakteristik perusahaan (dividen payout, leverage, earning variability, accounting Beta, cyclicality, profotabilitas, dan price book value) baik secara bersama-sama maupun parsial terhadap Beta saham syariah.

    LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

    Pasar Modal Syariah
    Pasar modal syariah adalah pasar modal yang dijalankan dengan konsep syariah, di mana setiap perdagangan surat berharga mentaati ketentuan transaksi sesuai dengan basis syariah. Lembaga keuangan yang pertama kali menaruh perhatian didalam mengoperasikan portofolionya dengan manajemen portofolio syariah di pasar modal syariah adalah Amanah Income Fund yang didirikan bulan Juni 1986 oleh para anggota the North American Islamic Trust yang bermarkas di Indiana, Amerika Serikat. Wacana mengenai pasar modal syariah ini disambut dengan antusias di kalangan intelektual muslim lainnya di seluruh belahan bumi ini mulai dari kawasan Timur Tengah, Eropa, Asia dan Amerika. Beberapa negara yang proaktif dalam menyambut kedatangan para investor muslim maupun investor yang ingin memenfaatkan pasar modal yang berprinsipkan syariah ini dan yang konsisten di dalam menerapkan syariah Islam dalam sendi kehidupannya adalah Bahrain Stock di Bahrain, Amman Financial Market di Amman, Muscat Securities Kuwait Stock Exchange di Kuwait dan Kuala Lumpur Stock Exchange di Malaysia.
    Perkembangan pasar modal di indonesia juga mengikuti perkembangan di negara-negara lain dengan membentuk pasar modal syariah. Hadirnya pasar modal syariah yang diluncurkan pada bulan Juli 2000 ditandai dengan berdirinya jakarta Islamic Index tidak terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang syariah.

    Instrumen Pasar Modal Syariah
    Investasi keuangan syariah harus disertai dengan kegiatan sektor rill atau transaksi yang mendasari (underlying transaction). Untuk itu, penciptaan instrumen investasi syariah dalam pasar modal adalah dari sekuritas aset/proyek (asset securitisation) yang merupakan bukti penyertaan, sekuritas utang (debt securitisation) atau penerbitan surat utang yang timbul atas transaksi jual beli (al dayn) atau merupakan sumber pendanaan bagi perusahaan, sekuritas modal (equity securitisation), merupakan emisi surat berharga oleh perusahaan emiten yang telah terdaftar dalam pasar modal syariah dalam bentuk saham.
    Adapun instrumen pasar modal yang sesuai dengan syariah dalam pasar perdana adalah muqaradah/mudharabah funds, saham biasa (common stock), muqaradah/mudharabah Bonds. Karena instrumen pasar modal tersebut diperdagangkan di pasar perdana, maka prinsip dasar pasar perdana adalah semua efek harus berbasis pada harta atau transaksi rill, tidak boleh menerbitkan efek utang untuk membayar kembali utang (bay al dayn bi al dayn), dana atau hasil penjualan efek akan diterima oleh perusahaan, hasil investasi akan diterima pemodal (shohibul maal), tidak boleh memberikan jaminan hasil yang semata-mata merupakan fungsi dari waktu harapan (2001). Sedangkan untuk pasar sekunder ada beberapa tambahan dari prinsip dasar pasar perdana, yaitu tidak boleh membeli efek berbasis trend (indeks), suatu efek dapat diperjualbelikan namun hasil (manfaat) yang diperoleh dari efek tersebut berupa kupon.

    Saham Syariah
    Saham syariah merupakan salah satu bentuk dari saham biasa yang memiliki karakteristik khusus berupa kontrol yang ketat dalam hal kehalalan ruang lingkup kegiatan usaha. Jakarta Islamic Indeks adalah indeks yang dikeluarkan oleh PT. Bursa Efek Jakarta yang merupakan subset dari Indeks Harga Saham Gabungan. Jakarta Islamic Indeks diluncurkan pada tanggal 3 Juli 2000 dan menggunakan tahun 1 Januari 1995 sebagai base date dengan nilai 100. bagi perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks paling tidak mereka dinilai telah memenuhi penyaringan syariah dan kriteria untuk indeks. Penyaringan secara syariah yang difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional No. 20 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah.
    Kriteria untuk indeks adalah kapitalisasi pasar (market capitalization) dari saham dimana Jakarta Islamic Indeks menggunakan kapitalisasi pasar harian rata-rata selama satu tahun. Perdagangan saham di bursa, Jakarta Islamic Indeks menggunakan rata-rata harian perdagangan reguler saham di bursa selama satu tahun. Dari kedua penelitian tersebut untuk perusahaan emiten dapat digolongkan dalam daftar Jakarta Islamic Indeks melalui prosedur teknis, yaitu saham dari emiten dipilih yang tidak bertentangan dengan syariah dan telah listing minimum 3 bulan, kecuali saham-saham tersebut termasuk 10 besar kapitalisasi pasar. Saham dipilih dengan kapitalisasi pasar tertinggi sejumlah 60 saham. Saham dipilih dengan nilai transaksi rata-rata tertinggi harian sejumlah 30 saham variabel dependen adalah risiko sistematik atau Beta Saham Syariah.
    Variabel independen adalah variabel-variabel ekonomi makro, industri dan karakteristik perusahaan. Penganbilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Perusahaan yang dijadikan sampel merupakan perusahaan yang memenuhi kriteria berikur:
    1. Saham emiten yang halal berdasarkan ketentuan syariah, kehalalansuatu saham disahkan oleh Dewan Pengawas Syariah.
    2. Saham-saham tersebut terdaftar di Jakarta Islamic Indeks.
    3. Perusahaan masuk 30 besar dalam Jakarta Islamic Indeks minimal 3 kali dari periode Januari 2001 sampai Desember 2004.
    4. perusahaan emiten menerbitkan laporan keuangan tahunan selama periode Januari 2001 sampai Desember 2004.
    Pengukuran kurs mata uang ditentukan olek Bank Indonesia. Untuk pengukuran pendapatan Domestik Bruto (PDB) diukur dari nilai seluruh output atau produk dalam perekonomian suatu negara. Nilai PDB dihitung oleh pemerintah. Variabel-variabel karakteristik dan jenis industri yang dijadikan penelitian ini adalah nilai perkalian antara earning per share dan price earning ratio atau expected ending value of industry serta jenis industri yang ada pada sampel penelitian.
    Variabel-variabel pada karakteristik perusahaan yang dijadikan penelitian ini adalah dividend payout, leverage, earning varibi;ity, accounting beta, cyclicality, profitabilitas, dan price book ratio. Pengukuran variabel-variabel ini ditentukan berdasarkan nilai dividen, total hutang jangka, total aktiva, harga saham, laba perusahaan, laba akuntansi dan indeks laba pasar, harga saham serta nilai buku.

    Pengukuran Beta ini diukur menggunakan persamaan dari market model dengan persamaan:
    Ri = ai+ biRm +et
    Perhitungan return pasar dilakukan menggunakan persamaan:
    Rm = (Rm – Rmt-1) /Rmt-1
    Dimana:
    Untuk return saham Ri dihitung berdasarkan harga saham individual tahunan.
    Ri = (Pit – Pit-1)/ Pit-1

    ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
    Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel independen digunakan uji anova atau F-test. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel independen digunakan t-test. Model pengujian variabel-variabel makro ekonomi, karakteristik dan jenis industri serta karakteristik perusahaan terhadap beta saham syariah dapat ditunjukan sebagai berikut.
    bi= ai+ a1X1 + a2 X2 + b1 Y1 + b1 Y2 + c1Z1 + c2Z2 + c3Z3 + c4Z4 + c5z5 + c6Z6 + c7Z7 + ei
    dimana:
    bi = beta saham syariah
    ai = konstanta
    ai, a2 = koefisien variabel kurs dan PDB
    bi, b2 = koefisien variabel nilai akhir yang diharapkan dan jenis industri
    c1, c2, c3, c4, c5, c6, c7 = koefisien variabel-variabel karakteristik perusahaan
    X1, X2 = variabel kurs dan PDB
    Y1, Y2 = variabel nilai akhir yang diharapkan dan jenis industri
    Z1, Z2, Z3, Z4, Z5, Z6, Z7 = variabel-variabel karakteristik perusahaan
    e = kesalahan pengganggu
    Sampel perusahaan yang diambil pada penelitian ini sebanyak 30 perusahaan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan selam periode Januari 2001 sampai Desember 2004. Analisis deskriptif dilakukan untuk menghitung nilai mean, maksimum dan minimum pada variabel independen dan variabel dependen.
    KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN

    Kesimpulan
    Beta saham syariah merupakan pengukur risiko sistematik dari suatu saham atau portofolio pasar yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks. Beta pasar yang diukur berdasar model pasar pada periode Januari 2001 sampai dengan Desember 2004 menghasilkan beta rata-rata sebesar 0,51645. Hal ini menunjukan bahwa secara umum saham perusahaan yang tergabung dalam Jakarta Islamic Indeks merupakan devensive stock atau risiko sistematik yang lebih kecil dibanding risiko pasar. Pengujian regresi secara linear berganda menghasilkan F statistik sebesar 16,015 dengan tingkat signifikansi 0,00%.
    Hal Keterbatasan
    Penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain sebagai berikut:
    1. Variabel-variabel ekonomi makro dan industri yang digunakan hanya beberapa saja, sedangkan masih ada beberapa variabel-variabel ekonomi makro dan industri yang lain.
    2. Sampel yang digunakan hanya 30 perusahaan.
    3. Peroide penelitian hanya 4 tahun dengan jumlah sampel yang sedikit karena munculnya Jakarta Islamic Indeks yang juga masih relatif baru.
    Saran-saran
    1) Bagi penelitian selanjutnya perlu menambah variabel-variabel ekonomi makro dan industri atau mengganti dan menambah variabel-variabel karakteristik perusahaan yang lain yang dimungkinkan relevan dengan Beta saham syariah dan menambah periode waktu penelitian.
    2) Bagi penelitian selanjutnya perlu dilakukan pengujian variabel-variabel makro ekonomi, industri dan karakteristik perusahaan dengan Beta saham non syariah dan menguji perbedaan antara Beta saham syariah dengan Beta saham non syariah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: